
Malam harinya Alvin dan Sarah datang berkunjung ke apartemen Nathan. Mereka sengaja tidak memberitahu Nathan dan Alyssa tentang kedatangan mereka untuk memberikan kejutan tapi sebenarnya lebih tepatnya untuk mengganggu malam romantis pasangan pengantin baru itu.
“Sayang, sepertinya ada yang datang” kata Alyssa.
Nathan dan Alyssa sudah berada di kamar. Tadinya Nathan ingin memberikan lingerie pada Alyssa untuk ia pakai karena Alyssa masih saja ingin tidur dengan piyamanya padahal Nathan sudah sangat berharap malam ini akan menjadi malam yang panas bagi mereka.
“Sial!” Nathan melempar lingerie yang ia bawa ke tempat tidur. Alyssa terkikik melihat wajah Nathan yang begitu kesal.
Nathan berjalan keluar kamar. Ia sudah tahu siapa yang datang ke apartemennya. Ya, siapa lagi kalau bukan Alvin karena hanya dia yang bisa keluar masuk apartemennya dengan sesuka hati.
“Awas saja kamu Vin! Mulai besok kamu tidak akan bisa keluar masuk apartemenku dengan sesuka hatimu!” geram Nathan.
“Kenapa kesini malam-malam?” Nathan terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran Alvin dan Sarah yang telah mengganggu malamnya.
“Santai bro!” jawab Alvin tanpa merasa bersalah telah mengganggu sang tuan rumah.
Tanpa dipersilakan Alvin dan Sarah langsung menuju ruang tengah dan duduk santai di sofa. Mereka mengeluarkan makanan ringan dan beberapa minuman yang tadi sempat mereka beli sebelum datang ke apartemen Nathan.
“Pasti kalian sengaja datang kemari kan?” Nathan sudah menyusul kedua pasangan itu dan kini duduk dihadapan Alvin dengan tampang yang sangat kesal.
“Iih, kok tahu sih?” goda Sarah yang semakin senang melihat Nathan bertambah marah.
“Kalian ini...” Nathan tidak meneruskan kata-katanya karena Alyssa baru saja keluar dari kamar dan bergabung bersama mereka.
“Alvin, Sarah, kenapa nggak bilang kalau kalian mau datang? Kan aku bisa siapin makanan untuk kalian” Alyssa duduk di samping suaminya.
“Kalau kita bilang mau datang kesini aku yakin Nathan tidak akan mengijinkannya!” seru Sarah.
“Kalau kalian berdua datang di jam segini tentu saja tidak akan aku ijinkan. Kalian tidak lihat ini sudah jam berapa? Jam sepuluh malam! Jam segini itu waktunya orang-orang istirahat! Dan kamu Vin, bukankah besok kamu harus ke kantor? Jadi cepatlah pulang!” Nathan membuat gerakan tangan seolah-olah menyuruh Alvin dan Sarah pergi.
“Sabar dulu dong, kita habiskan dulu makanan dan minuman ini. Setelah itu aku dan Sarah akan pulang”.
“Kalau begitu cepat habiskan!” perintah Nathan.
Alvin, Sarah dan Alyssa secara bersamaan mengambil cemilan yang ada di meja, kecuali Nathan yang masih tampak kesal.
__ADS_1
“Bagaimana kamu di kantor?” Nathan mengajukan pertanyaan untuk Alvin.
“Masih seperti biasa. Ben selalu mengajariku sesuatu yang baru padahal yang sebelumnya saja aku masih bingung” jawab Alvin sambil mengunyah cemilannya. “Cepatlah ke kantor, aku sudah bosan menjawab pertanyaan orang-orang yang selalu saja menanyakanmu!” lanjutnya kemudian.
“Lalu kamu jawab apa?”
“Aku bilang aja kamu lagi bulan madu! Dan apa kamu tahu apa yang sekarang sedang menjadi bahan pembicaraan di kantor?”
“Ya mana aku tahu!” jawab Nathan ketus.
“Mau tahu?”
“Nggak!”
“Ooh, ya sudah!”
“Memangnya apa?”
“Mereka semua sekarang sedang membicarakan aku!” kata Alvin.
“Aku dengar mereka berbicara di belakangku ‘untuk apa manajernya Nathan setiap hari datang ke kantor ini sedangkan artisnya saja sedang asik berbulan madu’ langsung aja aku jawab dengan asal kalau aku juga sedang mendalami peran sama sepertimu dan mereka benar-benar mengira aku akan ikut bermain film denganmu Nat! Sungguh lucu mereka itu. Hahaha” Alvin tertawa membayangkan dirinya akan menjadi seorang aktor seperti Nathan.
“Wahh, aku jadi tidak sabar menunggu aktingmu sayang!” ujar Sarah.
“Tidak akan lama lagi sayang” canda Alvin.
Alyssa tertawa kecil mendengar cerita Alvin tapi tidak dengan Nathan. Ia masih kesal karena ternyata Alvin dan Sarah memang benar-benar datang ke apartemen untuk mengganggunya dan Alyssa. Tidak ada hal penting yang ingin disampaikan Alvin padanya.
“Kalau tidak ada hal penting cepat pulanglah. Aku ingin istirahat!”
Alvin mengambil minuman kaleng, membukanya kemudian meminum sedikit sebelum ia mulai berbicara lagi.
“Diki Poernomo, kemarin menghubungiku!” kata Alvin. Dan untuk hal inilah sebenarnya tujuannya datang ke apartemen Nathan selain sengaja untuk mengganggu tentunya.
“Kenapa dia menghubungimu?” Nathan penasaran.
__ADS_1
“Novelnya akan dijadikan film dan dia menginginkanmu untuk menjadi pemeran utamanya. Dia bilang karakter yang dia tulis di novelnya sangat cocok untukmu dan dia yakin kamu pasti bisa memerankannya dengan baik”.
Nathan tak percaya dengan apa yang dikatakan Alvin. Bagaimana mungkin seorang penulis novel terkenal yang sangat diidolakannya tiba-tiba meminta dirinya untuk memerankan karakter utama dalam novelnya yang akan dijadikan film?
“Jangan bercanda!” seru Nathan.
“Aku serius, makanya aku tidak langsung menolaknya seperti tawaran-tawaran sebelumnya. Aku tahu kamu sangat menantikan untuk bisa bekerja sama dengan Diki Poernomo” ucap Alvin.
Nathan terdiam. Sebenarnya hal ini memang yang paling ditunggu-tunggu olehnya. Bisa bekerja sama dengan penulis terkenal sekelas Diki Poernomo adalah suatu kebanggaan tersendiri buatnya. Apalagi ia sangat mengidolakan sosok beliau sejak dulu. Dan kenapa kesempatan untuk bekerja sama dengannya baru datang sekarang? Di saat ia sudah berjanji pada papanya untuk mulai bekerja di perusahaan dan meninggalkan dunia perfilman yang sudah membesarkan namanya. Sejujurnya Nathan sangat ingin menerima tawaran itu tapi ia tidak mungkin mengingkari janjinya pada papanya. Nathan menjadi bimbang.
“Nat?” Alvin menghentikan Nathan dari lamunannya.
“Eh, iya. Aku tidak bisa menerima tawaran itu!” jawab Nathan kemudian.
“Apa tidak sebaiknya kamu pikirkan dulu sebelum memberi keputusan? Ini kan yang kamu harapkan sejak dulu” ucap Alvin.
“Tidak perlu!” Nathan beranjak dari duduknya dan meninggalkan ketiganya ke kamar.
Alyssa melihat Nathan berlalu begitu saja. Ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak. Alyssa lalu meminta penjelasan dari Alvin.
“Apa yang kamu sampaikan tadi sangat penting baginya?” tanya Alyssa pada Alvin.
“Iya Sa. Dari dulu dia sudah mengidolakan Diki Poernomo dan sangat ingin bekerjasama dengannya. Tapi kesempatan itu baru datang di saat begini. Keputusannya tadi pasti sangat berat buatnya”.
Alyssa berpikir sejenak.
“Vin, kamu jangan tolak dulu tawaran itu ya” ucap Alyssa.
“Eh.. iya! Apa kamu mau membujuknya untuk menerima tawaran itu?”
“Nggak! Pasti akan percuma kalau membujuknya karena aku yakin dia tidak akan mengingkari janjinya pada papa. Tapi aku akan coba bicara dengan papa, siapa tahu papa berbaik hati mau mengijinkannya. Dan aku butuh bantuan kalian berdua untuk itu”.
“Kami siap membantu!” ucap Sarah.
Ya, Alyssa memang harus melakukan sesuatu untuk suaminya. Dia merasa bersalah dengan keadaan Nathan yang sekarang. Dia tahu jika Nathan terpaksa menuruti keinginan papanya untuk bekerja di perusahaan demi dirinya. Dan kini, ia ingin bisa menebus kesalahannya sedikit saja. Alyssa ingin melihat Nathan melakukan sesuatu yang benar-benar disukainya seperti dulu.
__ADS_1
***