
Nathan sudah sampai di rumah Alvin. Ia segera membukanya dengan kunci yang ia pegang. Ya, Nathan mempunyai kunci rumah Alvin. Menyusuri setiap sudut rumah sambil memanggil-manggil nama Alyssa, namun Alyssa sudah tidak ada. Nathan semakin panik, tapi sebisa mungkin ia harus berpikir dengan jernih kemana Alyssa pergi. Siapa kira-kira orang yang bisa membantunya.
“Rangga!”
Hanya Rangga satu-satunya orang yang Nathan ketahui berteman baik dengan Alyssa selain Alvin tentunya. Tapi saat ini tidak mungkin Alyssa menemui Alvin karena ia sedang liburan bersama Sarah. Jadi Rangga adalah orang yang tepat yang akan Alyssa jadikan tempat untuk mengadu. Tanpa berpikir panjang Nathan segera menuju rumah Rangga.
Nathan sudah tiba di rumah Rangga tapi hanya ada pelayannya yang menyambutnya.
“Kemana Rangga?” tanya Nathan dengan tidak sabar.
“Tuan Rangga sedang keluar rumah tuan”.
“Kapan dia datang?”
“Maaf tuan, saya tidak tahu pasti kapan datangnya. Tapi saya akan memberitahunya kalau anda ada disini tuan”.
“Ya, cepat hubungi dia!”
“Baik, permisi tuan. Saya akan menghubungi tuan Rangga dan membuatkan anda minum”.
“Kemana dia? Kenapa di situasi seperti ini dia malah tidak ada? Apa dia pergi karena menemui Alyssa? Iya, pasti dia menemui Alyssa!” batin Nathan.
***
Rangga sedang berada di rumah sakit menunggu Lucas untuk mengaku. Namun Lucas masih bungkam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ancaman yang diberikan Rangga tak cukup untuk membuatnya buka suara. Tapi Rangga tak kehabisan akal, ia yang sedari awal sudah mencurigai Nadia akhirnya mempunyai ide yang sangat bagus untuk mengungkapkan masalah ini.
Rangga mengambil potret Lucas yang tengah terbaring dengan infus terpasang di tangannya. Luka lebam di wajahnya sudah mulai membaik tapi masih terlihat kalau lebam itu cukup parah sebelumnya.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa memotretku?” protes Lucas.
Rangga tak menjawab. Ia berjalan keluar dari ruangan Lucas.
“Sekarang kita tinggal lihat saja. Kalau kamu datang berarti ini semua ada hubungannya dengan Nadia” gumam Rangga.
Rangga mengirim foto Lucas ke ponsel Rere dan tentu saja dengan nomor lain.
__ADS_1
Tolong jemput aku di rumah sakit XXX!
Itu pesan yang dikirim oleh Rangga kepada Rere. Jika semua sesuai dugaannya kalau Nadia adalah dalang dibalik semua ini, pasti Rere akan menemui Lucas. Dirinya hanya perlu bersembunyi di ruang rawat inap Lucas untuk melihat apakah Rere datang atau tidak.
Cukup lama ia menunggu kedatangan Rere. Sambil menunggu ia masih terus memberikan ancaman yang sia-sia pada Lucas.
“Kalau tidak mau mengaku juga, aku bisa berbuat lebih buruk daripada ini!”
Dan seperti yang sudah ia pikir, Lucas tetap tidak membuka mulutnya juga. Setelah hampir satu setengah jam menunggu akhirnya Rangga mendengar langkah-langkah kaki seseorang sedang menuju ke ruang rawat inap Lucas.
“Apa itu Rere?” batinnya.
Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi dan sedikit membuka pintunya agar ia bisa melihat reaksi spontan antara Rere dan Lucas.
“Dia kenapa? Apa dia kebelet?” pikir Lucas yang memang tidak tahu rencana Rangga.
Rangga sudah mengintip melalui kamar mandi dan benar seperti dugaannya, Rere sudah masuk ke ruang rawat inap itu. Rere yang melihat Lucas dengan kondisi terbaring di tempat tidur pasien langsung menghambur dan memeluk Lucas.
Lucas yang menyadari apa rencana Rangga berusaha untuk memberitahu Rere melalui sorot matanya. Tapi Rere tak mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Lucas. Ia menangis sesenggukan melihat kondisi Lucas.
Wajah Lucas sudah terlihat pucat. Rencana mereka sudah gagal karena jebakan dari Rangga. Kini ia mengerti maksud Rangga memotret dirinya tadi. Ya, tentu saja untuk dikirimkan pada Rere agar dia segera kemari. Bagaimana dengan Nadia? Apa yang akan dilakukan Nadia pada keluarganya? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Lucas.
“Baiklah, karena ini sudah ketahuan maka aku harus berhenti berpura-pura!” kata Lucas dalam hati.
“Kakak, jangan menangis!” Lucas mengusap air mata yang sudah membasahi pipi Rere.
“Bagaimana aku tidak menangis kalau melihat kondisimu yang seperti ini! Lihatlah, wajah tampanmu sudah babak belur begitu! Aku jadi merasa bersalah padamu! Apa kamu tahu seberapa cemasnya aku tidak mendapatkan kabar darimu? Dan sekarang aku harus melihatmu di rumah sakit dengan keadaan seperti ini! Ini semua gara-gara Nadia, dia harus bertanggung jawab!” Rere kembali terisak.
“Kakak, bukan masalah kondisiku sekarang yang harus kamu cemaskan”.
“Apa maksudmu?”
Lucas menunjuk ke arah kamar mandi dan Rere menoleh ke belakang. Rangga sudah berdiri dengan senyum puas di wajahnya. Ia masih memegang ponselnya mengarahkan kepada Lucas dan Rere.
Rere sangat terkejut melihat Rangga sudah ada disana. Ia lalu menyadari kebodohannya yang sudah dijebak oleh Rangga.
__ADS_1
“Wah, wah, wah! Rupanya kalian berdua kakak adik! Kalian sangat kompak!”
Rere yang sudah tak punya celah untuk mengelak akhirnya hanya bisa pasrah saja. Nadia sudah tidak penting lagi, yang terpenting sekarang adalah keadaan Lucas, adiknya dan apa yang akan dilakukan Rangga padanya sekarang setelah ia mengetahui semuanya.
“Apa maumu?” Rere bertanya pada Rangga yang sudah memasukkan ponselnya ke saku.
“Tidak ada! Aku sudah mendapatkan semua bukti! Kamu urus saja adikmu dan aku akan menyelesaikan masalah yang kalian buat!”
Rangga akan berbalik untuk pergi tapi tiba-tiba Rere berjalan ke arahnya dan menghentikan langkah Rangga untuk keluar.
“Rangga, aku perlu bicara denganmu!” kata Rere.
Sebelum Rangga menjawab, ponselnya berbunyi dan itu panggilan masuk dari pelayan rumahnya.
“Iya Bi, ada apa?”
“Tuan, ada tuan Nathan di rumah sedang menunggu anda”.
“Sampaikan padanya aku akan segera pulang!”
“Baik tuan!”
Rangga menutup panggilan teleponnya. Ia menatap wajah Rere sejenak. Ada penyesalan yang terlihat di mata gadis itu. Tapi Rangga tak mau terkecoh begitu saja. Bagaimana pun Rere dan Nadia sama saja baginya.
“Kamu simpan dulu apa yang mau kamu katakan padaku. Nanti kita akan bicara! Sekarang aku ada urusan yang lebih penting!” Rangga berjalan ke arah pintu dan sudah membuka pintu.
“Tapi Rangga..” Rere masih mencoba mencegahnya keluar.
Rangga berbalik dan menoleh ke arah Rere lagi.
“Kamu tenang saja! Aku tidak akan memberitahu Nadia dulu kalau kejahatannya sudah terbongkar. Dan kalau kamu masih ingin melihat adikmu, sebaiknya kamu juga tidak mengatakan apa-apa pada Nadia. Biar itu menjadi urusanku. Sekarang kamu hanya perlu menjaga adikmu itu!”
Rere sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sangat menyesali perbuatannya. Dan sekarang ia terancam akan kehilangan pekerjaan. Bagaimana ia bisa melunasi semua hutang keluarganya? Belum lagi saat ini adiknya sedang dirawat di rumah sakit.
***
__ADS_1