
“Papa, bagaimana? Apa sudah ada kabar dari Alyssa?” tanya Nathan pada papanya dari sambungan telepon.
“Nanti datanglah ke rumah, kita makan malam bersama”.
“Tapi pa, bagaimana dengan Alyssa?” Nathan masih tetap bertanya karena tidak mendapat jawaban apa pun dari papanya.
“Datang lah dulu, papa akan memberitahumu nanti” jawab om Rudi lalu mematikan panggilan teleponnya.
Nathan begitu kesal ketika papanya mematikan panggilan teleponnya padahal ia belum mendapat jawaban apa pun tentang keberadaan Alyssa. Ini adalah hari ketiga sejak Alyssa menghilang. Nathan begitu merindukannya, setiap malam ia selalu bermimpi bertemu dengan Alyssa. Entah apa yang dilakukan Alyssa sekarang, Nathan benar-benar ingin mengetahuinya.
Saat tengah memikirkan tentang Alyssa tiba-tiba Alvin yang baru saja tiba di apartemennya langsung membuyarkan lamunannya.
“Woy! Pagi-pagi udah ngelamun aja! Ini sarapanmu, titipan dari tante Maya!” Alvin menyerahkan makanan yang dia bawa pada Nathan yang langsung mengambilnya.
“Vin, tadi kamu habis dari rumahku kan?”
“Iya lah, kamu pikir dimana aku mengambil masakan mamamu kalau bukan di rumah?” jawab Alvin sambil berlalu ke ruang tengah dan duduk santai disana sambil memainkan ponselnya.
“Apa kamu melihat Alyssa disana?”
Mendengar pertanyaan dari Nathan itu membuat Alvin sedikit terlonjak dan menghentikan kesibukannya dengan ponselnya.
“Apa om Rudi sudah menemukan Alyssa?”
Nathan terlihat kecewa dengan pertanyaan balasan dari Alvin yang berarti ia tidak melihat Alyssa ada di rumahnya. Padahal tadi dia sempat mengira jika papanya sudah menemukan Alyssa dan mengajaknya tinggal di rumah makanya ia disuruh datang untuk makan malam di rumah. Tapi ternyata itu semua hanya harapannya saja.
“Nathan?” Alvin memanggil Nathan yang terlihat kembali melamun.
“Aku pikir Alyssa sudah ketemu makanya papa menyuruhku makan malam di rumah”.
“Mungkin ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu berhubungan dengan Alyssa” Alvin berusaha menguatkan sahabatnya itu. “Sekarang makanlah, sebentar lagi Ben akan datang dan aku sudah menyiapkan diri untuk ikut belajar denganmu!”
__ADS_1
“Wah, kenapa cepat sekali kamu ingin ikut belajar? Aku pikir kamu akan menolak!”
“Percuma aku menolak, buang-buang waktu saja. Toh, ujung-ujungnya juga pasti aku akan ikut belajar kan!”
Nathan mengangguk setuju dan ia segera menuju ruang makan untuk memakan sarapannya. Saat jarum jam menunjukkan di angka sembilan, Ben sudah datang ke apartemen Nathan dengan membawa laptop dan beberapa bukunya. Ia duduk berhadapan dengan Nathan dan Alvin.
Pelajaran mereka di mulai, meski terlihat sedikit bingung dengan penjelasan yang diberikan Ben tapi kali ini Nathan lebih bersemangat. Bukan karena ada Alvin yang menemaninya melainkan lebih tepatnya ia jadi bersemangat karena melihat Alvin lebih bingung dengan pelajaran yang diberikan Ben dari pada dirinya. Alvin terlihat beberapa kali mendengus kesal karena otaknya sama sekali tak mendukungnya untuk kali ini. Mereka belajar sampai pukul tiga sore dan hanya istirahat saat jam makan siang.
“Aku pikir bisnis hanya tentang untung dan rugi saja. Aku tak menyangka banyak sekali hal-hal kecil yang harus diperhatikan. Aku pusing Nat, aku mau tiduran dulu” keluh Alvin saat mereka sudah menyelesaikan pelajarannya hari ini dengan Ben.
“Nikmatilah Vin, karena ini akan berlangsung sangat lama” ujar Nathan dengan senyum jahilnya.
“Kenapa lama?”
“Apa kamu tidak menyadari betapa bodohnya dirimu? Dari sepuluh soal yang diberikan Ben tadi tak satu pun jawabanmu ada yang benar!” Nathan tertawa puas melihat hasil nilai Alvin lebih rendah dari padanya.
“Sialan kamu Nat!” Alvin tak mempedulikan Nathan yang masih menertawakannya. Ia lebih memilih untuk memejamkan matanya sebentar sebelum bertemu dengan Sarah.
Pukul enam sore Nathan sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya. Sementara Alvin sudah pergi sejak sejam yang lalu dari apartemennya. Meraih kunci mobil di atas meja Nathan melihatnya sekilas. Gantungan kunci boneka berambut putih yang dulu diberikan Alyssa sebagai hadiah ulang tahunnya masih tergantung manis di kunci mobilnya. Nathan tersenyum mengingat kenangan itu dan tanpa ia sadari dirinya menangis saat mengenangnya.
“Papa mana ma?” tanya Nathan sembari berjalan masuk ke dalam rumah bersama mamanya.
“Papa sudah menunggu di meja makan. Ayo sayang, kita langsung makan malam dulu”.
Mereka bertiga makan malam dengan hening. Sebenarnya Nathan ingin langsung menanyakan tentang Alyssa pada papanya tapi begitu melihat ekspresi papanya yang seolah mengisyaratkan untuk tidak berbicara saat makan, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Usai makan malam om Rudi mengajak Nathan dan istrinya untuk duduk di ruang keluarga. Dan ini lah yang ditunggu-tunggu oleh Nathan, apa yang akan disampaikan oleh papanya.
“Nathan, apa kamu sangat mencintai Alyssa?” tanya om Rudi memulai pembicaraan.
“Iya pa! Apa papa sudah tahu dimana dia sekarang?”
Om Rudi mengangguk yang berarti itu adalah kabar baik, membuat tante Maya dan Nathan tersenyum bahagia karena akhirnya mereka menemukan Alyssa. Nathan sudah membayangkan sebentar lagi ia akan melepas kerinduannya pada wanita yang dicintainya itu.
__ADS_1
“Dimana Alyssa pa? Aku akan menjemputnya kesana!” ucap Nathan bersemangat.
“Nathan, papa sudah bicara dengan Alyssa dan dia terlihat sangat marah denganmu. Alyssa bahkan tidak mau melihat wajahmu dan meminta papa untuk tidak memberitahu keberadaannya padamu!”
“Tapi pa, aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf dan akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan padanya”.
“Iya papa tahu, papa juga sudah mengatakannya dan dia awalnya sempat menolak pertanggungjawaban darimu”.
“Tapi kenapa dia menolak? Kalau dia hamil bagaimana?” kali ini tante Maya yang bertanya.
“Papa sudah mengatakan itu padanya”.
“Lalu?” tanya Nathan tak sabaran.
“Dia memberi waktu sebulan. Kalau bulan depan dia bisa memastikan bahwa dirinya tidak hamil, maka ia akan pergi darimu selamanya”.
“Pa, aku sangat mencintai Alyssa! Aku mohon beritahu aku dimana Alyssa. Aku akan berusaha membujuknya agar dia mau menikah denganku. Hamil atau pun tidak aku akan tetap menikahinya pa. Jadi kumohon pa, berikan alamat Alyssa!” Nathan memohon pada papanya.
Om Rudi menghela nafas berat melihat putranya yang benar-benar mencintai Alyssa dan ingin bertemu dengannya.
“Sebenarnya papa sudah berjanji pada Alyssa untuk tidak mengatakannya padamu. Tapi papa rasa tidak ada salahnya kalau kamu memperjuangkan cintamu. Begini saja, papa akan memberikan alamatnya tapi buatlah seolah-olah kalian tidak sengaja bertemu!”
“Iya pa!”
“Dan kamu harus membuat Alyssa memaafkanmu. Dan jagalah dia, jangan sampai saat melihatmu nanti dia malah kabur untuk kedua kalinya darimu. Karena jika dia kabur lagi mungkin papa tidak akan bisa menemukannya. Dan sepertinya akan sulit dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk membuatnya memaafkanmu, jadi jangan sampai kamu membuat kesalahan lagi yang malah membuatnya semakin membencimu!”
“Baik pa, aku janji akan membuatnya memaafkan kesalahanku!”
“Baiklah! Dan selama kamu menemuinya ingat untuk belajar. Ben memberitahu papa bahwa kamu dan Alvin sangat payah dalam bisnis”.
“Pa, bisakah belajarnya kita tunda dulu sampai aku berhasil mendapatkan maaf dari Alyssa?”
__ADS_1
Om Rudi sedikit melotot pada Nathan yang mengartikan dia harus tetap belajar. Dan akhirnya Nathan menuruti saja keinginan papanya itu. Lagi pula ia bisa berbohong nantinya kan, bilang saja jika dia sudah belajar. Tidak mungkin Ben akan ikut bersamanya untuk menemui Alyssa. Pekerjaan Ben pasti jauh lebih penting dari pada harus mengikutinya untuk mencari Alyssa, begitu pikirnya.
***