
“Apa jika aku sudah mengatakannya pada Rangga, kamu akan menjauhi Nadia?”
Nathan tidak langsung menjawab pertanyaan Alyssa. Ia memilih untuk menatap tajam ke arah kekasihnya itu. Alyssa yang ditatap seperti itu oleh Nathan menjadi salah tingkah. Perlahan Nathan maju mendekati Alyssa, semakin dekat dan kini jarak mereka hanya tinggal sejengkal. Alyssa bisa melihat dengan jelas wajah tampan Nathan yang langsung membuatnya berdebar tak karuan.
“Kamu cemburu?” Nathan berkata pelan dengan suaranya yang seksi.
Alyssa mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan Nathan yang sudah membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Nathan tersenyum kecil dan mengangkat dagu Alyssa sehingga kini Alyssa telah menatapnya kembali. Pandangan mereka saling bertemu. Terlihat kerinduan ditatapan masing-masing dari mereka. Sungguh Nathan merasa beberapa minggu ini hubungan mereka terasa sia-sia karena sikapnya. Ia begitu merindukan Alyssa, ingin sekali ia memeluk gadis itu dengan erat.
Mata Alyssa sudah berkaca-kaca, entah kapan terakhir kali ia menatap kekasihnya sedekat ini, ia tidak ingat. Sosok Nathan yang dulu begitu hangat baginya memang belakangan ini menjadi begitu dingin padanya. Tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipinya. Nathan mengusap lembut air mata itu dengan tangannya.
“Maafkan aku”.
Alyssa mendengar bisikan Nathan meminta maaf padanya. Kata-kata itu membuat air matanya jatuh semakin banyak. Tak kuasa menahan tangisnya, Alyssa menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Nathan langsung memeluknya, membenamkan wajah Alyssa ke dada bidangnya sambil mengelus pelan rambut gadis itu.
“Maafkan aku. Selama ini aku begitu bodoh telah membuatmu bersedih dengan sikapku. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu!” Nathan mempererat pelukannya pada Alyssa dan Alyssa pun kini melingkarkan tangannya pada Nathan.
Kerinduan mereka berdua begitu dalam satu sama lain. Selama ini mereka memang bertemu setiap hari, tapi itu terasa jauh. Sangat jauh sampai membuat Alyssa merasakan sesak di dadanya. Meski yakin dengan kesabarannya akan bisa membuat Nathan seperti dulu lagi tapi tak bisa dipungkiri jika selama ini Alyssa selalu merasa sakit hati dengan perlakuan Nathan yang seolah tak pernah menganggapnya ada.
Hari ini bagaikan mendapat hujan setelah kekeringan panjang, Alyssa bisa memeluk lagi pria yang sudah mencuri hatinya itu. Tangisnya semakin terisak tatkala Nathan memanggilnya dengan sebutan sayang. Ia begitu merindukan panggilan itu.
“Sayang, berhenti menangis. Maaf sudah membuatmu bersedih lagi” ucap Nathan pelan.
“Nggak, ini air mata bahagia. Biarkan aku menangis lebih lama dipelukanmu. Aku juga sangat merindukanmu”.
Nathan benar-benar merasa bersalah. Ia mengumpat pada dirinya sendiri di dalam hati. Betapa bodohnya dia telah membuat wanita yang dicintainya merasa sedih, kecewa dan kesepian selama ini.
“Sayang, sepertinya aku harus mengganti bajuku” kata Nathan kemudian.
Alyssa melepaskan pelukannya, ia tak menyadari air matanya telah membuat baju Nathan menjadi basah. Alyssa sedikit menengadah untuk melihat wajah kekasihnya.
“Bajuku jadi basah”.
“Maaf!
Alyssa dengan cepat melangkah mundur hendak memberikan kesempatan untuk Nathan ke kamar mengganti bajunya. Tapi Nathan malah menarik tangannya dan memeluknya lagi.
“Sudah terlanjur basah, nanti saja sekalian ganti bajunya. Aku masih ingin memelukmu”.
__ADS_1
Alyssa tersenyum kecil dibuatnya. Mereka saling berpelukan lagi dan Nathan kini sudah mengangkat dagu Alyssa untuk mencium bibir ranumnya. Saat akan menciumnya tiba-tiba Alvin yang sudah tiba di apartemen membuat keduanya gelagapan dan merasa malu.
“Sepertinya aku mengganggu kalian!” Alvin dengan wajah polosnya keluar dari ruang pribadi Nathan tanpa perasaan bersalah sama sekali.
Alvin tahu pasti saat ini Nathan sangat kesal padanya karena sudah mengganggu waktu berduanya dengan Alyssa. Tapi Alvin tidak menghiraukannya, ia tersenyum senang karena akhirnya kedua pasangan itu telah berbaikan kembali.
Mereka bertiga sudah duduk di depan meja makan. Sambil menikmati makanan yang diambil oleh Alvin tadi, Nathan tak henti-hentinya memandang kesal ke arah Alvin. Ia masih belum terima Alvin merusak momen indahnya tadi.
“Apa nggak bisa dia datang lebih lama lagi? Aarrgghh! Awas kamu Vin! Tunggu aja pembalasanku” batin Nathan.
“Jadi, aku mau dengar cerita kalian sekarang” Alvin tiba-tiba berucap.
“Cerita apa?” tanya Alyssa bingung.
“Tentu saja cerita kalian sampai bisa baikan lagi”.
“Kamu nggak perlu tau!” balas Nathan ketus.
“Cie.. ada yang masih ngambek gara-gara yang tadi” goda Alvin.
Nathan semakin kesal dibuatnya, ia mengambil piring Alvin yang masih berisi setengah makanan yang belum dimakannya. “Sebaiknya sekarang kamu pulang aja Vin!”
“Iya, aku ngusir kamu!”
“Oke, aku pulang!” Alvin meminum air yang ada di gelasnya lalu bangun dari duduknya. Dan setelah itu ia meraih tangan Alyssa. “Ayo Sa, kita pulang!” ajak Alvin. Alyssa hanya bengong melihat kelakuan Alvin.
“Hey! Kenapa ngajakin Alyssa juga? Aku cuma nyuruh kamu yang pulang, Alyssa tetap disini” protes Nathan.
“Nggak bisa gitu dong! Kalau aku pulang, Alyssa juga pulang! Aku bertanggung jawab untuk mengantarnya pulang!” Sebenarnya Alvin mengatakan itu hanya ingin membuat Nathan menjadi semakin kesal saja.
“Sudahlah, lanjutkan saja makanmu!” kata Nathan dengan terpaksa. Ia masih ingin melihat Alyssa lebih lama lagi di apartemennya.
Dan Alvin tersenyum sumringah lagi lalu mengambil piringnya kembali dan melanjutkan makannya. Sesekali ia melirik ke arah Nathan yang dibalas Nathan dengan tatapan ingin balas dendam. Alvin tak peduli, yang penting perutnya kenyang dulu. Alyssa hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua lelaki yang ada di depannya saat ini.
Usai makan malam Alvin dengan berbaik hati membiarkan Nathan dan Alyssa berdua di ruang tengah. Ia sendiri lebih memilih untuk menelepon Sarah di kamar tamu.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku” kata Alyssa kemudian saat mereka sudah duduk berdua sambil menonton acara TV yang sebenarnya tidak mereka tonton dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Yang mana?”
“Kamu mau jauhin Nadia nggak kalau aku bilang ke Rangga aku udah punya pacar?”
“Kamu jawab dulu pertanyaanku. Kamu cemburu lihat aku dekat dengan Nadia?”
Alyssa mengangguk.
“Aku suka kamu cemburu!”
“Ih, jawab dulu pertanyaanku!” Alyssa mencubit tangan Nathan pelan.
“Iya sayang, aku bakalan jauhin Nadia. Aku janji! Tapi..”
“Tapi apa?”
“Aku ada adegan romantis dengan Nadia, apa kamu bakalan marah?”
Alyssa berpikir sejenak sebelum menjawab. Dia pasti akan cemburu dengan adegan itu, tapi ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya lah akting semata.
“Mungkin sedikit! Tapi aku percaya sama kamu. Itu kan cuma akting” jawab Alyssa percaya diri.
“Yakin?”
Alyssa mengangguk lagi.
“Tapi aku nggak yakin. Sebaiknya kamu nggak usah ikut ke lokasi syuting lagi ya. Aku nggak mau nantinya kamu ngelihat aku berakting mesra dengan Nadia”
“Nggak, aku mau ikut! Aku harus ngawasin Nadia supaya dia nggak nyari kesempatan lagi ke kamu”.
“Maksudnya?”
“Aku tahu kemarin itu Nadia sengaja melakukan kesalahan terus menerus supaya adegan mesranya sama kamu diulang-ulang. Dia pasti bakalan ngelakuin itu lagi di adegan berikutnya! Aku nggak mau kali ini kecolongan! Sudah cukup kemarin aku ngebiarin dia menang, sekarang nggak lagi!”
Nathan senang mendengar ucapan Alyssa itu. Karena itu menunjukkan Alyssa sangat cemburu padanya. Cemburu itu tanda cinta. Dan ia senang kalau Alyssa cemburu.
“Baiklah, kamu boleh ikut. Kamu harus menjagaku dari Nadia!”
__ADS_1
***