
Pagi hari seperti biasa Alyssa sudah berada di Apartemen Nathan untuk memasak. Hari ini ia memasak nasi goreng sesuai permintaan Nathan kemarin.
“Wah kayanya enak nih nasi gorengnya” kata Alvin yang sudah tiba di apartemen Nathan pagi itu.
“Eh Vin, aku nggak lihat kamu datang” kata Alyssa masih sibuk dengan nasi gorengnya.
“Ya kamunya sibuk begitu jadi nggak tau kalau aku dateng. Si Nathan belum bangun Sa?” tanya Alvin yang daritadi tidak melihat Nathan.
“Belum. Palingan bentar lagi juga dia bangun”.
“Aku udah bangun daritadi” kata Nathan yang keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan.
“Nat, nanti jangan lupa kamu ada acara gala premier film. Kamu udah siapin baju buat kesana?” tanya Alvin.
“Oh itu acaranya nanti?”
“Jangan bilang kamu lupa Nat!”
“Aku lupa Vin, hehe..” Nathan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil terkekeh.
“Ya udah, kamu pakai aja baju yang ada di lemarimu. Nanti biar Alyssa yang bantu milihin yang pas buat acara nanti malam” kata Alvin lagi.
Nathan hanya mengangguk tanpa menjawab kata-kata dari Alvin. Ia tidak ingin berdebat masalah pakaian dengannya. Padahal sebenarnya Nathan ingin tampil sempurna di depan banyak orang. Paling tidak dia harus mempunyai setelan jas baru dari perancang busana terkenal untuk acaranya nanti malam. Tapi karena kesalahannya sendiri yang lupa dengan acara penting nanti malam akhirnya ia terpaksa akan mengenakan jas nya yang lama dan sudah pernah ia pakai sebelumnya. Padahal Alvin sudah mengingatkannya jauh-jauh hari untuk menyiapakan apa yang akan dikenakannya nanti.
Ketika akhirnya nasi goreng buatan Alyssa sudah dihidangkan di atas meja makan, mereka bertiga sarapan bersama.
“Nathan, habis sarapan aku mau keluar sebentar ya, boleh?” kata Alyssa meminta ijin.
“Kemana?”
“Mau ke supermarket beli bahan-bahan buat bikin kue”.
“Tumben bikin kue Sa” kata Alvin sambil menikmati nasi gorengnya.
“Iya, aku mau bikin kue buat ngerayain film barunya Nathan yang mau tayang”.
“Ide bagus tu, kita rayain kecil-kecilan” kata Alvin bersemangat.
“Oke, kita rayain besok malam aja gimana?” tanya Nathan.
“Setuju!” jawab Alyssa dan Alvin bersamaan.
Setelah selesai dengan sarapannya Alyssa keluar sebentar membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Sementara Nathan dan Alvin duduk di ruang tengah sambil menonton berita.
“Nat, aku dapet telepon dari Rangga kemarin, katanya dia mau ketemu sama kamu” Alvin memulai pembicaraan.
“Rangga Wijaya?”
“Iya”
__ADS_1
“Kenapa katanya?”
“Dia mau nawarin kamu buat main bareng di film barunya”
“Oke, kapan dia mau ketemu?”
“Aku bilang ke dia dua hari lagi, kebetulan kamu nggak ada jadwal apapun hari itu”.
***
Di supermarket Alyssa sedang sibuk memilih bahan-bahan yang cocok untuk kuenya nanti. Rencananya ia akan membuat beberapa jenis kue yang telah ia pelajari dari internet. Setelah dirasa belanjaannya cukup Alyssa segera menuju kasir untuk membayar.
“Semuanya empat ratus lima puluh ribu rupiah” kata petugas kasir sambil tersenyum ramah pada Alyssa.
Alyssa membuka tasnya dan akan mengambil dompetnya. Tapi ia mulai panik, dompetnya tidak ada di dalam tasnya. Ia mengingat-ingat dimana dompetnya tertinggal dan sepertinya tertinggal di dalam taxi tadi saat ia akan ke supermarket.
“Mbak, emm.. maaf ya saya nggak jadi beli ini semua” kata Alyssa merasa tidak enak hati kepada petugas kasir yang raut wajahnya berubah menjadi kesal.
“Tapi mbak, ini semua sudah...” kata-kata petugas kasir terpotong karena ada yang menyelanya.
“Biar saya yang bayar belanjaannya dia mbak” suara laki-laki di belakang Alyssa otomatis membuat Alyssa dan petugas kasir menoleh padanya.
Alyssa menatap laki-laki itu, ia merasa pernah melihatnya tapi dimana ia pun tidak tahu. Wajah laki-laki itu tampak tidak asing bagi Alyssa.
“Totalnya empat ratus lima puluh ribu rupiah” petugas kasir berbicara pada laki-laki itu yang langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar belanjaan Alyssa.
“Terima kasih” kata Alyssa pada laki-laki itu.
“Emm.. permisi..” Alyssa menghampiri laki-laki yang menolongnya tadi.
“Iya?” laki-laki itu menoleh ke arah Alyssa dan tersenyum padanya.
“Terima kasih tadi sudah menolongku”
“Sama-sama. Kenalin, aku Rangga” laki-laki bernama Rangga itu mengulurkan tangannya pada Alyssa.
“Aku Alyssa” tersenyum sambil menjabat tangan Rangga.
“Cantik, aku suka senyumnya” batin Rangga.
“Oh iya, nanti aku transfer buat ganti uangmu ya. Aku minta nomor...”
“Nggak usah, biarin aja” kata Rangga memotong perkataan Alyssa.
“Nggak bisa gitu dong, aku harus ganti uangmu. Aku nggak mau punya hutang ke kamu”.
“Kalau gitu temenin aku sebentar ya di kafe itu” Rangga menunjuk kafe di seberang jalan. “Aku anggap hutangmu lunas” lanjutnya.
“Tapi aku nggak bisa lama-lama” kata Alyssa.
__ADS_1
“Nggak lama kok, cuma sebentar! Tiga puluh menit aja”
“Itu kelamaan, aku harus kerja”.
“Ya udah lima belas menit. Ayo kita kesana!” Rangga menarik tangan Alyssa pelan dan mengajaknya menyeberang jalan.
Alyssa dan Rangga duduk di dekat jendela kafe itu sambil meminum minuman yang telah mereka pesan sebelumnya.
“Alyssa, makasi ya kamu udah nemenin aku disini” kata Rangga sambil menatap Alyssa.
“Aku yang harusnya bilang makasi, tadi kamu udah bayarin belanjaanku terus sekarang kamu nraktir aku minum”.
“Oh iya, kamu kerja dimana Sa?”
“Aku kerja di restoran, bantu-bantu orang masak” jawab Alyssa berbohong. Ia terpaksa berbohong karena tidak ingin orang lain tahu kalau dia bekerja sebagai asistennya Nathan. Ia takut nanti orang-orang mengira dialah wanita yang ada di foto Nathan, walaupun saat ini semua orang percaya bahwa wanita itu adalah Sarah. Tapi dia harus tetap hati-hati agar tidak ketahuan dan tidak menimbulkan masalah buat Nathan.
“Ooh.. pantesan belanjaanmu tepung, gula dan kawan-kawannya, hehe..” Rangga tertawa kecil. “Alyssa, aku boleh minta nomor teleponmu?”
“Eh.. emm.. buat apa?”
“Ya buat aku simpen aja, anggap aja sekarang kita udah temenan. Siapa tahu besok aku butuh bantuan kamu atau sebaliknya”.
Alyssa ragu-ragu memberikan nomor teleponnya karena ia baru mengenal Rangga. Walaupun Rangga sudah menolongnya tapi Alyssa tidak tahu apakah Rangga memang orang baik atau tidak. Dan untunglah disaat itu ponselnya berbunyi dan ternyata Alvin yang meneleponnya.
“Halo bos?”
“Kamu dimana Sa? Kenapa belanjanya lama sekali? Terus kenapa manggil aku bos?”
“Aku lagi di kafe ngobrol sama temen sebentar”.
“Cepetan balik!”
“Bos, dompet aku hilang. Bos bisa nggak jemput aku?”
“Gimana ceritanya bisa hilang? Kamu ini ada-ada aja deh Sa”.
“Nanti aku ceritain. Bos bisa kan jemput aku?”
“Kamu kenapa sih bas bos bas bos gitu” Alvin bingung dengan Alyssa yang terus memanggilnya dengan sebutan bos.
“Bos, jemput aku di deket supermarket ya. Aku tunggu disana”.
“Ya udah, aku langsung kesana. Tunggu bentar ya” Alvin menutup teleponnya.
“Rangga, maaf ya aku harus balik. Tadi bos aku nelpon, dia sedikit marah karena aku lama belanjanya” kata Alyssa pada Rangga.
“Maaf ya Sa, gara-gara aku, kamu jadi dimarahin sama bosmu”.
“Nggak apa-apa kok. Sekali lagi makasi ya tadi udah nolongin aku, terus makasi juga udah nraktir aku minum” Alyssa berdiri dan mengambil barang belanjaannya. “Aku balik duluan ya, daa..” Alyssa berjalan cepat meninggalkan Rangga yang sedikit kecewa karena tidak mendapatkan nomor teleponnya.
__ADS_1
“Alyssa, kamu jadi bikin aku penasaran. Kalau kita ketemu lagi aku nggak bakalan lepasin kamu” gumam Rangga dalam hati.
***