
“Ayo Nat, katanya tadi mau anterin aku pulang” Alyssa sudah mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.
Nathan melangkah mendekati Alyssa dan mengambil tas yang sudah digenggamnya. Nathan meletakkan kembali tas itu di meja. “Kenapa buru-buru sih Sa?” tanyanya.
“Ini kan udah malam Nat”.
“Kalau kamu pulang sekarang terus siapa yang beresin semua ini?” kata Nathan berusaha mencari alasan agar Alyssa bisa berada lebih lama bersamanya.
“Benar juga ya, ini semua masih berantakan. Males banget kalau besok harus kesini cuma buat beresin ini doang, mending beresin sekarang aja biar besok bisa libur” katanya dalam hati.
Besok memang Nathan memberikan Alyssa libur sehari karena memang dirinya tidak ada jadwal apapun. Dan rencananya besok juga Nathan akan bertemu dengan Rangga untuk membicarakan tawaran film yang diberikan oleh Rangga.
Alyssa membersihkan piring, gelas dan sisa makanan bekas pesta tadi. Dengan cepat ia membersihkannya karena ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Sementara Nathan masih berpikir keras untuk mencari alasan lagi agar Alyssa bisa lebih lama bersamanya.
Sejak tadi perasaan Nathan tidak karuan. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Ingin rasanya ia mencurahkan seluruh perasaannya pada Alyssa malam itu juga. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Alyssa sudah selesai dengan pekerjaannya, ia menghampiri Nathan yang sedang duduk di ruang tengah.
“Semua udah aku beresin. Sekarang anter aku pulang Nat”.
Tapi Nathan tidak merespon perkataan Alyssa tadi. Ia masih merasa tidak tenang jika belum mengungkapkan perasaannya pada Alyssa.
“Nathan? Kamu denger aku nggak?” tanya Alyssa lagi. “Kalau kamu nggak mau anterin aku pulang, aku pesen taxi online aja” lanjutnya.
“Ya aku denger kok Sa” jawab Nathan kemudian.
“Ya udah ayo anter aku pulang!”
“Emm.. Sa, bisa nggak kamu disini lebih lama lagi?” tanya Nathan ragu-ragu.
“Apa lagi sih Nat? Kan besok kamu nggak ada syuting, jadi nggak ada yang perlu aku siapin buat kamu” Alyssa mulai kesal.
“Aku nggak nyuruh kamu nyiapin keperluan aku kok!”
“Ya terus apa dong?”
“Yaa.. kamu diem disini bentar lagi ya. Nanti aku janji bakalan anterin kamu pulang”.
__ADS_1
Alyssa menyipitkan matanya memandang ke arah Nathan dengan tatapan curiga.
“Kamu nggak punya pikiran macem-macem kan Nat?” tanya Alyssa penuh selidik.
“Apaan sih kamu Sa?! Aku tuh bukan laki-laki brengs*k tau!”.
“Terus kenapa kamu nyuruh aku diam disini lebih lama?”
“Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu Sa!”
Jantung Nathan mulai bedetak lebih cepat. Keringat dinginnya mulai keluar dan ia merasa semakin gugup. Tidak pernah ia merasakan hal yang membuatnya bisa jadi segugup ini sebelumnya. Bahkan ketika dulu ia harus syuting adegan yang sangat ekstrim ia tidak segugup ini. Kalau boleh ditukar ia akan memilih melakukan adegan lompat dari ketinggian tanpa pengaman daripada harus berada di situasi seperti ini.
Alyssa masih tetap berdiri dan tidak mau duduk di samping Nathan. Ia tidak bisa menebak apa yang ingin dikatakan Nathan. Yang ada dipikirannya hanyalah Nathan akan berbuat macam-macam padanya, jadi dia harus waspada pada pria itu.
“Kalau pengen ngomong sesuatu cepetan! Ini udah malam” ucap Alyssa.
“Kamu duduk dulu dong, baru aku mau ngomong”.
Dengan ragu-ragu akhirnya Alyssa memberanikan diri duduk di samping Nathan. Ia duduk di ujung sofa agak sedikit jauh dari Nathan.
“Duduknya emang harus disitu ya?” tanya Nathan heran.
“Sebenarnya tuh pikiran kamu yang macam-macam, bukan aku!” balas Nathan.
“Ya udah sekarang cepetan ngomong! Aku hitung sampai tiga, kalau nggak aku pulang sendiri aja. Satu.. dua..” Alyssa mulai menghitung.
“Ehhh, kenapa pakai dihitung segala sih?! Kamu pikir gampang apa bakalan ngomongin ini!”.
“Tinggal ngomong aja apa susahnya sih?”.
Mereka mulai bertengkar kecil, Alyssa sangat kesal dengan sikap Nathan yang mengulur-ulur waktu itu. Padahal tinggal ngomong aja kan gampang, pikir Alyssa.
Nathan mendekatkan dirinya pada Alyssa. Ia duduk sangat dekat dengan Alyssa dan membuat Alyssa agak menjauhkan tubuhnya lagi.
“Dia kenapa duduknya jadi deket gini sih? Jangan bilang dia mau nyium aku lagi” batin Alyssa.
Terdiam sejenak sambil menatap Alyssa, jantung Nathan berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Alyssa. Jatungnya berdetak lebih cepat ketika Nathan menatapnya begitu dekat.
__ADS_1
“Sa, aku mau jujur sama kamu” kata Nathan dengan lembut. “Nggak tau kenapa dari pertama kali kamu kerja sama aku, kamu itu buat aku ngerasa nyaman. Entah sejak kapan aku juga nggak tau, tapi aku sayang sama kamu Sa! Kamu mau kan jadi pacar aku?” kata-kata itu keluar dari mulut Nathan. Ia pikir setelah ia mengucapakannya dirinya akan merasa lebih tenang. Tapi ternyata ia salah, malah sekarang dirinya merasa semakin tidak tenang.
Nathan masih menunggu jawaban dari Alyssa. Detik demi detik berlalu terasa begitu lama bagi Nathan. Ia masih belum merasa tenang jika Alyssa belum memberikannya jawaban.
“Kamu sadar kan ngomong kaya gini? Nggak lagi mabuk gara-gara minuman tadi kan?” tanya Alyssa.
“Aku nggak akan mabuk dengan minuman yang sedikit itu” jawab Nathan. Ia menggenggam tangan Alyssa dan berkata lagi “Aku nungguin jawaban dari kamu Sa”.
Alyssa tidak tau harus menjawab apa. Sebenarnya ia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan. Tapi ia masih takut jika Nathan hanya akan menjadikannya sebagai pelampiasan saja. Karena menurut Alyssa terlalu cepat bagi Nathan untuk melupakan Nadia yang sudah dipacarinya selama dua tahun.
“Aku beneran serius sayang sama kamu Sa, aku nggak pernah berpikir untuk menjadikanmu sebagai pelampiasan saja” kata-kata Nathan itu seolah menjawab keraguan dari Alyssa.
Alyssa menegakkan sedikit tubuhnya, tangannya menggenggam tangan Nathan lebih kuat dan dengan mantapnya ia lalu menjawab pertanyaan dari Nathan.
“Oke, aku mau jadi pacar kamu!”
Jawaban Alyssa itu membuat Nathan begitu bahagia sekaligus lega. Ia memeluk Alyssa dengan erat saking bahagianya.
“Tapi dengan satu syarat” lanjut Alyssa.
Nathan melepaskan pelukannya dan menatap Alyssa. “Syarat apa?”.
“Nggak boleh ada yang tau kita pacaran!” kata Alyssa tegas.
“Kenapa?”.
“Aku nggak mau jadi bahan berita para wartawan nantinya. Aku belum siap Nat” jawab Alyssa jujur.
“Tapi sampai kapan Sa?”
“Aku juga nggak tau sampai kapan”.
“Oke, nggak apa-apa kalau kamu masih belum mau orang-orang tau dengan hubungan kita. Aku bakalan sabar nungguin sampai kamu siap!”
Kata-kata dari Nathan itu membuat Alyssa tersenyum. Ia pikir Nathan akan keberatan dengan syarat yang diberikannya, tapi ternyata Nathan tidak mempermasalahkannya.
Mereka berdua akhirnya resmi berpacaran. Nathan terlihat sangat bahagia, ia terus menatap gadis yang ada di depannya itu. Perasaannya tidak bisa digambarkan, rasanya seperti ada ratusan kupu-kupu yang ingin keluar dari dalam dirinya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Alyssa dan ia mencium bibir kekasihnya itu dengan lembut dan Alyssa membalas ciumannya.
__ADS_1
***