
Hujan turun dengan deras keesokan harinya ketika Alyssa baru saja tiba di apartemen Nathan. Seperti biasa, hari ini ia memasak sarapan untuk Nathan. Jam delapan pagi Nathan sudah duduk di depan meja makan dengan penampilan yang sudah rapi dan siap untuk ke lokasi syuting. Namun Alvin meneleponnya dan memberitahu jika syuting hari ini dibatalkan karena cuaca yang tidak mendukung. Hujan di luar memang sangat deras dan tidak mungkin untuk melakukan syuting dengan kondisi yang seperti ini.
“Sepertinya alam sedang membantu kita” ucap Nathan seraya menyantap makanannya.
“Apa maksudmu?” Alyssa terlihat bingung dengan ucapan Nathan.
“Alam tahu kita baru aja berbaikan makanya hujan turun deras hari ini. Itu artinya kita disuruh berduaan”.
Alyssa hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengarnya. Sebenarnya ia juga senang karena hari ini Nathan tidak syuting. Jujur saja Alyssa masih merasa rindu dengan Nathan walau setiap hari bertemu, tapi baru dari semalam mereka benar-benar merasakan cinta itu kembali.
Usai membereskan meja makan dan dapur Alyssa menghampiri Nathan di ruang tengah yang sedang sibuk bermain game online.
“Ah sial! Kenapa aku bisa kalah lagi?” pekik Nathan. Ia mengacak rambutnya kasar karena sudah ketiga kalinya ia kalah dalam permainan game online itu.
Nathan meletakkan ponselnya dengan kasar ke meja lalu memeluk Alyssa yang sudah duduk di sampingnya dengan manja. Dagunya ia letakkan di pundak Alyssa dan tangannya melingkar erat di pinggang gadis cantik itu.
“Aku suka aroma tubuhmu Sa” Nathan berucap pelan seperti berbisik di telinga Alyssa, membuat Alyssa sedikit bergidik.
“Bisa agak jauhan dikit nggak Nat?” Alyssa merasa sedikit tidak nyaman.
“Nggak!” Nathan semakin mempererat pelukannya. “Aku kan kangen sama kamu Sa, jadi seharian ini aku mau begini terus”.
Percuma saja Alyssa berusaha melepaskan pelukan Nathan. Pria itu makin bergelayut manja padanya. Kalau sudah begini Alyssa tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Ponsel Alyssa berdering membuat Nathan sedikit cemberut. Alyssa segera mengambil ponselnya di dalam tas dan melihat siapa yang meneleponnya. Ia terdiam sejenak menatap layar ponselnya.
“Siapa yang menelpon?” tanya Nathan.
Alyssa tidak menjawab membuat Nathan meraih ponselnya dari tangan Alyssa. Ia melihat nama Rangga tertera pada layar ponsel itu.
“Ngapain dia nelpon? Ganggu aja!” decak Nathan kesal.
Panggilan dari Rangga terhenti, tapi beberapa detik kemudian ia menelepon lagi. Alyssa menatap Nathan seolah ingin meminta pendapat Nathan apakah ia harus menjawabnya atau tidak.
“Jawab saja!”
__ADS_1
Alyssa langsung menjawab panggilan telepon dari Rangga.
“Hai Ngga, kenapa meneleponku?”
“Aku cuma ingin mendengar suaramu saja. Sayang sekali hari ini hujan, aku jadi tidak bisa melihatmu”.
“Eh.. iya.. hari ini hujan..” Alyssa bingung harus berkata apa.
“Sa, nanti malam kamu sibuk nggak?”
“Kenapa emangnya?”
“Aku mau ngajak kamu makan malam nanti”.
“Maaf Ngga, nanti malam aku nggak bisa”.
“Kenapa?” nada suara Rangga terdengar kecewa.
“Aku harus nyiapin semua keperluan Nathan untuk syuting besok”.
“Aku nggak janji ya” Alyssa melirik ke arah Nathan yang sedari tadi memperhatikannya menelepon. Nathan memberikan isyarat padanya untuk menyudahi panggilan telepon itu.
“Sudah dulu ya Ngga, aku masih banyak kerjaan. Bye..”
“Dia ngajakin kamu makan malam?” tanya Nathan cemburu. Alyssa mengangguk.
“Tapi aku sudah menolaknya” jawab Alyssa cepat agar Nathan tidak marah lagi padanya.
“Bagus lah! Besok kalau kamu ketemu dia, kamu harus bilang kalau kamu sudah punya pacar”.
“Iya” kata Alyssa pelan.
Sampai menjelang siang hujan masih turun dengan sangat deras. Tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Nathan mengajak Alyssa untuk menonton film bersama. Mereka menonton film romantis di ruang tengah ditemani dengan beberapa cemilan yang sudah diambil Alyssa dari dalam kulkas.
Mereka berdua menonton dengan tenang sambil memakan cemilan yang mereka pegang masing-masing. Tapi ketika film memasuki adegan romantis, Nathan mulai terlihat tidak nyaman. Beberapa kali ia membenahi posisi duduknya untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman. Tapi tetap saja, ia terbawa suasana film yang ditontonnya. Ia menaruh cemilannya di atas meja, mengambil minumannya dan menghabiskannya dalam sekali minum.
__ADS_1
Adegan di film tersebut semakin romantis dan sedikit vulgar membuat Nathan sekuat tenaga berusaha untuk mengendalikan dirinya. Sementara di sampingnya Alyssa terlihat duduk dengan tenang sambil memegang botol minumnya.
“Aihh, kenapa aku harus menonton film yang ini? Bagaimana dia bisa setenang ini melihat adegan di film itu?” Nathan melirik Alyssa yang sekarang sedang meminum minumannya.
Ia bisa melihat dengan jelas leher Alyssa yang membuatnya tergoda saat gadis itu meminum minumannya.
“Kenapa hanya dengan minum air saja ia bisa jadi seksi begini? Kuat Nathan! Kamu harus kuat dengan godaan ini!”
Nathan menggelengkan kepalanya berusaha untuk membuang pikiran kotornya. Tapi seberapa pun keras usahanya untuk menahan diri tetap saja ia tidak tahan lagi. Adegan di film yang sudah semakin panas membuat dirinya sudah tak tahan lagi. Dan begitu pun dengan Alyssa. Sekarang ia sudah mulai bergidik dan merasa tidak nyaman dengan film yang ditontonnya. Sebenarnya Alyssa bukannya tidak pernah menonton film seperti ini, ia pernah menonton film dengan adegan ranjang, tapi kali ini berbeda karena ia yang biasanya menonton sendiri sekarang harus menonton film seperti ini berdua dengan Nathan. Itulah yang membuatnya merasa tidak nyaman saat ini.
Alyssa beranjak dari duduknya, mencari alasan untuk tidak melanjutkan menonton film itu. Ia berkata pada Nathan ingin ke dapur membuat makan siang untuk mereka berdua. Tapi Nathan menarik kuat tangan Alyssa sehingga membuat Alyssa jatuh ke pangkuannya.
Nathan melingkarkan satu tangannya di pinggang Alyssa dan tangan yang satunya membelai lembut rambut halus Alyssa.
“Aku sayang kamu Sa” ucapnya pelan.
Tanpa menunggu kata balasan dari Alyssa, Nathan langsung mencium bibir ranum kekasihnya itu. Ciuman dari Nathan yang begitu lembut membuat Alyssa tak bisa menolaknya, ia membalas ciuman itu.
Lama kelamaan ciuman lembut Nathan berubah menjadi ciuman panas. Kini satu tangannya yang tadi membelai rambut Alyssa sudah mulai berubah haluan menjadi menyusuri paha mulus Alyssa. Sontak saja apa yang dilakukan Nathan itu membuat Alyssa melepaskan ciumannya dan langsung menahan tangan Nathan yang sejak tadi sudah menyusuri pahanya itu. Nathan menatap Alyssa yang sepertinya tidak mengijinkannya melakukan hal itu.
“Ayo lah Sa, aku udah nggak tahan” kata Nathan memelas.
“Nggak!” Alyssa menolak dengan tegas dan langsung berdiri dari pangkuan Nathan.
Tapi lagi-lagi Nathan menarik tangan Alyssa dan kali ini Alyssa terduduk di samping Nathan yang membuat pria itu langsung mengambil kesempatan untuk menahan Alyssa agar tidak bisa pergi lagi. Kedua tangannya ada di kanan kiri Alyssa, ia mencondongkan tubuhnya mendekati kekasihnya itu. Alyssa sudah tersudut di sandaran sofa, wajah mereka kini sudah sangat dekat dan sedetik kemudian Nathan sudah ******* bibir Alyssa lagi.
Alyssa hampir kehabisan nafas karena ulah Nathan. Saat Nathan mulai mencium leher indah Alyssa itulah kesempatannya untuk menarik nafas sebanyak-banyaknya.
“Nathan berhenti!”
Nathan tidak memperdulikan ucapan Alyssa itu. Ia sudah terlanjur terbawa suasana dan tidak bisa menghentikan keinginannya lagi.
“Nathan! Aku bilang berhenti!” kali ini suara Alyssa lebih keras dan ia mendorong tubuh Nathan agar menjauh darinya.
__ADS_1
***