
Malam itu benar-benar menjadi milik Nathan. Di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh tujuh ia merasa begitu bahagia dengan kehadiran Alyssa di sisinya.
“Ayo, kita pulang!” ajak Nathan.
“Yuk, aku juga udah mulai ngantuk”.
Mereka berjalan keluar dari restoran dan menuju tempat parkir. Alyssa menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang.
“Reyhan mana?” tanya Alyssa yang melihat Reyhan sudah tidak ada disana.
“Kenapa kamu menanyakan Reyhan?” Nathan terlihat tidak suka kalau pacarnya menanyakan pria lain.
“Tadi kan dia yang mengantarku kesini. Aku pikir dia akan mengantarku pulang juga”.
“Aku sudah suruh dia pulang daritadi. Sekarang aku yang akan mengantarmu pulang”.
Nathan menggandeng tangan Alyssa berjalan menuju tempatnya memarkir mobil. Ia membukakan pintu mobil untuk Alyssa dan segera melajukan mobilnya meninggalkan restoran itu.
Sepanjang perjalanan Alyssa beberapa kali terlihat menguap karena rasa kantuknya. Perlahan ia mulai tertidur di mobil dan Nathan membiarkannya tidur.
“Sayang, bangun! Kita sudah sampai” Nathan menggoyangkan sedikit pundak Alyssa.
“Ah.. sudah sampai rupanya. Maaf aku ketiduran sayang” Alyssa terbangun dan mengerjapkan matanya. “Nathan, kenapa kamu mengajakku kesini?” Alyssa tidak mengerti kenapa Nathan tidak mengantarnya pulang dan malah membawanya ke apartemennya.
“Malam ini kamu menginap di tempatku ya.. ya.. ya..” pinta Nathan sedikit merengek seperti anak kecil.
“Nggak bisa! Aku mau pulang”.
“Tapi hari ini ulang tahunku. Aku pengen kamu menginap di apartemenku”.
“Nggak! Aku nggak mau menginap”.
“Emangnya kenapa?”
“Kamu itu kan mesum, nanti kamu berbuat macam-macam lagi ke aku”.
“Astaga sayang!” Nathan menepuk jidatnya. “Kamu takuk aku berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya?”
“Iya!”
“Aku janji nggak bakalan macam-macam sama kamu! Aku cuma pengen kamu menginap aja biar aku bisa lihat kamu seharian penuh di hari ulang tahunku. Oke, aku tidur di kamarku dan kamu tidur di kamar tamu. Gimana? Biar kamu yakin kalau aku nggak bakalan macam-macam sama kamu”.
Alyssa sedikit bimbang, ia tidak tega melihat Nathan bersedih di hari ulang tahunnya. “Baiklah, tapi kamu janji dulu nggak bakalan macam-macam”.
__ADS_1
“Aku janji!” jawab Nathan sambil tersenyum puas karena keinginannya dipenuhi oleh Alyssa.
Kini Alyssa sudah berada di kamar tamu apartemen Nathan. Ia baru sadar kalau dirinya tidak membawa baju ganti untuk tidur. Tapi tiba-tiba Nathan mengetuk pintu kamarnya.
“Kamu mau apa?” tanya Alyssa berteriak dari dalam kamar. Ia belum membukakan Nathan pintu, takut nanti Nathan akan berbuat yang tidak-tidak pada dirinya.
“Buka dulu pintunya!”.
“Nggak mau! Tadi kan kamu udah janji nggak bakal macam-macam!”
“Alyssa! Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Aku cuma mau ngasi kamu baju ganti aja. Cepetan buka pintunya”.
Alyssa ragu-ragu berjalan menuju pintu. Ia membuka sedikit pintu kamarnya dan mengintip Nathan apakah membawa baju ganti atau tidak. Dilihatnya Nathan memang membawa baju untuknya dan ia segera mengambilnya lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya lagi.
“Terima kasih” teriak Alyssa dari dalam kamar.
“Ternyata dia masih tidak percaya denganku” Nathan membatin dalam hatinya melihat tingkah laku pacarnya.
Di dalam kamar Alyssa segera mengganti gaunnya dengan baju yang diberikan Nathan. Sebenarnya Nathan memberikan kemeja lengan panjang berwarna putih miliknya pada Alyssa karena ia memang tidak mempunyai baju perempuan. (Ya iyalah nggak punya, kan Nathan cowok tulen)
Meski terlihat sangat kebesaran di badan Alyssa tapi ia terlihat sangat pantas mengenakan kemeja milik Nathan. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya, hendak mengirim pesan pada kekasihnya itu dan ia tersadar ponselnya sudah tidak aktif.
“Kenapa ponselku nggak aktif ya? Apa Nathan yang melakukannya? Ah.. pasti dia yang menonaktifkannya supaya nggak ada yang gangguin kita berdua” pikir Alyssa.
***
Pagi-pagi sekali Nadia terlihat sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya.
“Halo! Rangga?”
“Emm.. siapa ini? Kenapa menelepon pagi-pagi sekali?” suara Rangga terdengar seperti baru bangun.
“Ini aku Nadia!”
“Oh.. kamu. Kenapa?”
“Kenapa kamu nggak ngasi aku kabar tentang film itu?”
“Loh, ngasi kabar gimana? Kan aku sudah menolakmu dari awal”.
“Kamu nggak berpikir tentang tawaran yang aku berikan?”
“Aku nggak perlu mikir dua kali buat nolak kamu. Udah ya, aku masih ngantuk”.
__ADS_1
Nadia tampak kesal karena Rangga sudah menolaknya tanpa memikirkan keuntungan yang akan didapatkannya jika ia mau menerima Nadia bermain dalam film barunya.
“Oke, kalau cara ini nggak berhasil, aku masih punya cara yang satunya. Kali ini pasti berhasil”.
Nadia menghubungi Rere untuk segera datang ke rumahnya dengan secepat mungkin. Tidak sampai tiga puluh menit Rere sudah berada di rumah Nadia.
“Kamu kenapa nyuruh aku kesini pagi-pagi begini? Nggak tau orang masih ngantuk apa” keluh Rere.
“Ada sesuatu yang penting Re!”
“Apa?”
“Rangga menolakku untuk bermain dalam film barunya”.
“Sudah kuduga” ucap Rere pelan namun masih bisa didengar oleh Nadia.
“Kamu bilang apa tadi?”
“Eh.. nggak bilang apa-apa”.
“Re, aku mau minta tolong kamu buat cariin aku nomor telepon Pak Ridwan”.
“Ridwan Anggara?”
“Iya”.
“Mau apa kamu mencari nomor teleponnya?”
“Aku harus melaksanakan plan B karena plan A sudah gagal”.
“Please Nad! Lebih baik kamu nyerah aja dengan Nathan. Biarkan dia bahagia dengan hidupnya sendiri. Kamu dan Nathan itu sudah masa lalu. Kamu harus move on, masih banyak cowok tampan dan kaya yang suka sama kamu” kata Rere yang mengerti sekali keinginan Nadia untuk bisa bersama dengan Nathan lagi.
“Kamu ini kenapa sih Re? Kamu itu kerja buat aku, bukan buat Nathan! Jadi kamu harus ngedukung apa yang aku lakuin”.
“Aku bakalan mendukung jika itu baik buatmu”.
“Apa kamu mau aku pecat?”
Rere terdiam dengan pertanyaan Nadia. Bagaimana pun juga ia tidak ingin sampai dipecat oleh Nadia. Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membantu membayar hutang keluarganya.
“Sekarang lebih baik kamu turuti semua kata-kataku” Nadia melanjutkan kata-katanya karena tidak ada jawaban dari Rere yang berarti dia masih ingin bekerja dengannya. “Aku mau kamu cari nomor telepon Pak Ridwan buatku. Kalau bisa secepatnya! Dan aku yakin kamu bisa mendapatkannya dengan mudah”.
Nadia berjalan ke kamarnya dan meninggalkan Rere di ruang tamu yang masih terdiam di tempatnya. Rere merasa Nadia sudah sangat berubah semenjak putus dari Nathan. Selama ini ia berusaha untuk menyadarkan Nadia agar tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan Nathan kembali. Ia tau kalau Nadia bisa berbuat apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan tentu saja Rere sangat takut jika itu akan menghancurkan karir Nadia, orang yang selama ini sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi Rere, ia menagisi dan menyayangkan sikap Nadia yang seperti itu. Tapi ia tidak mampu untuk melawan keinginan Nadia karena ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.
__ADS_1
***