
Ada sebuah desa di pinggiran kota yang masih nampak asri. Suasana persawahan di sekitar desa membuat mata betah berlama-lama memandangnya. Sangat nyaman dan terasa damai bagi Alyssa untuk bisa tinggal di desa tersebut. Sudah beberapa hari ini Alyssa tinggal di sebuah rumah sederhana bersama dengan wanita paruh baya yang bernama Bi Lilis. Sebelumnya om Rudi yang berniat untuk mencarikan Alyssa tempat tinggal sementara terpikirkan agar Alyssa bisa tinggal bersama Bi Lilis.
Bi Lilis adalah mantan asisten rumah tangga di keluarga Aditama yang sudah bekerja selama lebih dari dua puluh lima tahun dan sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Dan karena ingin menikmati hari tuanya di kampung halaman ia berhenti bekerja untuk keluarga Aditama sejak dua tahun yang lalu. Bi Lilis tinggal sendiri di rumah kecilnya karena memang ia tidak menikah. Tapi walau begitu ia tidak pernah merasa kesepian karena tetangganya sangat baik padanya dan terlebih lagi setidaknya tiap satu bulan sekali suami istri Aditama akan mengunjunginya.
Beberapa hari sebelumnya bi Lilis mendapat telepon dari mantan majikannya yang mengatakan akan menitipkan seorang gadis di rumahnya yang tidak lain adalah Alyssa, pacar Nathan. Mengetahui hal itu tentu saja bi Lilis sangat senang meski tidak tahu alasan sebenarnya kenapa Alyssa dititipkan padanya.
Awalnya Alyssa sempat merasa tidak enak jika harus merepotkan bi Lilis karena kehadirannya, tapi sikap bi Lilis yang begitu baik dan selalu memperhatikannya membuat Alyssa merasa nyaman sehingga ia sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri. Setiap hari Alyssa selalu membantu bi Lilis untuk berjualan. Bi Lilis membuka sebuah warung makan kecil di depan rumahnya yang setiap harinya sangat ramai dikunjungi oleh pelanggannya karena memang masakan bi Lilis sangat enak.
Seperti pagi ini, sebelum membuka warung makannya Alyssa membantu bi Lilis memasak menu jualannya hari ini. Dengan cekatan Alyssa membantu bi Lilis memotong beberapa sayuran sambil berbincang ringan.
“Nak, sudah berapa lama kamu pacaran dengan tuan Nathan?”
Alyssa menghentikan kegiatannya memotong sayur ketika mendengar bi Lilis menyebut nama Nathan. Ini untuk pertama kalinya bi Lilis bertanya padanya yang berhubungan dengan Nathan setelah beberapa hari ia tinggal di rumahnya.
“Kenapa bi Lilis bisa tahu?” tanya Alyssa yang sebenarnya sudah mengira jika om Rudi yang memberitahunya.
“Tuan Rudi yang bilang saat menghubungi bibi. Dia bilang akan menitipkan pacar tuan Nathan disini untuk sementara” jawab bi Lilis sambil tersenyum.
“Lalu, apa bibi tidak menanyakan alasan om Rudi menitipkan aku disini?”
“Tidak, karena bibi tahu pasti tuan Rudi punya alasan yang kuat makanya meminta bibi untuk mengijinkanmu tinggal disini bersama bibi”.
“Jadi om Rudi tidak mengatakan masalahku yang sebenarnya pada bi Lilis” batin Alyssa.
“Nak, apa kamu lagi ada masalah dengan tuan Nathan?”
“Kenapa bibi bertanya begitu?”
“Karena bibi merasa hubunganmu dengan tuan Nathan sedang tidak baik-baik saja”.
Alyssa hanya tersenyum sekilas menanggapi ucapan bi Lilis itu lalu melanjutkan pekerjaannya memotong sayur. Bi Lilis yang memahami kalau Alyssa belum mau bercerita apa pun padanya akhirnya melanjutkan memasaknya.
__ADS_1
***
Sementara di apartemen Nathan sudah menyiapkan semua keperluannya untuk dibawa menyusul Alyssa ke alamat yang sudah diberikan oleh papanya.
“Nat, kenapa kamu sampai membawa koper segala? Bukankah kita disana hanya sebentar?” Alvin bertanya pada Nathan setelah melihat koper yang ada di sampingnya. Ia melirik ke arah tas gendong yang dibawanya yang sudah dipastikan jika Alvin hanya membawa sedikit pakaiannya.
“Vin, kamu pikir membujuk Alyssa untuk kembali kesini membutuhkan waktu sehari dua hari? Aku yakin akan membutuhkan waktu yang lama mengingat kesalahanku padanya!”
Alvin berpikir sejenak dan memang benar apa yang dikatakan Nathan. Kesalahannya sudah sangat fatal dan pasti sulit mendapatkan maaf dari Alyssa.
“Jadi, kamu akan tinggal disana sampai Alyssa mau kembali lagi kesini?”
“Iya! Dan kamu tenang aja Vin, setelah rencana kita berhasil kamu bisa balik lagi kesini. Aku tahu kamu tidak bisa jauh dari Sarah”.
“Baiklah, kamu harus berusaha dan jangan berbuat kesalahan lagi yang bisa membuat Alyssa semakin marah padamu”.
“Pasti! Oh ya, apa Alan dan Jason sudah datang?”
“Sepertinya sebentar lagi mereka akan datang” selesai menjawab Nathan dengan kalimatnya terdengar bel berbunyi. “Itu pasti mereka!” kata Alvin yang langsung berjalan ke arah ruang tamu untuk membuka pintu.
“Mau apa kemari?” tanya Alvin ketus.
Belum sempat Nadia menjawab Nathan sudah datang menyusul Alvin ke ruang tamu.
“Kenapa mereka tidak disuruh masuk Vin?” tanya Nathan yang mengira jika yang datang adalah Alan dan Jason.
Alvin berbalik ke belakang dan duduk di sofa ruang tamu. Nathan heran melihat Alvin yang tidak mempersilakan Alan dan Jason masuk. Nathan segera ke pintu berniat menghampiri kedua orang yang sudah ditunggunya tapi saat dirinya melihat Nadia yang ada di depan pintu dengan reflek Nathan menutup pintu apartemennya. Tapi belum sempat sepenuhnya tertutup tangan Nadia sudah menahan pintu.
“Kumohon Nat, biarkan aku menjelaskan semuanya!” ucap Nadia masih menangis.
“Jelaskan secara singkat!” seru Nathan.
__ADS_1
“Tidak bisakah aku menjelaskannya di dalam?”
“Kalau di dalam pasti akan sangat lama dan aku tidak punya waktu. Jadi jelaskan disini saja. Kalau tidak mau sebaiknya kamu pulang!”
Mau tidak mau akhirnya Nadia terpaksa berbicara di depan pintu.
“Nathan, maafkan aku. Aku benar-benar masih mencintaimu makanya aku melakukan itu pada Alyssa. Aku cemburu melihatmu dengan wanita lain. Kamu harus mengerti bagaimana sakitnya aku melihatmu mencium Alyssa di depan umum dan aku terpaksa melakukan itu karena dirimu. Aku tidak mau kehilangan dirimu Nathan!” Nadia masih menangis dan Nathan tahu itu bukan akting.
“Lalu apa kamu mengerti bagaimana sakitnya aku ketika melihatmu bersama laki-laki lain?”
“Nathan, aku tahu aku salah dan aku minta maaf telah menduakanmu waktu itu. Tapi kumohon Nathan, beri aku kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya!”
“Aku memaafkanmu!” kata Nathan yang membuat Nadia sedikit tersenyum mendengarnya. “Tapi aku tidak bisa memberikanmu kesempatan lagi. Hatiku sudah aku berikan untuk Alyssa!” senyum di wajah Nadia seketika menghilang.
“Nathan, kumohon! Setidaknya kamu harus ingat bagaimana dulu kita selama dua tahun saling melengkapi dan merasakan kebahagiaan bersama. Aku akan memberikan kebahagiaan itu lagi bahkan lebih dari sebelumnya!”
“Maaf Nadia, tapi itu hanya akan menjadi masa laluku saja. Sekarang pulang lah dan lupakan aku!”
“Tapi Nathan..” belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnya Nathan sudah menutup pintu dengan cepat.
“Wah, ternyata dia masih belum menyerah. Aku jadi iri padamu!” ujar Alvin.
“Iri kenapa?” Nathan bingung.
“Iri karena ada yang mencintaimu sampai tak punya rasa malu”.
“Apa kamu ingin Sarah mengalami hal yang sama dengan Alyssa?”
“Kenapa bertanya begitu? Ya jelas jawabanku tidak mau lah!”
“Ya sudah kalau begitu jangan iri padaku karena seseorang yang mencintaiku seperti Nadia!” jawab Nathan kesal karena ia tak habis pikir, bisa-bisanya Alvin iri padanya karena Nadia.
__ADS_1
Tidak berapa lama setelah kepergian Nadia, dua orang yang sudah ditunggu sejak tadi oleh Nathan dan Alvin akhirnya datang. Nathan menjelaskan secara singkat rencananya pada Alan dan Jason sebelum mereka berangkat mencari Alyssa. Ia mengingat papanya memberitahunya agar membuat pertemuannya dengan Alyssa seolah-olah ketidaksengajaan dan untuk itu lah Nathan sangat memerlukan bantuan dari dua temannya itu.
***