
Keesokan harinya tepat jam sepuluh pagi Nathan sudah datang menjemput Alyssa. Seperti yang dikatakannya tadi malam, Nathan ingin mengajak Alyssa ke suatu tempat.
“Kita mau kemana?” tanya Alyssa ketika mereka sudah di dalam mobil.
“Nanti juga kamu tau” balas Nathan sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian mereka berdua tiba di sebuah rumah yang sangat mewah dengan halaman yang cukup luas. Terdapat kolam air mancur di tengah-tengah halaman, tanaman-tanaman tersusun rapi membuat mata betah lama memandangnya.
Beberapa orang pelayan menyambut kedatangan mereka di pintu depan rumah. Nathan terlihat agak cuek dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa membalas sapaan ramah para pelayan. Alyssa hanya mengikuti Nathan di belakang sambil tersenyum ramah membalas senyuman para pelayan itu.
“Akhirnya kamu pulang sayangku” terdengar suara lembut seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan yang masih tampak cantik.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekati Nathan dan mencium kedua pipinya sambil memeluknya dengan erat.
“Apa kabar Ma?” Nathan membalas pelukan wanita paruh baya itu.
“Oh, jadi ini rumahnya orangtua Nathan. Kenapa dia ngajak aku kesini sih? Aku kan belum siap kalau harus ketemu orangtuanya” batin Alyssa.
“Mama baik-baik saja. Kenapa kamu baru pulang sekarang?” kata wanita itu sambil melepaskan pelukannya.
“Ya aku baru pengen pulangnya sekarang Ma” jawab Nathan santai.
“Lalu siapa perempuan yang kamu ajak itu?” Nathan dan mamanya menoleh ke arah Alyssa bersamaan.
Alyssa memperlihatkan senyuman termanisnya pada wanita paruh baya itu.
“Dia Alyssa Ma, calon mantu Mama”.
Perkataan Nathan itu membuat Alyssa sedikit terlonjak. Dengan entengnya ia mengatakan hal itu, ia tidak tau betapa gugupnya Alyssa setelah kata ‘mantu’ itu keluar dari mulutnya.
“Salam kenal tante, nama saya Alyssa” ucap Alyssa seramah dan sesopan mungkin.
Tante Maya memandang Alyssa sesaat dari atas ke bawah tidak berkedip, membuat Alyssa semakin gugup dan takut. Pikirannya kacau, ia takut kalau sampai tante Maya tidak menyukai dirinya dan menentang hubungannya dengan Nathan.
“Kamu bukan artis seperti Nathan kan?” tanya tante Maya pada Alyssa.
“Eh.. emm.. iya tante, saya bukan artis” jawab Alyssa sedikit bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan tante Maya.
“Bagus kalau begitu! Sini nak, tante mau peluk calon mantu tante” kata tante Maya memanggil Alyssa untuk mendekatinya dan memeluknya.
Alyssa mendekat dan walaupun masih sedikit bingung tapi ia tetap memeluk tante Maya juga.
“Kamu kerja apa nak?” tanya tante Maya lagi sambil mengajak Alyssa duduk di sofa ruang tamu.
Seorang pelayan datang membawa minuman untuk ketiganya.
__ADS_1
“Sambil diminum nak” ucap tante Maya mempersilakan Alyssa untuk minum.
“Terima kasih tante” Alyssa menyeruput sedikit minumannya.
“Kamu belum jawab pertanyaan tante nak, kamu kerja apa?”
“Saya asistennya Nathan tante”.
“Hahaha... jadi Nathan jatuh cinta dengan asistennya sendiri?” tante Maya tertawa, melihat bergantian Nathan dan Alyssa yang duduk di depannya.
“Emangnya kenapa Ma? Ada yang salah?” tanya Nathan.
“Nggak nak, nggak ada yang salah. Mama jadi berpikir sejak kapan Alyssa bekerja denganmu, karena terakhir yang Mama tau asistenmu itu laki-laki”.
“Udah dua bulan lebih Ma”.
“Wahh.. kamu hebat sekali Alyssa! Bisa membuat Nathan jatuh cinta padamu dalam waktu dua bulan. Walaupun Nathan dulu sering gonta ganti pacar, tapi ia tidak pernah mengenalkannya pada tante. Nathan hanya akan mengenalkan pacarnya jika ia serius dengan hubungannya bersama pacarnya”.
“Mama kenapa ngomong kaya gitu sih?!” Nathan kesal pada mamanya sendiri.
“Loh kenapa? Mama kan bicara yang sebenarnya. Biar Alyssa tau kalau kamu itu serius dengan Alyssa” jawab tante Maya sambil tersenyum pada Alyssa.
“Terserah Mama aja. Aku mau ke belakang sebentar, mau main dengan Molly!” Nathan beranjak dari duduknya dan pergi ke belakang rumah.
“Anak kesayangan Nathan”.
“Anak?” Alyssa tidak percaya dengan pendengarannya.
“Maksud tante anak anjing kesayangannya! Hehe..”
Alyssa merasa lega karena Molly hanya anak anjing peliharaannya Nathan saja. Tadinya ia sempat berpikir kalau Nathan sudah mempunyai anak.
“Alyssa, tante punya permohonan ke kamu”.
“Apa tante?”
“Tolong jaga anak tante ya”.
“Eh.. iya tante. Saya pasti jagain Nathan”.
“Dia anak tante satu-satunya, tapi semenjak dia memutuskan untuk tinggal sendiri, tante jadi nggak bisa menjaganya dari dekat. Sebenarnya tante masih berharap Nathan mau tinggal disini lagi bareng tante, tapi anak itu susah sekali buat dibujuk”.
“Kalau boleh saya tau tante, kenapa Nathan memilih untuk tinggal sendiri?” tanya Alyssa.
“Dia nggak pernah cerita sama kamu?”
__ADS_1
Alyssa menggeleng pelan. Memang selama ini Nathan tidak pernah menceritakan tentang dirinya pada Alyssa. Dan Alyssa pun tidak pernah bertanya pada Nathan tentang keluarganya.
“Sebenarnya ada sedikit masalah antara Nathan dan papanya. Mereka bertengkar dan akhirnya Nathan keluar dari rumah ini”.
Alyssa merasa bersalah menanyakan hal yang sangat pribadi itu pada tante Maya. Ia pun akhirnya tidak bertanya lagi apa penyebab Nathan bertengkar dengan ayahnya, padahal Alyssa sendiri masih penasaran.
“Oh ya Sa, kamu bisa masak?” tanya tante Maya kemudian.
“Bisa tante, saya biasa masakin Nathan setiap hari” jawab Alyssa jujur.
“Oooh begitu rupanya, jadi karena itu Nathan menyukaimu”.
“Eh.. emm.. nggak tante” ucap Alyssa bingung.
Tante Maya hanya tersenyum melihat Alyssa. Ia bisa menilai bahwa Alyssa adalah orang yang tulus dan jujur walaupun ini adalah pertemuan mereka yang pertama.
“Alyssa, kamu mau bantuin tante masak untuk makan siang?”
“Mau tante! Tapi kenapa tante yang masak? Tadi saya lihat ada banyak pelayan di rumah ini”.
“Nathan itu pemilih soal makanan. Dia hanya mau makan masakan yang dibuat oleh koki dan tante sendiri. Sewaktu Nathan memilih tinggal sendiri, tante merasa kasihan sama Alvin yang setiap hari harus bolak balik kesini buat ngambil makanan yang sudah tante masak untuk Nathan. Tapi beberapa bulan yang lalu Alvin memberitahu tante kalau Nathan sudah mempunyai koki pribadi yang akan memasak untuknya. Nggak disangka koki yang dimaksud Alvin itu kamu nak. Tante senang karena masakannmu bisa cocok dengan lidah Nathan” jelas tante Maya panjang lebar.
Hari itu Alyssa dan tante Maya memasak bersama untuk makan siang. Keduanya sangat cocok dalam hal masakan. Sesekali mereka berbincang disela-sela kesibukkan mereka yang tengah memasak. Nathan senang melihat Alyssa yang langsung akrab dengan mamanya. Selama ini tante Maya selalu menunjukkan rasa tidak suka kepada pacar Nathan, terutama Nadia.
Sampai sore hari mereka bertiga menikmati waktu bersama. Tante Maya sudah menceritakan banyak hal tentang Nathan sewaktu kecil pada Alyssa dan itu membuat Nathan sangat malu. Karena beberapa cerita yang disampaikan mamanya itu adalah hal yang memalukan.
“Udah Ma, nggak usah diceritain lagi. Aku kan malu Ma” kata Nathan yang sudah memasang wajah cemberut.
“Kamu bisa malu juga Nat?” ledek Alyssa.
Tante Maya dan Alyssa tertawa melihat kekesalan Nathan. Selagi mereka asik tertawa tiba-tiba saja Om Rudi, papanya Nathan sudah berdiri di belakang mereka. Nathan yang menyadari papanya baru pulang dari bekerja langsung melihat arlojinya.
“Sepertinya ini sudah sangat sore. Ayo Sa, kita pulang sekarang” kata Nathan mengajak Alyssa pulang.
Tante Maya ingin mencegah anaknya untuk pergi tapi suaminya melarangnya.
“Biarkan saja dia pergi!” kata Om Rudi tegas.
Tanpa menoleh lagi Nathan langsung menarik tangan Alyssa dan mengajaknya pulang. Alyssa yang sudah tau kalau Nathan tidak akur dengan ayahnya hanya bisa mengikuti Nathan dengan diam tanpa banyak bicara. Alyssa tersenyum ketika melewati Om Rudi dan pamit pada kedua orangtua Nathan.
“Om, Tante, saya pulang dulu...”
Nathan semakin mempercepat langkahnya keluar dari rumah sambil masih menarik tangan Alyssa agar mengikuti langkahnya dengan cepat.
***
__ADS_1