
Rangga sedikit penasaran dengan sikap Nathan. Siapa yang dicarinya hingga membuat ia terlihat begitu khawatir? Itulah pertanyaan yang ada di dalam pikiran Rangga. Ia berusaha mengabaikannya tapi sangat sulit. Entah mengapa hatinya mengatakan jika Nathan sedang mencari Alyssa. Berusaha untuk menolak kata hatinya, Rangga meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada hubungan apa-apa di antara Nathan dan Alyssa. Hubungan mereka hanya sebatas artis dan asistennya saja.
Nathan menghampiri Alvin di ruang istirahat untuk menanyakan keberadaan Alyssa. Alvin memberitahunya bahwa Alyssa ada di mobil dan dengan cepat Nathan menuju parkir mobilnya, mengabaikan Alvin yang telah menyiapkan makan siang untuknya.
Di mobil, Alyssa sudah berhenti menangis namun matanya terlihat sedikit sembab. Dengan sedikit tersenyum Alyssa berusaha menguatkan hatinya yang masih terasa sakit.
Pintu mobil terbuka dan Nathan langsung duduk di samping Alyssa di kursi belakang mobil. Nathan melihat Alyssa tersenyum padanya tapi ia tidak bisa menyembunyikan kalau tadi ia sedang menangis. Dengan gerakan cepat Nathan langsung menarik Alyssa ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat kekasihnya hingga Alyssa terasa sedikit sesak.
“Aku sayang kamu Sa!”
“Emm.. Nat, meluknya jangan kenceng-kenceng”.
Nathan mengendurkan sedikit pelukannya. Ia menciumi puncak kepala Alyssa beberapa kali.
“Kamu marah?” tanya Nathan kemudian.
“Nggak kok”.
“Beneran?”
“Beneran Nat! Walau pun sedikit sakit melihatnya tapi aku tahu itu semua hanya akting”.
“Maafkan aku!” Nathan melepaskan pelukannya dan menatapa lekat ke arah Alyssa sambil memegang kedua tangannya. “Aku cuma nggak mau Nadia mengambil kesempatan begitu banyak makanya aku melakukan..”
“Aku ngerti! Emm.. sekarang lebih baik kita makan siang dulu yuk. Aku udah lapar” ajak Alyssa.
Nathan keluar lebih dulu dari dalam mobil dan selang beberapa menit kemudian barulah Alyssa yang keluar agar tidak ada yang curiga pada mereka. Dari jauh rupanya Rangga sedang mengamati. Ia melihat Nathan keluar dari mobil lalu disusul oleh Alyssa. Dirinya semakin menaruh curiga pada hubungan Nathan dan Alyssa. Tapi prinsipnya masih tetap sama seperti dulu, jika tidak ada yang mengaku sebagai pacar Alyssa maka ia akan terus mendekati gadis itu.
Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit seusai makan siang untuk Nathan beristirahat sebelum memulai syutingnya. Ia memanfaatkan waktunya untuk bermanja pada Alyssa. Diletakkannya kepalanya di pangkuan Alyssa dan ia memejamkan matanya sementara Alyssa mengusap-usap lembut rambut Nathan. Dan tentu saja Alvin sudah kebal dengan pemandangan ini. Kesal? Jelas saja Alvin kesal dan kalau sudah begini ia akan merutuki dirinya sendiri yang tak pernah menyatakan cintanya pada Sarah padahal mereka sekarang sudah semakin dekat.
__ADS_1
“Hei kalian! Tolong hargai keberadaanku disini!” teriak Alvin.
“Jangan hiraukan dia” kata Nathan pada Alyssa dan masih memejamkan matanya namun tidak benar-benar tertidur.
Alvin berjalan ke arah Nathan dan langsung menarik kakinya. Tentu saja itu membuat kepalanya merosot dari pangkuan Alyssa. Nathan langsung berdiri dan ingin membalas perbuatan Alvin itu. Ia mengejar Alvin yang berlari mengitari ruangan. Sementara Alyssa hanya tertawa kecil melihat dua laki-laki dewasa itu bertingkah seperti dua bocah kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Saat mereka tengah bercanda tiba-tiba Rangga datang menghampiri mereka.
“Wah, sepertinya seru nih” katanya ketika melihat Nathan dan Alvin saling mengejar.
Seketika Alvin dan Nathan melihat ke arah Rangga, begitu pun dengan Alyssa.
“Ada apa?” Nathan bertanya pada Rangga yang kini sudah duduk di samping Alyssa. Ia kesal pada Rangga karena laki-laki itu berusaha terus untuk mendekati pacarnya namun Nathan berusaha untuk tidak memperlihatkan kekesalannya.
“Apa boleh aku bicara berdua dengan Alyssa?”
“Mau bicara apa?” Alyssa mulai terlihat gelisah. Ia takut Nathan akan marah padanya jika ia bicara berdua dengan Rangga.
“Bicara tentang sesuatu yang penting” jawab Rangga.
Sebenarnya Nathan penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Rangga. Ingin sekali ia ikut dalam pembicaraan itu tapi ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Alyssa hanya mencintainya dan tidak ada tempat di hati Alyssa untuk Rangga.
“Kamu mau ngomongin apa?” tanya Alyssa ketika ia dan Rangga telah menemukan tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol.
“Sa, aku mau ngomong jujur sama kamu” kata Rangga dengan mantap. Ia sudah menyiapkan ini sebelumnya dan akhirnya hari ini ia akan mengutarakan perasaannya pada Alyssa.
“Jujur soal apa?”
“Alyssa, aku mencintaimu!”
Alyssa terkejut karena tidak menyangka Rangga akan mengatakan secara langsung bahwa ia mencintainya tanpa memberikan kata-kata pembuka terlebih dahulu. Alyssa menatap Rangga dengan perasaan tidak enak. Bagaimana pun juga hari ini ia harus mengatakan pada Rangga bahwa ia telah memiliki kekasih walau pun itu berarti ia akan menyakiti laki-laki yang telah begitu baik padanya itu.
__ADS_1
“Emm... Rangga, aku.. itu.. emm..” Alyssa sedikit tergagap.
“Alyssa!” Rangga kini telah menggenggam kedua tangan Alyssa. “Perasaanku ini tulus. Dari awal kita ketemu aku udah mulai tertarik sama kamu”.
Alyssa melepaskan genggaman tangan Rangga. Sungguh ia merasa tidak enak pada Rangga tapi ia harus mengatakannya agar Rangga tidak berharap lebih padanya.
“Rangga, emm.. aku sejujurnya merasa nyaman kalau sama kamu. Kamu itu orangnya baik dan asik, kamu bisa bikin aku ketawa kalau aku lagi sedih. Tapi nyamannya aku ke kamu itu sebagai teman, nggak lebih. Maaf Ngga..” setelah mengatakan itu perasaan Alyssa jadi tak karuan. Ia benar-benar tidak ingin hubungan pertemanannya dengan Rangga rusak hanya karena hal ini.
“Kenapa? Kenapa kamu cuma menganggap aku sebagai teman? Apa ada orang lain yang kamu sukai?”
“Rangga, aku minta maaf. Sebenarnya aku sudah mencintai orang lain” akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Alyssa.
Alyssa bisa melihat raut kekecewaan di wajah Rangga. Meski pun pria itu berusaha untuk tetap tersenyum padanya tapi Alyssa tahu Rangga sedang patah hati.
“Rangga, aku benar-benar minta maaf. Tapi sungguh aku nggak mau hubungan pertemanan kita rusak cuma gara-gara ini”.
“Siapa?” tanya Rangga.
“Siapa apanya?” Alyssa bingung dengan pertanyaan Rangga.
“Siapa orangnya? Orang yang kamu cintai itu”.
“Emm.. itu.. dia orang yang nggak kamu kenal. Dia temanku di kampung” jawab Alyssa bohong. Ia tidak bisa mengatakan bahwa Nathan lah orang yang ia cintai.
Rangga bukan pria bodoh, ia tahu betul kalau Alyssa saat ini tengah berbohong. Tapi ia pura-pura mempercayainya saja. Meski belum mempunyai bukti bahwa pria yang dicintai oleh Alyssa adalah Nathan tapi Rangga merasa yakin kalau tebakannya tepat.
“Rangga? Kita masih tetap menjadi teman kan?”
“Iya, kita tetap jadi teman!” Rangga mengucapakan kalimat itu dengan tersenyum.
__ADS_1
Meski kini hatinya terasa seperti tersayat tapi Rangga berusaha tegar. Ia akan tetap berusaha untuk menjadi teman terbaik bagi Alyssa. Ia akan setia menunggu Alyssa, siapa tahu hubungan Alyssa dengan orang yang dicintainya tidak berjalan mulus maka dirinya masih mempunyai kesempatan untuk mengambil hati Alyssa. Diam-diam ia berdoa dalam hati agar hubungan Alyssa dan orang yang dicintainya itu tidak berjalan baik. Jahat memang ia berdoa seperti itu, tapi itulah keinginannya saat ini.
***