
Alyssa dan bi Lilis mulai mencari Nathan, mereka berpencar. Alyssa mencari Nathan ke tempat yang ia ketahui saja karena memang Alyssa belum banyak tahu tempat-tempat di desa itu.
“Maaf bu, saya mau tanya. Apa ibu melihat Nathan lewat sini?” tanya Alyssa pada seorang ibu-ibu yang lewat di depannya.
“Iya, dia tadi lari ke arah sana setelah dikejar-kejar!” jawab ibu itu sambil menunjuk ke arah tempat Nathan berlari.
“Dikejar? Dikejar-kejar siapa bu?”
“Hehe.. sama ibu sendiri dan yang lainnya. Tapi kita nggak berhasil ngejar karena larinya cepet banget!” kata ibu itu buru-buru karena Alyssa sudah memasang ekspresi kesal di wajahnya.
Tanpa berpikir lama Alyssa lalu berjalan ke arah yang tadi ditunjukkan oleh ibu-ibu itu. Sambil memanggil nama Nathan, ia melihat ke kanan dan ke kiri. Hari sudah semakin gelap dan jalanan desa sudah cukup sepi. Hanya beberapa orang saja yang masih terlihat di jalan.
Alyssa masih terus mencari Nathan dan tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya. Alyssa tertarik ke balik pepohonan, ia ingin berteriak tapi mulutnya ditutup oleh tangan seseorang yang menariknya. Ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang itu.
“Nathan!”
“Ssttt!” Nathan meletakkan jari telunjuknya di bibir agar Alyssa diam.
”Nathan, kamu ngapain disini? ucap Alyssa dengan suara yang sangat pelan.
“Sembunyi!” jawab Nathan singkat. Ia mendongakkan kepalanya sedikit untuk mengintip apakah ada orang yang melihatnya atau tidak.
“Untuk apa sembunyi lagi? Semua ibu-ibu yang mengejarmu sudah pulang!”
“Iya, aku tahu mereka sudah pulang!”
“Kalau kamu sudah tahu, ayo kita pulang sekarang! Bi Lilis sangat mengkhawatirkanmu!” ajak Alyssa yang langsung menarik tangan Nathan untuk keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
“Bi Lilis atau kamu yang khawatir padaku?” Nathan menarik kembali tangan Alyssa dengan sedikit keras dan itu membuat Alyssa otomastis berbalik ke arahnya dan sekarang jarak mereka sangat dekat.
Saking dekatnya jarak mereka, Alyssa bisa merasakan hembusan nafas Nathan. Mata mereka berdua saling menatap satu sama lain. Jantung Alyssa mulai berdebar tak karuan.
“Kenapa ini? Kenapa jantungku seperti ini? Bukankah aku seharusnya membencinya sekarang?” gumam Alyssa dalam hatinya.
“Bi Lilis yang khwatir padamu dan aku hanya membantunya untuk mencarimu saja!” kata Alyssa mengalihkan pandangannya dari tatapan Nathan.
Nathan tersenyum melihat Alyssa yang menjadi salah tingkah. Ia tahu jika Alyssa masih peduli padanya walau pun gadis itu berkata sebaliknya.
“Sudahlah, ayo kita pulang!” kata Alyssa lagi.
“Jangan sekarang!”
“Kenapa jangan sekarang? Kamu mau nginep disini?” Alyssa mulai kesal.
“Itu, coba kamu lihat tiga remaja yang ada disana!” Nathan menunjuk tiga orang gadis remaja seusia Mia yang berada tidak jauh dari tempatnya bersembunyi. Mereka bertiga terlihat sedang mencari seseorang dan orang itu adalah Nathan.
“Memangnya kenapa dengan mereka? Apa mereka mengejarmu juga?”
“Iya, mereka ikut mengejarku dan bahkan lebih buas dari pada ibu-ibu disini!”
“Buas apaan sih?” Alyssa heran dengan sebutan buas yang diucapkan oleh Nathan.
“Nih, lihat tanganku penuh dengan cakaran mereka!” Nathan menunjukkan lengannya yang terkena cakaran kuku ketiga gadis itu.
“Bagaimana bisa kamu terkena cakaran mereka?” Alyssa melihat dengan seksama tangan Nathan yang terkena cakaran itu.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu, rasanya aku sudah berlari sangat kencang. Tapi salah seorang diantara mereka muncul di depanku entah darimana dan menarik bajuku. Dan jadilah seperti ini, aku terkena kuku panjang mereka. Sakit!” rengek Nathan dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
Alyssa merasa kasihan mendengar cerita Nathan. Akhirnya ia dan Nathan menunggu sampai ketiga gadis itu pulang ke rumah mereka. Duduk berdua di antara pepohonan yang rimbun suasana terasa sangat canggung bagi Alyssa. Sekuat hati ia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa ia harus membenci Nathan tapi malah hatinya berkata lain. Bagaimana pun ia berusaha rasa pedulinya pada Nathan tidak bisa ia bohongi. Meski laki-laki itu telah melakukan hal yang sangat buruk padanya tapi rasa bencinya masih dikalahkan oleh rasa sayangnya.
Tidak banyak pembicaraan yang terjadi antara mereka berdua karena Alyssa berusaha untuk menghindarinya. Sampai mereka melihat ketiga gadis itu sudah berjalan menjauh dari tempat persembunyiannya, Alyssa dan Nathan keluar dari balik pepohonan. Dengan sangat berhati-hati mereka berjalan pulang ke rumah bi Lilis. Beruntung jalanan desa yang sudah mulai gelap membuat wajah mereka tidak terlihat begitu jelas. Sepanjang jalan Nathan terus berjalan menunduk mengekor di belakang Alyssa.
Bi Lilis yang sudah lebih dulu ada di rumah berjalan mondar-mandir di depan teras rumahnya. Ketika dilihatnya Alyssa dan Nathan sudah berjalan ke arahnya, ia segera menghampiri mereka.
“Akhirnya kamu ketemu juga nak! Bibi sangat khawatir. Apa kamu baik-baik saja?” tanya bi Lilis sambil memegang lengan Nathan dan memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri seolah memeriksa apakah Nathan kembali dalam keadaan utuh.
“Aku baik-baik saja bi! Maaf sudah membuat bibi khawatir” balas Nathan.
“Syukur lah kalau begitu. Sekarang kita masuk ke dalam ya, kita makan malam bersama” bi Lilis menggandeng tangan Nathan untuk masuk ke dalam rumah dan Alyssa mengikuti di belakangnya.
Mereka bertiga makan malam bersama. Bi Lilis tak hentinya menanyakan pada Nathan pergi kemana sebenarnya dia tadi. Nathan lalu menceritakan semuanya pada bi Lilis dari awal ia dikejar oleh ibu-ibu sampai Alyssa datang mencarinya. Tak lupa ia membuat ceritanya seolah-olah begitu dramatis untuk mencari perhatian Alyssa. Tapi ekspresi wajah Alyssa begitu tenang, tidak menampakkan ketertarikan dalam cerita dramatis Nathan. Ia tetap melanjutkan makannya begitu saja membuat Nathan sedikit jengkel. Seusai makan Nathan memilih untuk mandi paling pertama, sementara Alyssa membantu bi Lilis untuk membereskan meja makan.
Malam semakin larut, sebenarnya Nathan ingin sekali bicara berdua dengan Alyssa. Tapi ia merasa Alyssa selalu menghindarinya. Sampai Alyssa masuk ke kamarnya dan beristirahat, Nathan tak juga mendapat kesempatan untuk bicara dengannya.
“Kalau sekarang nggak bisa, mungkin besok aku bisa bicara dengannya!” batin Nathan. Ia kemudian memutuskan untuk beristirahat juga di kamarnya.
***
Pagi hari yang cerah, sinar matahari sudah masuk menembus celah jendela kamar Nathan. Mengerjapkan matanya, Nathan melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia meregangkan sedikit otot-ototnya lalu bergegas bangun. Keluar dari kamar ia tidak melihat ada siapa pun di rumah. Pikirnya bi Lilis dan Alyssa sedang membuka warung makan tapi ternyata tidak. Nathan melihat warung makan bi Lilis masih tertutup.
“Mereka berdua kemana?”
Berjalan gontai kembali ke dalam rumah langkah Nathan terhenti saat mendengar ada suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah bi Lilis. Ia berbalik untuk melihat siapa yang datang. Mobil mewah yang Nathan sudah tahu siapa pemiliknya terparkir di halaman rumah bi Lilis. Nathan masih melihat ke arah mobil itu, meski sudah tahu siapa yang ada di dalamnya tapi ia menunggu sampai orang itu keluar dari mobil. Pintu depan mobil terbuka dan seseorang keluar dari sana, menutup pintu mobilnya kemudian orang itu memandang tajam ke arah Nathan.
__ADS_1
“Sial, kenapa dia mengikutiku kemari?”
***