
Pagi harinya Sarah terbangun dengan keadaan kacau. Kepalanya masih sedikit pusing dan ia berusaha mengingat kenapa dirinya bisa tidur di kamar padahal kemarin yang diingatnya dia sedang minum di pinggir kolam renang. Setelah berusaha mengingat, akhirnya ia tersadar akan kejadian semalam. Mulai dari Alvin yang mencarinya ke kolam renang hingga kejadian di kamarnya bersama Alvin. Sarah merasa malu, kenapa ia begitu bodoh bisa melakukan hal seperti itu dengan Alvin. Apa yang akan ia lakukan jika ia bertemu dengan Alvin? Ia merasa benar-benar malu dan tidak siap kalau harus bertemu dengan Alvin.
Di kamarnya, Alvin merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Sarah. Ia merasa tidak siap jika harus bertemu dengan Sarah. Ia berpikir sekarang pasti Sarah makin membencinya. Alvin memutuskan tidak sarapan pagi itu untuk menghindari bertemu dengan Sarah.
Waktu sarapan, di meja makan hanya ada Alyssa dan Nathan. Ternyata Sarah juga tidak sarapan pagi itu. Jadilah Alyssa dan Nathan yang tidak tahu apa yang terjadi semalam hanya sarapan berdua saja. Mereka berpikir kalau Sarah dan Alvin terlalu lelah dengan pesta barbeku semalam sampai mereka melewatkan sarapan.
“Sa, nanti kita balik sehabis makan siang” kata Nathan memulai pembicaraan.
“Iya, nanti aku kemasi barang-barang kamu” jawab Alyssa sambil terus mengunyah makanannya.
“Nggak usah Sa. Nanti aku berkemas sendiri aja”.
“Nggak bisa Nat. Aku kan asisten kamu, biarin aku aja yang beresin semuanya”.
Nathan tidak membantah perkataan Alyssa, ia tidak ingin berdebat masalah kecil seperti ini. Ia membiarkan Alyssa mengemasi barang-barang miliknya seusai sarapan.
Sebelum jam makan siang, Alvin sudah duduk di meja makan terlebih dahulu. Ia sengaja meminta Bu Wati untuk membuatkannya makan siang lebih awal. Ia masih menghindari untuk berhadapan langsung dengan Sarah. Ketika akhirnya jam makan siang tiba, Alvin sudah selesai dengan makanannya. Ia bergegas masuk ke kamar dan sempat berpapasan dengan Sarah. Ia terlihat kikuk, begitu pula dengan Sarah. Keduanya tidak saling menyapa dan berlalu begitu saja.
“Kenapa Alvin nggak makan siang ya? Tadi juga dia nggak sarapan” kata Alyssa.
“Diet mungkin, buat narik perhatian si Dina” kata Nathan terkekeh.
Sarah yang mendengar itu sedikit merasa tidak nyaman. Tampak dari ekspresi wajahnya yang terlihat begitu gelisah.
“Kamu kenapa sih?” tanya Nathan yang memperhatikan Sarah dengan sikap yang agak aneh.
“Nggak kenapa” jawab Sarah singkat.
Setelah makan siang berakhir mereka semua bersiap-siap untuk pulang. Sarah yang sudah dijemput oleh supir pribadinya pulang lebih dulu. Sementara Nathan, Alyssa dan Alvin pulang bersama. Karena perjalanan yang cukup jauh mereka baru tiba di kota saat hari sudah hampir malam. Sebelum kembali ke rumah masing-masing mereka mampir dulu untuk makan ke sebuah restoran. Sebelumnya Alvin sudah memesan restoran dengan ruang VIP agar makan malam mereka tidak terganggu dengan orang-orang yang mengenal Nathan.
***
Alyssa terbangun pukul 8 pagi, membuatnya terlonjak kaget karena bangun sesiang ini. Dengan cepat ia mengambil handuknya dan langsung menuju kamar mandi. Melewatkan sarapan, ia langsung bergegas ke apartemen Nathan dengan menggunakan ojek online. Sesampainya disana ia berlari kecil di gedung bertingkat itu, menaiki lift dan begitu terburu-buru keluar dari lift menuju tempat Nathan.
“Aduhh, kenapa bisa kesiangan begini sih? Aku kan harus masak buat Nathan” batinnya.
__ADS_1
Tapi betapa terkejutnya dia ketika sudah sampai di apartemen Nathan, ia melihat sudah ada makanan di meja makan. Ia sedikit kebingungan dan bertanya-tanya siapa yang memasaknya. Tidak mungkin Nathan yang memasak, ia pasti masih tidur begitu pikirnya.
Ketika Alyssa masih dalam kebingungannya, Nathan tiba-tiba menghampirinya. Ia sudah terlihat rapi dan tersenyum manis pada Alyssa.
“Maaf, aku terlambat” kata Alyssa.
“Kenapa kamu bisa telat?” tanya Nathan masih tersenyum.
“Aku bangun kesiangan” jawab Alyssa malu.
“Ya udah, nggak apa-apa. Pasti kamu tadi buru-buru kesini sampai nggak sempat sarapan kan?” tebak Nathan dan di jawab dengan anggukan oleh Alyssa. “Ayo kita sarapan” lanjut Nathan sambil menarik kursi untuk mempersilakan Alyssa duduk.
“Ini semua kamu yang masak?”
“Iya”.
“Aku nggak tahu kalau kamu bisa masak” kata Alyssa sambil mencicipi masakan yang dibuat oleh Nathan.
“Gimana rasanya? Enak?”
“Habisin kalau gitu makannya, nambah juga boleh. Kapan lagi kamu bisa makan masakan artis?! Hehe..” canda Nathan.
“Iya, ini momen langka. Aku harus makan banyak nih”.
Selesai sarapan Alyssa langsung membereskan piring-piring kotor dan Nathan terlihat sedang menerima panggilan telepon di ruang tengah.
“Sa, dua minggu lagi film baruku bakalan rilis” kata Nathan setelah selesai menerima telepon.
“Wah, bagus dong! Selamat ya” Alyssa senang mendengar kabar itu.
“Emm.. tapi aku bakalan sibuk selama dua minggu ini. Aku harus wawancara, promosi dan sebagainya. Aku bakalan ke luar kota untuk promosi film baruku”.
Setelah mendengar penjelasan Nathan, Alyssa merasa ada yang mengganjal di hatinya. Seharusnya ia senang jika film baru Nathan akan tayang, dan memang sudah seharusnya Nathan melakukan promosi untuk filmnya. Tapi itu berarti Nathan akan meninggalkannya selama dua minggu.
“Tenang aja Sa, nanti aku bakalan terus ngasi kabar biar kangen kamu terobati” kata Nathan penuh percaya diri.
__ADS_1
“Pede banget sih kamu kalau aku bakalan kangen” balas Alyssa bohong. Sebenarnya ia senang saat Nathan berkata seperti itu. Tapi dia tidak mau menunjukkannya di depan Nathan.
“Kita lihat nanti ya, kamu pasti bakalan kangen sama aku” kata Nathan lagi sambil menyentil pelan hidung Alyssa dan berjalan menuju kamarnya.
***
Di lain tempat, Alvin yang sedang berada di kamarnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Rupanya ia sedang memikirkan Sarah, wanita yang sangat dibencinya. Ia teringat akan kejadian malam itu di villa ketika Sarah mabuk. Alvin masih mengingat betapa dekatnya mereka malam itu dan wajah Sarah selalu muncul dibenaknya.
“Aaarrrggghhh.... kenapa aku jadi mikirin tuh cewek sih?!” Alvin berteriak. “Aku nggak bisa kaya gini terus, bisa-bisa nanti aku gila gara-gara mikirin tuh cewek!”.
Tanpa berpikir panjang lagi Alvin mengambil ponselnya dan menguhubungi Nathan.
“Halo” sapa Nathan dari seberang telepon.
“Nat, aku minta nomor telepon Sarah. Kirim cepetan ya”.
“Kenapa? Udah jatuh cinta sama dia?! Hahaha” kata Nathan sambil tertawa meledek.
“Udah, kirimin cepatan! Aku ada urusan sama dia” Alvin langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Nathan. Misinya hari ini adalah bertemu dengan Sarah.
Setelah Nathan memberikan nomor telepon Sarah, tanpa berlama-lama Alvin langsung menghubunginya. Beberapa kali memanggil tapi tidak ada jawaban membuat Alvin sedikit kesal. Dan setelah panggilan kelima akhirnya Sarah menjawab teleponnya.
“Halo, ini siapa ya?”
“Sarah.. emm.. ini aku.. Alvin” katanya sedikit gugup. Beberapa detik Sarah terdiam tak menjawab. “Sarah, kamu denger aku kan?” katanya lagi.
“Iya, ada apa?” jawab Sarah kemudian.
“Ada yang mau aku bicarakan. Bisa kita ketemu sekarang?”
“Maaf Vin. Aku lagi nggak enak badan. Besok aja ya kalau mau ketemu”.
“Nggak bisa. Aku samperim kamu sekarang. Kirim alamatmu!” Alvin tak tahu mengapa dirinya begitu ngotot ingin bertemu dengan Sarah. Apa karena ingin membicarakan dan menyelesaikan masalah malam itu atau dia merasa khawatir ketika Sarah bilang tidak enak badan, entahlah.
Alvin melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke alamat yang sudah dikirimkan Sarah. Hatinya mengatakan bahwa dia harus menemui Sarah hari itu juga.
__ADS_1
***