
Nathan dan Alvin tiba di apartemen tepat sebelum jam makan siang. Keduanya baru saja pulang dari kantor agensi untuk tanda tangan kontrak film terbaru Nathan.
“Happy birthday Nathan Alexander!” teriak Alyssa begitu Nathan membuka pintu apartemen.
Alyssa telah membuat kue ulang tahun yang sangat cantik untuk Nathan. Satu lilin yang menyala bertengger di atas kue tersebut. Nathan yang tak menyangka dengan kejutan ini terlihat terharu. Ia memejamkan matanya untuk berdoa sebelum meniup lilinnya.
“Cepetan tiup lilinnya bro! Aku udah nggak sabar mau nyoba kue buatan Alyssa” ucap Alvin setelah melihat Nathan membuka matanya.
Nathan meniup lilinnya dan mengecup kening Alyssa setelahnya.
“Terima kasih sayang”.
“Ehm.. kayanya aku jadi obat nyamuk nih disini. Tau gitu tadi aku ajak aja Sarah kesini” keluh Alvin.
Nathan dan Alyssa secara kompak menatap ke arah Alvin dan membuatnya menjadi salah tingkah.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanyanya polos.
Nathan dan Alyssa tetap memandang Alvin tanpa menjawab pertanyaannya.
“Apa sih kalian? Oke oke! Aku jujur! Aku sama Sarah lagi PDKT, puas kalian?”
Pernyataan Alvin itu sontak membuat Nathan dan Alyssa tertawa bersamaan. Tentu saja itu membuat Alvin kesal dengan dua sahabatnya itu.
“Kayanya sebentar lagi ada yang dari pura-pura pacaran jadi pacaran beneran” ledek Alyssa.
“Dari musuh jadi pacar atau dari benci jadi cinta” Nathan menimpali.
“Udah ngeledeknya?” balas Alvin.
“Belum! Aku masih pengen ngeledek kamu tapi perut aku udah bunyi terus. Ayo kita makan dulu!” ajak Nathan.
“Kuenya nggak dipotong? Aku kan pengen nyoba!”
“Nggak ada yang boleh makan kue ulang tahunku, kecuali aku!” kata Nathan sambil menyimpan kuenya di dalam kulkas.
Mereka bertiga makan siang bersama dengan tenang. Tidak ada yang mengobrol, yang terdengar hanyalah suara sendok dan garpu yang beradu.
“Ahh.. aku udah kenyang! Aku pulang dulu ya”.
“Kamu mau kemana Vin? Buru-buru banget” tanya Alyssa.
“Mau ketemu Sarah. Aku janji mau nganterin dia ke butik hari ini”.
“Udah sayang, biarin aja dia pergi. Kasian dia udah kelamaan jomblo”.
Alvin tidak menghiraukan ledekan dari Nathan. Ia berjalan cepat menuju kulkas dan mencomot sedikit kue ulang tahun Nathan dan berlari pergi meninggalkan apartemen Nathan.
“Alvin! Kue ku kenapa kamu makan?”
“Udah biarin aja”.
“Tapi kue itu kamu buat untukku Sa!”
__ADS_1
“Nanti aku buatin lagi”.
Nathan masih ngambek gara-gara kuenya dicomot oleh Alvin ketika ia dan Alyssa akan berangkat ke puncak.
“Udah lah Nat, nggak usah ngambek lagi. Pulang dari puncak aku bikinin kue yang baru. Gimana?” bujuk Alyssa.
“Nggak!”
“Hmm... aku punya kado untukmu. Tunggu sebentar!” Alyssa berlari ke kamar tamu dan mengambil sebuah bungkusan kecil berwarna merah.
“Ini, kado untukmu”.
Nathan membuka bungkusan itu dan melihat di dalam kotak ada sebuah gantungan kunci berbentuk boneka manusia dengan rambut berwarna putih mirip sekali dengan Nathan saat ini yang juga berambut putih. Nathan tersenyum melihat hadiahnya.
“Ini aku?”
“Iya”.
“Terima kasih sayang. Oh ya, darimana kamu mendapatkannya?”.
“Tadi pas kamu pergi ke kantor aku keluar sebentar beli lilin, eh taunya aku lihat ada gantungan kunci ini, mirip seperti kamu. Jadi aku beli”.
“Tapi kalau dilihat-lihat lagi sebenarnya ini boneka kakek-kakek” Nathan memperhatikan dengan seksama.
“Ya anggap aja itu mewakili kamu di masa depan. Lagian siapa suruh rambut diputihin begitu”.
“Tapi aku tambah keren kan dengan rambut begini?” ucap Nathan sambil berselfie dengan hadiahnya lalu mempostingnya di media sosialnya. “Apakah ini mirip denganku?” begitu kata-kata yang ia tulis. Setelah itu ia menggantungkan hadiahnya pada kunci mobilnya.
Perjalanan mereka menuju puncak hanya membutuhkan waktu dua jam saja karena lalu lintas sedang sangat lancar hari itu. Tidak ada kemacetan seperti hari-hari biasanya. Pukul empat sore mereka telah tiba di villa milik tante Maya. Villanya tidak kalah keren dari milik Nathan yang berada di pinggir pantai.
“Indah sekali pemandangan disini. Aku suka”.
“Kita masuk yuk”.
Mereka berdua masuk ke dalam villa dan ternyata tante Maya sudah berada disana dengan kejutannya. Selama diperjalanan tadi Alyssa terus memainkan ponselnya, beralasan sedang mengirim pesan pada orangtuanya padahal ia saling bertukar pesan dengan tante Maya.
“Surprise!” teriak tante Maya saat Nathan membuka pintu villa tersebut.
Nathan terkejut melihat apa yang telah dilakukan oleh mamanya. Kue ulang tahun dengan lilin yang menyala sudah dipegang oleh mamanya. Beberapa penjaga villa memakai topi ulang tahun seperti anak kecil. Seorang pelayan memberikan buket bunga dan topi untuk Nathan. Alyssa juga mendapatkan topi ulang tahun itu.
“Mama pikir aku masih anak kecil” kata Nathan sambil memakai topinya.
“Bagi mama kamu tetap anak kecil mama yang nakal. Cepat kamu berdoa lalu tiup lilinnya”.
Nathan memejamkan matanya berdoa lalu setelah itu meniup lilin ulang tahunnya. Semua orang bertepuk tangan bahagia ketika Nathan telah meniup lilinnya.
“Selamat ulang tahun anak Mama” tante Maya mencium kedua pipi anaknya.
“Makasi Ma. Oh ya, apa semua ini rencana mama dan Alyssa?”
“Hehe.. iya nak. Mama ingin sekali merayakan ulang tahunmu. Makanya mama bikin kejutan ini dibantu sama Alyssa”.
“Oohh.. jadi calon mertua dan calon mantu udah akrab nih ceritanya?” Nathan memandang Alyssa yang tersipu malu.
__ADS_1
“Apaan sih kamu Nat!” balas Alyssa.
“Loh, emang kamu nggak mau nikah sama aku?”
“Baru juga pacaran udah ngomongin nikah aja”.
“Mama setuju kok kalau kalian berdua nikah cepat. Mau nikah besok juga bakalan mama siapin semuanya”.
“Tuh denger Sa! Mama pengen kita cepat-cepat nikah”.
“Ya udah kalian istirahat dulu gih. Mama mau siapin makanan dulu”.
“Ayo Sa, kita ke kamar” ajak Nathan yang langsung menggandeng tangan Alyssa.
“Eehh...” tante Maya melepaskan tangan Nathan. “Kamu ngapain ngajak Alyssa ke kamar kamu?”
“Kan tadi mama yang nyuruh kita istirahat”.
“Ya tapi nggak satu kamar juga! Alyssa, sini tante antar kamu ke kamar ya”.
Alyssa mengangguk dan mengikuti tante Maya ke kamarnya. Disana tante Maya sudah menyiapkan gaun berwarna merah tanpa lengan untuk dipakai Alyssa. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Alyssa sudah terlihat cantik dengan gaun yang diberikan oleh tante Maya dan rambutnya dibiarkan tergerai indah. Ia keluar dari kamar dan segera menuju meja makan yang sudah tersedia berbagai hidangan makanan yang lezat-lezat di atasnya.
Saat ia sudah sampai di meja makan, yang terlihat bukannya suasana gembira untuk merayakan ulang tahun melainkan suasana tegang dan canggung antara Nathan dan Om Rudi, papanya Nathan.
Tampak jelas terlihat raut wajah Nathan menujukkan kemarahan. Tangan kanannya mengepal di bawah meja dan matanya menatap tajam ke arah papanya. Sementara Om Rudi juga menatap tajam ke arah anaknya. Tante Maya tampak terlihat khawatir akan terjadi pertengkaran malam itu. Ia berusaha untuk mencairkan suasana yang tegang itu.
“Alyssa sudah datang, ayo kita mulai makan malamnya. Alyssa silakan duduk” ucap Tante Maya.
Alyssa hendak duduk di kursinya tapi Nathan bangun tiba-tiba dan menarik tangan Alyssa.
“Ayo kita pulang!”
“Tapi Nat”
“Nggak ada kata tapi, ayo kita pulang sekarang!”
Nathan sudah berjalan sambil menggenggam tangan Alyssa dan tante Maya berusaha untuk menahannya.
“Sayang, jangan pulang dulu. Kita makan malam bersama, ini kan hari ulang tahunmu”.
“Iya Nat, kita makan dulu baru pulang”.
“Oh, jadi kamu udah tau kalau makan malam ini bukan hanya untuk kita bertiga?” tuduh Nathan pada Alyssa.
“Aku nggak..”
“Nggak apa? Nggak tau kalau papa bakalan datang kesini juga?” teriak Nathan.
“Sayang, Alyssa memang nggak tau apa-apa. Kamu jangan bentak dia” tante Maya berusaha menjelaskan, tapi Nathan sudah terlanjur marah dan menarik Alyssa.
Om Rudi yang melihat tingkah anaknya itu langsung berdiri dan menggebrak meja. Alyssa dan Tante Maya sangat kaget mendengar gebrakan meja itu. Nathan menghentikan langkahnya dan berbalik melihat papanya.
“Sampai kapan kamu bakalan terus seperti ini?” kesabaran Om Rudi sudah habis, ia berteriak pada anaknya dan meninggalkan meja makan tanpa mendengar balasan dari Nathan.
__ADS_1
Tante Maya segera menyusul suaminya dan Nathan terlihat semakin marah. Ia melangkahkan kakinya keluar dari villa menuju tempat parkir mobilnya. Alyssa berlari kecil mengikuti langkah Nathan. Sungguh malam ini pesta ulang tahun Nathan yang sudah direncanakan oleh Tante Maya gagal total. Keinginan Tante Maya untuk membuat keluarganya harmonis lagi seperti sudah tidak ada harapan. Suami dan anaknya sama-sama keras kepala dan sangat sulit untuk membuat mereka bisa berdamai.
***