
Selagi Alyssa dan Nathan menikmati makan malam mereka, beberapa orang mulai memainkan musik romantis. Alyssa begitu bahagia malam itu, selain bisa menghabiskan waktu dengan orang terkasihnya, makanan yang juga begitu lezat membuatnya semakin bahagia.
“Sayang, aku mau ke toilet sebentar, mau benerin lipstikku. Toiletnya dimana?” ucap Alyssa setelah menghabiskan makanannya.
“Emang kenapa sama lipstikmu? Kan masih menempel di bibirmu”.
“Iih, kamu ini! Walaupun masih nempel tapi rasanya nggak tenang kalau nggak dapet bercermin untuk memastikannya. Cepetan kasi tau aku toiletnya dimana?”.
“Itu di ujung sana belok kanan” jawab Nathan sambil menunjukkan Alyssa arah ke toilet.
Alyssa berjalan ke toilet meninggalkan Nathan sendirian. Saat Nathan menunggu Alyssa, tiba-tiba ponsel Alyssa yang ditinggalkannya di atas meja berdering tanda adanya panggilan masuk. Nathan hanya memandangnya sekilas dan kembali memperhatikan para pemain musik yang tengah beraksi memainkan musik romantis mereka. Ponsel Alyssa berbunyi lagi dan sedikit membuat Nathan terganggu.
“Siapa yang nelpon sih? Ganggu aja!” batinnya.
Nathan menyambar ponsel kekasihnya itu dan melihat nama penelpon yang sudah membuatnya merasa terganggu.
“Rangga? Siapa Rangga?” Nathan masih menatap ponsel Alyssa yang berdering itu tanpa menjawab panggilannya.
“Apa dia temannya Alyssa di kampung? Ah, sebaiknya nanti aku tanyakan saja pada Alvin. Siapa tau ini memang temannya di kampung”.
Nathan meletakkan ponsel itu kembali pada tempatnya. Tapi lagi-lagi ponselnya berdering dan panggilan itu dari Rangga lagi.
“Sebenarnya siapa sih Rangga ini? Kenapa ngotot sekali menelepon pacar orang?” Nathan semakin penasaran dengan Rangga si penelepon pacarnya itu.
Ponsel Alyssa masih terus berbunyi hingga membuat kesabaran Nathan habis. Ia mengambil ponsel Alyssa dan menonaktifkannya karena merasa terganggu dengan panggilan itu.
“Siapa sebenarnya Rangga? Apa hubungannya dengan Alyssa? Aarrgghh.. benar-benar mengganggu malam romantisku saja. Akan kutanyakan langsung pada Alyssa, tapi tidak sekarang” katanya dalam hati.
Alyssa sudah datang dari toilet dengan lipstik yang sudah dipolesnya lagi pada bibirnya itu.
”Maaf menunggu lama” katanya sembari duduk di kursinya.
“Sayang? Kamu mau berdansa?” tanya Nathan.
“Eh.. aku nggak bisa dansa” tolak Alyssa.
“Nanti aku ajarin. Ayo kita dansa!”
Nathan berdiri dari duduknya dan menghampiri Alyssa. Ia mengulurkan tangannya pada Alyssa dan dengan ragu-ragu Alyssa menerimanya. Nathan mengajak Alyssa maju ke depan para pemain musik yang tengah memainkan musik romantisnya itu.
__ADS_1
Diletakkannya tangan Alyssa pada pundaknya dan tangannya sendiri merangkul pinggang Alyssa. Ia menuntun Alyssa untuk mengikuti langkahnya ke kanan, kiri, depan dan belakang. Tidak butuh waktu lama bagi Alyssa untuk mempelajari gerakannya. Ia sudah mulai terbiasa dengan langkah kaki Nathan dan mulai menikmatinya.
Nathan dan Alyssa terhanyut dalam alunan musik romantis yang tengah dimainkan oleh para pemain musik. Nathan mengeratkan pelukannya di pinggang Alyssa dan mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi dengan kekasihnya itu. Kini wajah mereka sudah sangat dekat sampai tidak berjarak. Alyssa secara reflek memejamkan matanya ketika Nathan semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Alyssa. Mereka berciuman di depan para pemain musik yang melihat adegan tak terduga itu dengan malu-malu.
Alyssa sudah melupakan rasa malunya di depan umum. Ia begitu menikmati ciuman lembut dari Nathan. Suasana malam itu membuat dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu melupakan para pemain musik yang kini tersenyum sendiri melihat pasangan itu berciuman.
Para pelayan yang ternyata sedari tadi mengintip mereka dari belakang tersenyum melihat keromantisan pasangan itu. Semua pelayan perempuan yang ada disana merasa cemburu melihat Alyssa yang begitu beruntung bisa menggaet hati pria setampan Nathan.
Mereka telah selesai berdansa dan kembali ke tempat duduknya. Nathan tersenyum bahagia kepada Alyssa yang pipinya kini sudah merona merah.
“Sepertinya kamu harus memperbaiki lipstikmu lagi sayang” ucap Nathan.
“Apa lipstikku belepotan?” tanya Alyssa sedikit panik.
“Nggak! Malah sekarang makin bagus, bibirmu jadi kelihatan lebih seksi” goda Nathan.
“Kamu ini ngomong apaan sih Nat? Aku kan jadi malu”.
“Malu? Tadi pas ciuman di depan kenapa kamu nggak malu? Kenapa malunya malah sekarang?” tanya Nathan dengan suara keras.
“Nathan! Ngomongnya jangan keras-keras. Nanti kedengeran!”
“Ih, kamu ini nggak bisa dibilangin ya!” Alyssa kesal dengan sikap Nathan itu.
“Kalau wajahmu cemberut kaya gitu makin bikin aku tergila-gila sama kamu Sa”.
“Dasar gombal!”.
“Siapa yang gombal? Aku serius tau!”.
“Kamu yang gombal! Dasar tua-tua keladi!” ledek Alyssa.
“Kenapa kamu bilang aku tua?”
“Itu, rambutmu sudah beruban semuanya! Kan artinya kamu udah tua” kata Alyssa sambil menunjuk rambut Nathan.
“Hahaha.. nggak lucu!” Nathan mulai kesal dengan Alyssa. “Asal kamu tau ya, umurku baru akan dua puluh tujuh tahun beberapa jam lagi”.
“Apa? Jadi hari ini ulang tahunmu?”
__ADS_1
“Bukan hari ini, tapi besok! Dan beberapa jam lagi hari ini akan berganti menjadi besok!”
“Kenapa kamu nggak bilang kalau acara makan malam ini untuk ulang tahunmu? Aku kan jadi nggak bawa kado buat kamu”.
“Aku nggak mengharapkan kado apa-apa darimu Sa. Aku cuma pengen ngelewatin malam ini bareng sama kamu. Itu aja udah cukup!”
“Ya ampun Nathan, aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku mencari tau tanggal lahirmu di intetnet, semua informasi tentangmu pasti ada disana” kata Alyssa merasa sangat bersalah.
“Nggak apa-apa Sa, yang terpenting hari ini kamu udah bikin aku bahagia”.
Walaupun Nathan berkata begitu tapi Alyssa masih tetap merasa tidak enak hati pada kekasihnya itu. Betapa bodohnya dia yang tidak tau tanggal ulang tahun pacarnya sendiri yang sudah tersebar sejak lama di internet.
“Sayang” Nathan menggenggam tangan Alyssa. Ia melihat ekspresi bersalah di wajah wanita itu. “Kamu jangan merasa bersalah begitu. Aku sungguh tidak apa-apa kalau tidak mendapatkan hadiah darimu. Bagiku kamu adalah hadiah terindah dalam hidupku”.
Alyssa menatap wajah tulus Nathan. Walaupun saat ini rambutnya berubah menjadi putih, tapi Nathan terlihat semakin tampan. Alyssa mengangguk dan tersenyum pada Nathan.
Jam sebelas malam Nathan mengajak Alyssa untuk mengobrol di taman yang ada di restoran tersebut. Alyssa lagi-lagi dibuat takjub dengan restoran milik tante Maya itu. Bagaimana tidak, taman restoran itu begitu indah meskipun dilihat pada malam hari. Mereka berdua duduk di sebuah bangku taman yang dikelilingi oleh puluhan lilin yang membentuk hati.
Saat jarum jam menunjukkan angka dua belas lewat satu detik, Alyssa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada lelaki yang kini ada disampingnya dan memeluknya itu.
“Selamat ulang tahun sayang” bisiknya.
Kembang api menyala di atas langit yang gelap. Alyssa sangat terkejut sekaligus senang melihatnya.
“Sayang, hari ini adalah ulang tahunmu. Tapi kenapa aku merasa malah ini seperti ulang tahunku? Kamu memberiku begitu banyak kejutan hari ini. Tapi aku tidak memberimu hadiah apa pun”.
“Kamu mau memberiku hadiah?” tanya Nathan menatap Alyssa di sampingnya. “Kalau begitu cium aku sekarang”.
“Katanya tadi kamu tidak mengharapkan hadiah dariku”.
“Aku memang tidak mengharapkannya. Tapi kamu sepertinya ingin sekali memberiku hadiah. Jadi aku minta hadiah ciuman darimu sekarang”.
Alyssa memandang sesaat laki-laki pujaannya itu. Nathan juga menatapnya dengan dalam dan tanpa aba-aba Alyssa langsung mencium bibir kekasihnya. Nathan yang sedikit terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari Alyssa langsung tersenyum bahagia dan ia memeluk Alyssa semakin erat dan semakin ******* bibir kekasihnya itu.
Nathan
***
__ADS_1