
Alyssa dan Nathan mulai membersihkan apartemen. Tidak banyak yang harus mereka bersihkan karena apartemen masih cukup rapi ketika ditinggal sang pemilik untuk menikah. Sebelum jam makan siang mereka berdua sudah selesai membereskan semuanya.
“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Alyssa pada suaminya yang kini sedang merebahkan dirinya di sofa ruang tengah.
“Kamu mau masak?” Nathan menegakkan dirinya.
“Iya!”
“Tapi nggak ada bahan makanan apa pun untuk dimasak. Aku belum membelinya. Kita makan di luar saja. Nanti habis makan kita belanja semua kebutuhan dapur!” kata Nathan yang diiyakan oleh Alyssa.
Mereka berdua bersiap-siap untuk makan di luar. Setelah siap Nathan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mencari sebuah restoran.
“Kamu mau makan dimana?” Nathan bertanya pada Alyssa sambil tetap fokus mengemudi.
“Emm.. terserah kamu aja!” jawab Alyssa.
“Oke, kita makan di restoran langgananku ya! Disana semua makanannya enak karena dimasak oleh koki profesional”.
Mendengar jawaban Nathan itu membuat Alyssa jadi berubah pikiran. Ini saatnya dia menjalankan ide dari mama mertuanya untuk mengerjai Nathan.
“Sayang, aku tiba-tiba jadi ingin makan sesuatu”.
“Apa? Cepat katakan!” ucap Nathan bersemangat. Ya, memang inilah yang diinginkan Nathan. Akhirnya ia bisa merasakan menjadi seorang suami yang istrinya menginginkan sesuatu saat hamil.
“Aku pengen makan nasi campur!”
“Oke, nanti aku minta sama koki buat masakin kamu nasi campur ya!”
“Nggak Nat!”
“Kenapa nggak? Katanya tadi mau makan nasi campur?” Nathan mulai bingung.
“Aku nggak mau makan di restoran. Maunya di warung makan biasa aja”.
“Tapi sayang..” Nathan tidak melanjutkan kata-katanya. Lagi pula ia sudah pernah mengatakan pada Alyssa jika ia akan menuruti apa pun yang diinginkan oleh Alyssa. “Baiklah, kita akan mencari warung makan!” lanjutnya kemudian.
Beberapa kali Nathan melewati warung makan yang menjual nasi campur karena sedang ramai. Di jam makan siang seperti ini sangat sulit untuk menemukan warung makan yang sepi. Sampai akhirnya ia menghentikan mobilnya di sebuah warung makan yang tidak terlalu ramai dibandingkan dengan beberapa warung makan yang sempat dilewatinya tadi. Hanya ada lima pelanggan saja di warung makan itu.
“Kamu yakin mau makan disini?” Nathan bertanya sekali lagi pada istrinya sebelum turun dari mobil.
__ADS_1
“Emangnya kenapa? Kamu keberatan?”
“Eh, nggak kok sayang. Ya udah, ayo kita turun sekarang!”
Alyssa tersenyum jahil pada suaminya. Mereka berdua turun dari mobil dan segera menuju warung makan yang dimaksud tadi. Semua orang yang ada di warung makan tersebut dibuat tak percaya ketika melihat seorang Nathan Alexander berada di tempat itu.
“Bu, nasi campurnya satu ya!” kata Nathan pada ibu penjual yang kini memandang Nathan tanpa berkedip.
“Loh, kok cuma satu? Kamu nggak beli juga?” tanya Alyssa.
“Nggak, aku nanti pesen di restoran aja!”
“Tapi aku maunya makan nasi campur sama kamu. Kalau kamu nggak beli, aku juga nggak jadi beli!” Alyssa mulai pura-pura ngambek.
Sebenarnya ia tidak tega pada Nathan yang kini tengah terlihat bimbang antara mengikuti keinginannya atau tidak. Alyssa tahu jika Nathan tidak terbiasa makan masakan yang dibuat oleh sembarang orang. Tapi inilah ide dari mama Maya. Ia ingin mengajarkan pada anaknya untuk terbiasa memakan makanan yang dibuat orang lain. Jadi dia memanfaatkan kehamilan Alyssa untuk melakukan hal ini.
“Ya sudah, aku juga pesan” Nathan mengalah. “Bu, jadinya pesan dua porsi ya!” ucap Nathan.
“Bu?” Alyssa menggerakkan tangannya di depan ibu penjual karena sedari tadi ia terus menatap Nathan.
“Eh iya non! Maaf, ibu jadi gagal fokus. Habisnya ibu nggak nyangka ada artis terkenal mau makan di warung seperti ini” kata ibu penjual tersebut.
Nathan dan Alyssa memilih duduk di meja paling pojok. Semua pelanggan menatap Nathan dengan pandangan terpesona. Bahkan ada yang diam-diam mengambil foto dengan ponselnya.
Seorang wanita hamil yang berusia sekitar tiga puluhan memberanikan diri menghampiri meja mereka ketika Nathan dan Alyssa baru saja duduk.
“Maaf mengganggu, saya penggemar berat anda. Apa boleh saya minta foto bareng?” tanya wanita itu pada Nathan.
Nathan melihat perut wanita itu yang kini sudah hamil besar. Tidak ada salahnya ia mengabulkan permintaan wanita yang sedang hamil. Apa lagi kini istrinya juga sedang hamil. Nathan mengangguk dan wanita itu menyerahkan ponselnya pada Alyssa.
“Mbak, minta tolong fotoin ya” kata wanita itu pada Alyssa.
Nathan lalu berdiri di samping wanita itu yang sudah berpose terlebih dulu. Alyssa mengambil beberapa foto mereka dan tiba-tiba wanita itu meminta Nathan untuk memegang perutnya.
“Eh, tapi kan..” Nathan mencoba menolak seraya melihat ke arah Alyssa seolah meminta bantuan untuk menolak permintaan wanita itu.
“Sudah Nat, lakukan saja. Toh juga cuma pegang perut aja kan!” kata Alyssa kemudian.
Nathan akhirnya melakukannya juga. Dan setelah mendapatkan foto yang diinginkannya wanita hamil itu mengucapkan terima kasih pada Nathan dan Alyssa.
__ADS_1
“Terima kasih ya! Ternyata saya tidak salah mengidolakan anda. Anda benar-benar ramah!” wanita itu lalu tanpa sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis Nathan dan kemudian bergantian melihat ke jari manis Alyssa juga. “Wah, rupanya anda istrinya Nathan? Maaf ya mbak, tadi saya malah meminta Nathan memegang perut saya” wanita itu jadi merasa tidak enak pada Alyssa.
“Nggak apa-apa kok mbak!” jawab Alyssa ramah.
“”Kalian berdua memang pasangan yang serasi. Selamat ya atas pernikahan kalian, semoga kalian cepat diberikan momongan!”
Setelah wanita itu kembali ke tempat duduknya, pengunjung yang lain mulai mendekati meja Alyssa dan Nathan. Mereka juga tak mau ketinggalan untuk berfoto bersama artis. Kapan lagi mereka bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Nathan dengan terpaksa mengiyakan semua permintaan foto termasuk dengan ibu penjual yang juga ikut mengantri.
“Terima kasih, fotonya bagus sekali. Nanti akan ibu cetak yang besar dan ibu pajang disini biar orang-orang tahu kalau Nathan Alexander pernah makan disini” ujar ibu penjual itu.
Akhirnya kini Alyssa sudah bisa makan dengan tenang setelah tadi menjadi tukang foto dadakan. Ia sudah merasa sangat lapar dan langsung saja melahap nasi campur yang sudah dipesannya tadi.
“Kenapa nggak dimakan? Ini enak loh!” Alyssa melihat suaminya hanya diam saja. Sebenarnya Nathan tidak perlu menjawab juga Alyssa sudah tahu jawabannya apa.
“Sayang, coba dulu dikit. Nanti kalau kamu emang nggak suka, nggak apa-apa kalu nggak dimakan. Tapi setidaknya cobalah dulu, ini beneran enak kok!”
“Tapi aku nggak bisa!”
“Katanya mau nurutin semua permintaanku” kata Alyssa.
“Ya udah, aku coba dikit!” Nathan mulai menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Alyssa menperhatikan suaminya. Raut wajah Nathan menampakkan keterpaksaannya melakukan itu hanya karena keinginan istrinya. Dengan sulit Nathan menelan makanannya kemudian meminum air mineralnya banyak-banyak.
“Sayang, sudahlah. Nggak usah dipaksakan!” kata Alyssa ketika melihat Nathan akan memakannya lagi.
“Tapi..”
“Nggak apa-apa kok! Ngelihat kamu makan sekali aja udah cukup buat aku. Ngga usah diterusin kalau emang nggak bisa!”
Alyssa benar-benar tak tega melihat Nathan yang terpaksa memakan makanannya. Bukan hal yang mudah bagi suaminya itu untuk makan masakan orang lain yang tak cocok di lidahnya. Dirinya merasa bersalah karena telah mengerjai suaminya.
Setelah Alyssa menyelesaikan makannya mereka kemudian menuju supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur. Tadinya Nathan ingin menemani istrinya ke dalam tapi Alyssa menolak karena pasti ada saja pengunjung disana yang akan mengenalinya dan kemudian meminta untuk foto bareng lagi. Alyssa tidak ingin membuang banyak waktu karena ia ingin segera memasak untuk suaminya. Setelah tadi ia mengerjai Nathan, ia ingin membayarnya dengan membuatkan Nathan makan siang.
Tidak sampai satu jam mereka berdua telah tiba di apartemen. Alyssa dengan gesit segera mulai memasak untuk suaminya yang sudah sangat kelaparan.
“Ini sayang, silakan dimakan!”
“Suapin!” Nathan tiba-tiba bersikap manja.
__ADS_1
***