
Rangga membawa pria yang telah melecehkan Alyssa ke rumah sakit terdekat setelah tadi ia memukul perutnya dan pria itu menyemburkan darah. Rangga tak ingin pria itu mati begitu saja karena hanya dia lah satu-satunya orang yang bisa membongkar ini semua. Rangga sangat yakin kalau pria itu hanyalah suruhan seseorang untuk menyakiti Alyssa. Lagi pula ia juga tak ingin berurusan dengan kepolisian.
Sesampainya di rumah sakit Rangga langsung membawa pria itu ke UGD dan ditangani langsung oleh dokter Jerry. Kebetulan dokter Jerry adalah sahabat dari Rangga dan ia bisa dengan leluasa meminta dokter Jerry untuk memberikan perawatan dan penjagaan yang super ketat agar pria itu tidak bisa kabur.
“Kita sudah memberikan obat untuk menghentikan perdarahannya. Dan untuk sementara dia harus dirawat disini selama beberapa hari” kata dokter Jerry pada Rangga.
“Untunglah dia tidak mati!” ujar Rangga yang merasa sedikit lega.
“Tapi bagaimana bisa orang itu menjadi..”
“Babak belur?” ucap Rangga memotong pertanyaan dokter Jerry. “Aku memukulnya karena dia telah merusak pestaku”.
“Apa hanya kamu sendiri yang memukulnya?” dokter Jerry bertanya karena ia merasa tidak mungkin jika Rangga yang melakukan itu semua sendiri karena ia tahu betul siapa Rangga. Ia tidak akan mungkin memukul seseorang sampai separah ini.
“Iya!” jawab Rangga.
Dokter Jerry hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ia tahu jika saat ini Rangga sedang berbohong. Tapi ia enggan untuk bertanya lebih jauh karena ia yakin pasti Rangga memiliki alasan dibalik kebohongannya itu.
“Aku minta tolong padamu jaga dan rawat dia dengan baik. Jangan sampai dia kabur karena dia masih punya urusan yang belum tuntas denganku!”
“Baiklah” kata dokter Jerry kemudian.
__ADS_1
Di lain tempat Nathan masih berdiam diri memandang Alyssa yang masih tertidur. Ia hanya berdiri di tepi tempat tidur tanpa membangunkan pacarnya. Dipegangnya gaun yang ia berikan pada Alyssa yang tadi berserakan di lantai dan terlihat ekspresi di wajahnya masih menahan amarah.
“Siapa pria yang bersamamu tadi? Kenapa kamu tega melakukan ini semua padaku? Apa kamu merasa puas sudah mempermainkan hatiku?” ada begitu banyak pertanyaan kepada Alyssa dalam diri Nathan. Ia merasa kecewa pada kekasihnya itu karena sudah tidur dengan pria lain.
Karena rasa marahnya yang begitu besar membuat Nathan tidak bisa berpikir dengan jernih. Nathan tidak pernah berpikir kalau itu hanya sebuah jebakan untuk merusak hubungannya dengan Alyssa. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Alyssa telah menghianatinya.
Sebenarnya Nathan ingin sekali membangunkan Alyssa untuk menanyakan tentang ini semua. Tapi ia mengurungkan niatnya itu karena ia pasti akan lebih marah lagi pada Alyssa dan ia tidak yakin apakah dirinya bisa mengontrol emosinya pada Alyssa sehingga ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyakiti Alyssa.
Dalam keadaan dan pikiran yang kacau Nathan memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Alyssa sendirian di villa itu. Ia melemparkan gaun yang tadi di pegangnya dan dengan emosi yang masih menyelimutinya ia berjalan keluar dari villa.
Nathan yang sudah terlanjur emosi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli apakah ia akan selamat sampai apartemen atau tidak. Bahkan jika ia harus mati sekarang karena kecelakaan ia sudah siap karena ia merasa sudah sangat putus asa. Wanita yang benar-benar ia cintai rela menghianatinya.
Satu sifat Nathan yang bisa merugikan dirinya sendiri adalah ia tidak pernah mendengarkan dengan baik penjelasan apapun kalau dirinya sudah terlanjur marah. Ia hanya akan meyakini pemikirannya sendiri yang salah dan mengabaikan kebenarannya. Menurutnya apapun yang ada dipikirannya itulah kebenarannya. Ia sangat menolak penjelasan apapun yang akan membantah pikiran salahnya itu.
Sementara di villa Rangga yang kini sudah ada di kamar melihat Alyssa masih tertidur di bawah selimut seperti orang pingsan. Dan itu membuatnya jadi semakin yakin kalau Alyssa sudah dijebak dengan diberikan obat tidur.
“Kenapa Nathan malah meninggalkan Alyssa sendirian disini?” batin Rangga.
Beberapa kali menelpon Nathan panggilannya tidak dijawab juga. Sampai pada akhirnya ponsel Nathan sudah tidak aktif lagi. Rangga mengehela nafas berat. Ia tak habis pikir dengan sikap Nathan yang membiarkan Alyssa disini sendirian. Rangga mencoba menelpon Alvin tapi ponselnya juga sedang tidak aktif.
“Kenapa tidak ada yang bisa dihubungi?” keluh Rangga.
__ADS_1
Rangga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan pada Alyssa. Tadinya ia ingin menelpon Alvin untuk menanyakan tentang Nathan.
“Seharusnya sebelum pergi dia memakaikan Alyssa pakaian dulu. Walau pun belum menikah tapi statusnya sekarang adalah pacar Alyssa dan lebih berhak atas Alyssa dari pada aku yang hanya sebatas teman” celoteh Rangga kesal.
Saat ini Alyssa sedang tidur tanpa mengenakan pakaian dan ia tidak ingin membuat Alyssa lebih malu lagi kalau dia yang memakaikan pakaiannya. Rangga memungut gaun Alyssa yang ada di lantai dan diletakkannya di samping Alyssa agar ketika dia sudah bangun bisa langsung memakai pakaiannya sendiri.
Saat akan keluar dari kamar matanya tertuju pada sebuah benda yang ada di lantai. Ia mengambil benda itu yang merupakan ponsel milik Lucas. Ia segera mengeceknya namun sialnya ponsel itu menggunakan kata sandi. Dan akhirnya Rangga hanya bisa menunggu sampai ada seseorang yang menelpon di ponsel itu. Siapa tahu yang menelpon adalah seseorang yang ada hubungannya dengan kejadian ini.
Rangga yang ingin tidur di kamar lain mulai merebahkan dirinya. Rencananya besok ia akan mengantarkan Alyssa pulang. Tapi tiba-tiba ia ingat akan sesuatu. Ia bergegas untuk melihat CCTV, mungkin saja ada petunjuk yang ia temukan setelah melihatnya. Rangga melihat dengan sangat teliti namun yang didapatkannya hanya saat pria itu memberikan Alyssa dan tamu yang lainnya minum dan saat pria itu menggendong Alyssa masuk ke dalam kamar. Tidak ada interaksi yang dilihatnya antara pria itu dengan orang lain.
“Apa memang benar dia melakukan ini semua sendiri?” gumam Rangga dalam hati.
Rangga mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Ia jadi merasa sedikit tidak yakin pada pikirannya yang semula menduga kalau pria itu adalah suruhan seseorang untuk menyakiti Alyssa. Karena dirinya semakin bingung dengan permasalahan ini, ia akhirnya memutuskan untuk tidur agar bisa menjernihkan pikirannya kembali.
Pagi harinya Rangga terbangun karena mendengar ponsel berbunyi. Dan itu bukan suara ponsel miliknya. Dilihatnya ke samping nakas dan ternyata ponsel pria itu yang berdering menandakan ada panggilan masuk. Rangga segera mengambil ponsel itu dan dilihatnya tulisan ‘private number’ tertera pada layar ponsel itu.
“Private number? Apa mungkin yang menelpon ini adalah orang yang berhubungan dengan kejadian tadi malam?”
Tanpa ragu Rangga langsung menjawab panggilan itu.
***
__ADS_1