Aktor Tampan Pujaan Hati

Aktor Tampan Pujaan Hati
Aku Pergi


__ADS_3

Alyssa masih terdiam. Kata-kata wanita mura*** yang baru saja keluar dari mulut Nathan masih terdengar di telinganya. Kata-kata itu seperti menusuk jantungnya, terasa sakit karena ia tak menyangka Nathan akan menganggapnya begitu. Air mata mulai membasahi pipinya.


“Kenapa menangis?” tanya Nathan lalu mendekatkan dirinya pada Alyssa.


Alyssa menghapus air matanya meski begitu tetap saja air matanya keluar lagi dan lagi.


“Nathan, aku mohon, dengar penjelasanku dulu!” Alyssa meraih tangan Nathan dan menggenggamnya kuat.


“Apa? Apa lagi? Aku tidak butuh penjelasanmu! Hari ini kamu sudah membuktikan padaku wanita seperti apa dirimu!”


“Nathan, dia sudah menjebakku!” Alyssa berteriak karena Nathan tidak mau mendengarkan penjelasannya.


“Hahaha!” Nathan tertawa. “Menjebakmu? Baik! Anggap saja yang kamu katakan itu benar! Dia menjebakmu! Tapi bukankah kamu menikmati jebakan itu?”


“Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa dengannya!”


“Apa kamu bisa membuktikannya?”


Alyssa terdiam lagi. Sebenarnya ia sendiri tidak yakin dengan apa yang diucapkannya barusan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang telah lelaki itu perbuat padanya. Dirinya benar-benar tidak sadar dan tidak mengingat apapun.


“Bagaimana? Apa bisa kamu membuktikannya?” Nathan bertanya lagi dan terlihat seringai licik di wajahnya.


“Aku...”


“Tidak bisa kan?”


Alyssa diam seribu bahasa. Bagaimana ia harus membuktikannya pada Nathan? Ia belum mempunyai bukti apa pun.


“Kalau kamu memang tidak bisa membuktikannya, aku akan membantumu. Aku bisa membuktikannya!”


Alyssa memandang lekat wajah Nathan.

__ADS_1


“Benarkah? Benarkah dia bisa membantuku untuk membuktikannya?” batin Alyssa.


Nathan berjalan semakin mendekat ke arah Alyssa. Dan ketika sudah sangat dekat ia memeluk Alyssa dengan sangat erat. Ia langsung mencium bibir Alyssa dengan kasar. Alyssa sudah merasa ada yang salah pada diri Nathan. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Nathan tapi usahanya sia-sia. Semakin ia berusaha untuk melawan semakin erat Nathan memeluknya.


“Nathan lepaskan!” Alyssa berusaha mendorong tubuh Nathan tapi percuma saja.


Nathan sudah mulai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia semakin liar terhadap Alyssa. Mencium gadisnya dengan kasar dan tangannya sudah mulai membuka retsleting dress pacarnya itu.


“Nathan apa yang kamu lakukan? Berhenti! Aku bilang berhenti Nathan!” walau pun Alyssa berteriak, Nathan tak mempedulikannya.


Alyssa masih berontak berusaha menghindar dari ciuman kasar Nathan. Saat Nathan mencium bibirnya lagi dengan cepat Alyssa menggigit bibir Nathan yang membuat Nathan kesakitan.


“Aaaawww!” teriak Nathan kesakitan dan reflek ia melepas pelukannya. Nathan memegang bibirnya yang terasa sakit dan perih.


Alyssa tidak melewatkan kesempatan untuk kabur. Ia tahu saat ini Nathan sedang marah dan mabuk. Dan pastinya bisa berbuat sesuatu yang lebih dari ini. Dengan cepat Alyssa berlari ke arah pintu. Saat tangannya sudah memegang gagang pintu, rambutnya ditarik kasar oleh Nathan.


Raut wajah Nathan semakin menampakkan kemarahan. Ia tidak menyangka Alyssa berani menggigit bibirnya dengan keras dan itu semakin membuatnya emosi. Alyssa berusaha melepaskan tangan Nathan dari rambutnya. Tapi Nathan langsung menariknya dengan kasar dan melemparkan tubuhnya ke lantai. Kepala Alyssa terbentur dengan ujung tempat tidur. Ia merasakan sakit berdenyut di kepalanya. Nathan sudah mengunci pintu kamarnya dan membuang kuncinya ke sembarang arah. Entah kemana kunci itu terlempar Alyssa tak melihatnya karena kepalanya masih terasa sakit.


“Nathan kumohon! Jangan sakiti aku!” Alyssa memohon pada Nathan yang kini sudah berjalan ke arahnya kembali sambil melepas kancing bajunya.


Kini sekuat apa pun Alyssa berusaha melepaskan diri dari Nathan tetap saja tenaganya tidak sebanding dengan laki-laki yang kini sudah berada di atas tubuhnya. Alyssa menangis mendapat perlakuan kasar dari pacarnya.


“Nathan kumohon berhenti!” pinta Alyssa.


Tapi Nathan tak peduli dengan ucapan Alyssa itu. Ia tetap saja melakukan aksinya dengan kasar tanpa memikirkan Alyssa yang sudah menangis sedari tadi.


Alyssa meringkuk di atas tempat tidur dan merasakan perih di area sensitifnya. Ia masih menangis meratapi nasibnya kini. Ia melihat ke samping, Nathan sudah tertidur dengan tubuh polosnya setelah merenggut kehormatannya. Alyssa tak menyangka pria yang selama ini ia cintai tega melakukan hal ini padanya.


Kini rasa benci pada Nathan telah menyelimuti Alyssa. Kebenciannya begitu besar pada pria yang tidur di sampingnya itu. Perlahan Alyssa beranjak dari tempat tidur dan meraih bajunya. Meski masih terasa perih Alyssa berusaha menahannya. Ia mengenakan pakaiannya kembali, merapikan sedikit rambutnya yang sudah berantakan. Sambil terus menangis ia mencari kunci kamar yang dilempar oleh Nathan tadi.


Alyssa mengambil tasnya di ruang tengah. Mengusap air matanya lalu pergi meninggalkan apartemen Nathan. Ia sangat membenci tempat ini dan berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di tempat tersebut.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah Alvin, Alyssa segera mengemasi barang-barangnya. Ia ingin pergi jauh. Sejauh mungkin agar tak melihat wajah Nathan lagi. Alyssa mencoba menghubungi Alvin tapi ponselnya tidak aktif. Ia memutuskan untuk mengirim pesan pada sahabatnya itu.


Alvin, maaf aku harus pergi. Jangan tanya aku kemana, karena aku tidak akan memberitahumu. Aku ingin menenangkan diri. Dan satu lagi, kumohon jangan memberitahu orangtuaku. Aku tidak ingin mereka khawatir. Biarlah mereka menganggap aku masih disini. Jika aku sudah merasa lebih baik, aku akan pulang menemui orangtuaku. Dan sampai saat itu tiba, jangan mencariku. Aku juga mendoakan semoga hubunganmu dengan Sarah bisa langgeng. Terima kasih sudah menjadi sahabatku selama ini. Aku pergi!


Air matanya tak bisa dibendung lagi saat ia mengetik pesan itu untuk sahabatnya. Walau tak tahu ia akan pergi kemana tapi tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan Nathan. Alyssa menonaktifkan ponselnya, ia sengaja melakukannya agar Nathan tak bisa melacak keberadaannya.


Alyssa meninggalkam rumah Alvin. Ia berjalan sambil mengeret kopernya ke arah jalan besar. Ia sedang mencari taksi di pinggir jalan namun matanya menatap kosong ke arah jalanan, tidak benar-benat fokus untuk melihat taksi yang lewat. Ia tak menyadari ada mobil yang berhenti tepat di depannya. Saat kaca mobil itu terbuka dan suara laki-laki memanggil namanya barulah Alyssa tersadar dari lamunannya.


“Alyssa!” kata suara dari dalam mobil.


Alyssa terperangah melihat seseorang yang memanggil namanya. Seorang pria paruh baya yang sudah dikenalnya sebelumnya. Dia adalah Om Rudi, ayah Nathan.


***


Nathan terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya sembari berusaha mengingat kejadian tadi. Nathan sudah ingat akan apa yang dilakukannya pada Alyssa dan ia melihat ke samping. Alyssa sudah tidak ada.


“Pasti wanita mura*** itu sedang di kamar mandi” begitu pikirnya.


Nathan beranjak dari tempat tidurnya untuk ke kamar mandi menyusul Alyssa. Tapi matanya tiba-tiba tertuju pada bercak darah yang ada di sprei tempat tidurnya. Perasaan bersalah masuk ke dalam tubuhnya setelah melihat bercak darah itu tapi ia tersenyum senang melihatnya.


“Jadi memang benar dia tidak melakukan apapun dengan pria itu”.


Nathan tersenyum penuh kebahagiaan menuju kamar mandi tapi senyumnya memudar saat tak melihat Alyssa disana.


“Apa mungkin dia lagi masak?”


Nathan memutuskan untuk membersihkan dirinya dulu sebelum menemui Alyssa. Dan ia sudah menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf pada Alyssa dan akan bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat.


Setelah mandi dan mengenakan pakaian Nathan berjalan keluar kamar dan sempat terkejut melihat apartemennya sudah bersih. Seingatnya terakhir kali yang ia lihat apartemennya sudah seperti kapal pecah saja.


“Dia masih sempat-sempatnya membersihkan apartemenku” batinnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Namun senyum yang menghiasi wajah Nathan memudar saat tak melihat Alyssa memasak di dapur. Ia mencari ke setiap sudut apartemennya namun tak juga menemukannya. Nathan sudah terlihat panik sekarang. Berusaha menyingkirkan pikiran bahwa Alyssa telah pergi darinya. Ia ingin menelpon Alyssa tapi teringat ponselnya sudah ia hancurkan. Dengan cepat ia mengambil kunci mobilnya dan menuju rumah Alvin untuk menemui Alyssa.


***


__ADS_2