Aktor Tampan Pujaan Hati

Aktor Tampan Pujaan Hati
Rindu Senyummu


__ADS_3

Nathan bangun dari tidurnya di kursi dan menatap Alyssa yang berdiri di depan pintu kamarnya. Alyssa melihat ke arah Nathan juga. Ia tahu jika Nathan pasti tidak bisa tidur berdesakan di kamar karena dilihatnya ada bantal dan selimut yang tergeletak di kursi. Alyssa tidak ingin berlama-lama melihat wajah Nathan. Ia membuka pintu hendak ke kamarnya tapi dengan gerakan cepat Nathan menghampiri Alyssa dan memegang lengannya untuk mencegah Alyssa ke kamar.


“Lepaskan!” ucap Alyssa lirih sambil melihat tangan Nathan yang memegang lengannya.


Nathan tidak melepaskannya ia masih menatap Alyssa lekat sampai Alyssa mengulang kembali apa yang diucapkannya tadi barulah Nathan melepaskannya dan membiarkan Alyssa masuk ke kamarnya. Nathan tahu memang tidak mudah membuat Alyssa memaafkannya jadi dia harus lebih bersabar lagi untuk mendapatkan maaf dari Alyssa.


***


Pagi ini bi Lilis sudah menyiapkan sarapan untuk semua orang yang menginap di rumahnya. Mereka sarapan bersama dan seperti sebelumnya mereka makan tanpa Alyssa. Alyssa sudah sarapan terlebih dulu untuk menghindari Nathan dan sekarang ia sedang membersihkan warung makan sebelum bi Lilis mulai berjualan.


Alvin yang akan pulang ke kota menghampiri Alyssa seusai sarapan. Sejak kemarin dirinya belum sempat berbicara dengan Alyssa.


“Alvin, kamu mau balik sekarang?” tanya Alyssa begitu melihat Alvin datang membawa tasnya.


“Iya Sa!”


Alyssa merasa lega karena pagi ini akhirnya Alvin dan yang lainnya pulang dan itu berarti Nathan juga akan ikut pulang.


“Alyssa, dari kemarin aku belum sempat bicara denganmu” ujar Alvin.


“Iya!” Alyssa tersenyum pada sahabatnya itu lalu mengajak Alvin untuk duduk di salah satu kursi yang ada di warung makan bi Lilis.


Alvin mengikuti Alyssa untuk duduk dan meletakkan tasnya di samping.


“Alyssa, maafkan aku!”


“Kenapa kamu minta maaf Vin?” Alyssa bingung kenapa Alvin meminta maaf kepadanya.


“Karena aku tidak bisa menemanimu di saat kamu ada masalah!”


“Kamu pasti sudah tahu cerita yang sebenarnya kan?” tanya Alyssa.


Alvin mengangguk.


“Aku mohon jangan bilang pada orangtuaku ya. Aku nggak mau membuat mereka kecewa!”

__ADS_1


“Iya! Oh ya, apa kamu sudah menghubungi mereka? Pasti mereka cemas karena kamu tidak menelpon mereka!” Alvin mengira Alyssa tidak pernah menghubungi orangtuanya karena sejak ia pergi ponselnya tidak pernah aktif.


“Siapa bilang aku tidak menghubungi mereka? Setiap hari aku menelpon mereka!”


“Bukannya ponselmu tidak aktif? Aku dan Nathan sampai kesulitan mencarimu”.


“Aku bilang ke ibu kalau ponselku rusak dan aku meminjam ponsel bi Lilis untuk menghubungi mereka. Tapi sepertinya sekarang aku akan mengaktifkan ponselku karena kalian juga sudah tahu aku ada disini”.


“Alyssa, maaf kalau aku ikut campur masalahmu dengan Nathan. Tapi apa kamu tidak mau memaafkannya?”


“Entahlah, masih sulit untuk memaafkannya. Alvin, kemarin Nathan bilang dia sudah tahu kalau aku dijebak. Siapa yang menjebakku? Apa itu Nadia?” Alyssa teringat dengan ucapan Nathan kemarin jika ia sudah tahu kalau semua yang terjadi pada Alyssa karena dijebak.


“Kenapa kamu bisa tahu itu ulah Nadia?”


“Aku hanya menduganya saja. Karena sebelum kejadian itu Rere mengajakku untuk bicara tentang dirimu!”


“Aku?” Alvin menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, aku pikir Rere menyukaimu. Aku bicara berdua dengannya sampai aku merasa sangat mengantuk dan tidak ingat apa-apa lagi. Jadi aku pikir itu pasti rencana Nadia untuk merusak hubunganku dengan Nathan”.


Alyssa diam tidak menanggapi ucapan Alvin. Alyssa berpikir pasti sekarang Nadia sedang mengira kalau hubungannya dengan Nathan baik-baik saja setelah Nathan tahu semua rencana Nadia. Tapi bagaimana jika Nadia tahu yang sebenarnya jika hubungan dirinya dan Nathan sedang tidak baik? Apa dia akan mengambil kesempatan untuk mendekati Nathan lagi?


“Alyssa!” panggil Alvin membuyarkan lamunan Alyssa.


Alyssa kembali menatap Alvin.


“Aku tahu apa yang dilakukan Nathan itu sangat menyakitimu, tapi cobalah kamu lihat ketulusannya. Apa kamu tidak merasakan bahwa dia benar-benar menyesali perbuatannya?” Alvin berusaha untuk meyakinkan Alyssa.


“Aku tahu dia sudah menyesali perbuatannya!”


“Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tidak memaafkannya?”


“Aku ingin melihat seberapa jauh usahanya dan juga ketulusannya!”


“Baiklah, itu terserah padamu! Dan satu yang harus kamu tahu, Nathan sudah mengalah dengan egonya hanya demi dirimu!” ucap Alvin yang sekarang sudah tahu jika sebelumnya hubungan Nathan dan papanya sedikit renggang.

__ADS_1


Saat Nathan memberitahunya jika ia diminta papanya untuk mulai belajar bisnis sebagai imbalan papanya membantu mencari Alyssa, Alvin sudah mulai curiga dengan hubungan keduanya. Bagaimana bisa seorang Nathan yang sama sekali tidak suka dengan bisnis tiba-tiba menuruti begitu saja perintah papanya. Ia lalu bertanya diam-diam pada tante Maya bagaimana hubungan Nathan dan om Rudi. Tante Maya menjelaskan semuanya pada Alvin kalau memang benar seperti yang Alvin duga bahwa hubungan mereka sedikit bermasalah tapi tante Maya tidak memberitahu penyebabnya. Itulah yang membuat Alvin merasa jika Nathan benar-benar tulus menyayangi Alyssa karena ia mau mengalah dengan keinginan papanya demi Alyssa. Dan itu juga yang membuat Alvin akhirnya mau ikut belajar bisnis menemani Nathan untuk memberikan semangat padanya memperjuangkan cintanya.


Alvin lalu bangun dari duduknya dan mengambil tasnya.


“Apa maksudmu?” Alyssa tidak mengerti dengan ucapan Alvin.


“Nanti juga kamu tahu sendiri!”


Alvin berjalan menghampiri Alan dan Jason yang sudah memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil. Ditemani oleh bi Lilis dan Nathan mereka semua berpamitan satu per satu. Alyssa ikut mengantar Alvin sampai di mobil. Ia melihat Alan dan Jason sudah duduk di kursi depan sementara Alvin duduk sendiri di kursi belakang. Menyadari jika Nathan masih berdiri di samping bi Lilis, Alyssa mendekatkan dirinya pada Alvin yang belum menutup kaca mobilnya.


“Kenapa dia tidak ikut pulang?” tanya Alyssa berbisik di telinga Alvin.


Alvin tahu yang dimaksud Alyssa adalah Nathan. Ia tersenyum lebar mendengar pertanyaan sahabatnya itu.


“Dia akan tetap disini untuk menunjukkan usaha dan ketulusannya!” jawab Alvin ikut berbisik di telinga Alyssa.


Mendengar jawaban Alvin, Alyssa mundur perlahan dengan wajah kesal. Tapi walau pun ia menunjukkan raut wajah yang kesal, jauh di dalam lubuk hatinya sebenarnya ia ingin melihat ketulusan Nathan padanya.


Nathan yang sejak tadi memperhatikan Alvin dan Alyssa merasa sedikit cemburu ketika melihat keduanya berbisik. Dengan cepat jemarinya mengirim pesan pada ponsel Alvin.


“Apa yang kalian bicarakan? Kenapa berbisik?”


Alvin membaca pesan yang dikirim Nathan ke ponselnya. Sesaat setelah membaca ia menyeringai lebar pada Nathan tanpa memberikan jawaban apa pun.


“Bibi, kami pamit dulu ya. Terima kasih sudah memberikan kami makan dan tempat untuk tidur. Maaf jika kami merepotkan bi Lilis!” kata Jason.


“Kalian sama sekali tidak merepotkan. Malah bibi senang ada kalian, jadi lebih ramai. Kapan-kapan mampir lah kemari kalau kalian kebetulan lewat!” jawab bi Lilis dengan ramah.


“Iya bi!” sahut Alan.


“Oya bi, titip Nathan ya! Kalau sampai dia menghabiskan makanan, bibi lelang saja dia pada semua ibu-ibu disini. Mereka pasti berani membayar mahal!” canda Alvin yang langsung menutup kaca mobil begitu melihat Nathan ingin memukulnya.


Bi Lilis tertawa dan Alyssa terlihat tersenyum sedikit dengan ucapan Alvin. Tapi buru-buru Alyssa merubah kembali raut wajahnya menjadi dingin ketika dilihatnya Nathan sedang melihat ke arahnya. Alyssa berjalan duluan ke dalam rumah meninggalkan bi Lilis dan Nathan yang masih diluar melihat mobil melaju meninggalkan rumah bi Lilis.


“Kamu tersenyum dengan ucapan Alvin, dan aku akan membuatmu tersenyum lagi padaku. Aku benar-benar rindu dengan senyummu!” batin Nathan.

__ADS_1


__ADS_2