Aktor Tampan Pujaan Hati

Aktor Tampan Pujaan Hati
Flashback


__ADS_3

Flashback


Alyssa berdiri di pinggir jalan untuk mencari taksi. Tatapan matanya kosong, entah apa yang dipikirkannya. Air matanya sudah mengering di pipinya namun masih terlihat jika ia baru saja menangis.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kemana aku harus pergi?” Alyssa benar-benar tidak tahu ia harus kemana. Tidak mungkin baginya untuk pulang ke rumah, ia tidak ingin membuat kedua orangtuanya khawatir.


Selagi ia memikirkan tempat tujuannya tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di depannya. Suara laki-laki dari dalam mobil memanggil namanya.


“Alyssa!”


Alyssa menengok ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Ia melihat dari dalam mobil om Rudi, ayah Nathan tersenyum padanya.


“Kamu mau kemana nak? Kenapa membawa koper?” tanya om Rudi dengan senyuman ramahnya.


“Aku.. aku.. aku mau pulang om” jawab Alyssa berbohong.


Om Rudi tahu ada yang tidak beres dengan Alyssa. Meskipun berusaha untuk tersenyum di depan om Rudi tapi raut wajahnya tetap mengatakan kalau ia sedang ada masalah.


“Masuklah nak, om mau bicara sebentar denganmu!”


“Tapi om, aku harus..”


“Sebentar saja” pinta om Rudi.


Seorang pria turun dari mobil dan membukakan pintu belakang mobil pada Alyssa.


“Silakan masuk nona” kata pria itu sambil membungkuk mempersilakan Alyssa masuk.


Alyssa tampak ragu tapi dilihatnya wajah om Rudi yang masih terus tersenyum padanya akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di samping om Rudi. Pria tadi menaruh koper Alyssa di bagasi belakang lalu ia masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


“Kita ke restoran biasa!” seru om Rudi pada pria yang mengemudikan mobilnya.


“Baik tuan!”


“Maaf om, apa yang ingin om bicarakan dengan saya?” tanya Alyssa.


“Kita bicara kalau sudah sampai di restoran ya” jawab om Rudi dengan senyum yang sangat menenangkan bagi Alyssa.


Selama perjalanan menuju restoran Alyssa hanya diam saja. Pandangannya tertuju pada pemandangan di luar mobil. Setelah dua puluh menit perjalanan mereka akhirnya sampai di sebuah restoran yang sangat mewah. Om Rudi mengajaknya masuk ke dalam restoran itu.

__ADS_1


“Ben, batalkan pertemuan siang ini!” seru om Rudi lagi pada pria yang mengemudikan mobilnya tadi dan sekarang berjalan mengikuti om Rudi di belakang.


“Iya tuan!” jawabnya.


Dengan cepat Ben menelpon seseorang untuk membatalkan pertemuan yang tadi dimita oleh om Rudi. Alyssa yakin pria bernama Ben ini adalah orang kepercayaan om Rudi. Selesai menelpon, Ben mengarahkam om Rudi untuk ke ruang VIP restoran tersebut dan Alyssa hanya mengikuti kemana om Rudi melangkah.


Alyssa dan om Rudi sudah duduk di tempat yang disediakan. Sementara Ben setia berdiri di belakang om Rudi. Makanan sudah tersaji di atas meja dan itu semua untuk Alyssa, om Rudi hanya memesan minuman untuk dirinya sendiri.


“Kamu makanlah dulu!” kata om Rudi.


“Tapi kenapa om tidak ikut makan?”


“Om masih kenyang” lagi-lagi om Rudi menjawab sambil tersenyum pada Alyssa. Alyssa bisa merasakan kehangatan seorang ayah pada senyum om Rudi.


Alyssa akhirnya memakan makanan itu walau pun merasa sedikit tidak nyaman karena ia makan sendiri sementara om Rudi dan Ben hanya memperhatikannya menghabiskan makanan. Meski merasa saat ini sedang tidak baik dan kacau tapi Alyssa berpikir ia harus makan untuk menghargai om Rudi. Bagaimanapun ia merasa om Rudi adalah sosok ayah yang penyayang dilihat dari sorot matanya yang tulus.


“Aku sudah selesai om!” ucap Alyssa yang memang sudah menghabiskan makanannya.


“Baiklah, sekarang ceritakan kenapa kamu mau pulang!” kata om Rudi dengan tenang.


Alyssa belum menjawab. Ia melirik sedikit ke arah Ben yang masih berdiri di belakang om Rudi tanpa ekspresi. Alyssa merasa tidak nyaman jika harus bercerita di depan Ben. Om Rudi melihat sekilas kalau Alyssa melirik ke arah Ben, kemudian ia tersenyum dan menyuruh Ben untuk keluar.


“Baik tuan!” Ben menunduk pada tuannya dan berjalan meninggalkan om Rudi dan Alyssa berdua.


“Sekarang ceritalah! Om tahu pasti kamu ada masalah kan?”


“Bagaimana om bisa tahu?” tanya Alyssa terheran.


“Matamu sembab, kelihatan kalau habis menangis. Dan kamu membawa kopermu, om jadi yakin kamu ada masalah dan ini pasti berhubungan dengan Nathan kan?”


“Bagaimana om Rudi bisa tahu kalau masalahku dengan Nathan? Apa aku harus berkata jujur pada om Rudi?” batin Alyssa.


“Alyssa?” Om Rudi memanggil Alyssa yang terlihat melamun lagi.


“Eh iya om! Maaf saya melamun” Alyssa menunduk.


“Tidak apa-apa. Sekarang ceritakan masalahmu. Siapa tahu om bisa bantu”.


Awalnya Alyssa tidak ingin memberitahu om Rudi tentang masalah yang sebenarnya. Tapi begitu melihat wajah om Rudi yang menenangkan akhirnya ia memutuskan untuk berkata jujur. Lagi pula hubungan Nathan dan om Rudi sedang tidak baik, jadi pasti ia tidak akan memberitahu Nathan jika saat ini mereka sedang bertemu. Alyssa mulai menceritakan semua kejadian yang ia alami mulai dari pesta di villa Rangga sampai kejadian di apartemen Nathan. Ia menceritakan dengan apa adanya tanpa ada yng dilebih-lebihkan.

__ADS_1


“Lalu apa yang dilakukan Nathan padamu?” tanya om Rudi ketika tiba-tiba Alyssa menghentikan ceritanya.


Sangat berat bagi Alyssa untuk menceritakan perlakuan Nathan terhadapnya. Air matanya kembali membasahi pipinya. Ia tak kuat menahan rasa sakit yang dilakukan Nathan.


“Alyssa, kenapa menangis? Apa yang dilakukan Nathan?”


“Dia... dia.. Nathan sudah melecehkanku om!” Alyssa semakin terisak setelah mengatakannya.


“Alyssa, om minta maaf karena Nathan telah berlaku tidak pantas terhadapmu. Dan om pastikan kalau Nathan akan bertanggung jawab atas semua perbuatannya”.


“Om tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salah om! Dan apa saya boleh minta tolong pada om?”


“Apa?”


“Saya minta tolong supaya om tidak memberitahu Nathan kalau kita bertemu”.


“Tapi nak, Nathan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya terhadapmu”.


“Tidak perlu. Saya sudah tidak ingin melihat wajahnya lagi!”


“Om mengerti saat ini kamu sangat membencinya. Tapi bagaimana jika kamu hamil?”.


Alyssa tidak pernah memikirkan dan membayangkan jika dirinya hamil. Dan apa yang akan terjadi jika dirinya hamil? Bagaimana ia akan memberitahu orangtuanya? Apa ia harus menggugurkan kandungannya jika itu terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di benak Alyssa. Tapi rasa benci pada Nathan sudah menyelimuti dirinya. Ia tidak ingin lagi melihat wajah laki-laki itu.


“Om akan mencarikanmu tempat tinggal, kamu tinggalah disana” ucap om Rudi kemudian.


“Tapi om, saya tidak mau berurusan lagi dengan Nathan. Maaf, tapi saya sangat membencinya om!”


“Alyssa, kamu boleh membenci Nathan tapi pikirkan lah baik-baik. Kalau kamu hamil itu berarti kamu mengandung anak Nathan yang tidak lain itu juga cucu om! Jadi om harus menjaga kamu juga dan memastikan kamu hidup dengan baik. Jadi jangan menolak!”


Alyssa tampak berpikir sejenak. Ia sejujurnya ingin sekali menolak saran dari om Rudi tapi begitu melihat sorot mata om Rudi yang penuh dengan ketulusan akhirnya Alyssa terenyuh.


“Baiklah om! Tapi hanya sebulan! Jika bulan depan saya bisa memastikan diri saya tidak hamil, saya mohon om bisa membiarkan saya pergi jauh dari Nathan. Dan satu lagi, saya harap om tidak akan memberitahu Nathan tentang ini”.


“Iya, om tidak akan memberitahunya. Tapi jika kamu hamil, om harus memberitahunya!”


Alyssa mau tidak mau menyetujui apa yang dikatakan oleh om Rudi. Kini ia hanya bisa berharap supaya dirinya tidak sampai hamil agar ia bisa pergi jauh dari kehidupan Nathan dan melupakan semua tentangnya.


***

__ADS_1


__ADS_2