Aktor Tampan Pujaan Hati

Aktor Tampan Pujaan Hati
Keinginan Bu Ratna


__ADS_3

Di kamarnya, Alyssa memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Berat sekali rasanya harus meninggalkan kedua orangtuanya lagi. Ia masih ingin berlama-lama di rumah menghabiskan waktu dengan orangtuanya. Tapi itu tidak mungkin, ia harus kembali bekerja untuk Nathan. Selagi Alyssa mengemasi barang-barangnya, Nathan masuk ke kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengawasi Alyssa.


“Tolong ambilin itu dong” kata Alyssa pada Nathan.


“Yang ini?” tanya Nathan sambil mengambil tas kecil yang berisi make up di meja dekat tempat tidur.


“Iya, makasi” Alyssa memasukkan tas kecil itu ke dalam kopernya lalu menutupnya.


Setelah selesai mengemasi barang-barangnya Alyssa hendak keluar kamarnya tapi dengan cepat Nathan menyambar tangan Alyssa dan Alyssa menoleh padanya.


“Kenapa?” Alyssa bertanya pada Nathan yang tersenyum padanya.


“Disini dulu temenin aku” Nathan sedikit merengek seperti anak kecil.


“Ini udah malem Nat. Sebaiknya kamu tidur, aku juga udah ngantuk”.


“Tapi aku belum ngantuk”.


“Terus mau kamu apa sekarang?” tanya Alyssa lagi.


“Kamu temenin aku ngobrol” pinta Nathan.


Alyssa menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya berkata “baiklah, tapi jangan disini. Kita ngobrolnya di luar saja” Alyssa tidak ingin orangtuanya berpikiran aneh-aneh jika melihat dirinya dan Nathan ada di dalam kamar.


Saat mereka keluar Ibu Ratna dan Pak Herman masih menonton TV di ruang keluarga.


“Sudah selesai berkemas nak?” tanya Pak Herman begitu melihat Alyssa keluar dari kamarnya.


“Sudah Pak!” Alyssa menjawab singkat dan berjalan menuju teras depan.


“Mau kemana nak?” tanya Pak Herman lagi.


“Aku sama Nathan mau ngobrol di teras Pak”.


Alyssa dan Nathan duduk di kursi kayu yang ada di teras. Nathan memainkan ponselnya sementara Alyssa menatap Nathan kesal.


“Katanya tadi mau ngobrol tapi malah sibuk sendiri, aku dicuekin” kata Alyssa sedikit cemberut.


“Cie.. ngambek nih yee” goda Nathan lalu meletakkan ponselnya di meja kayu yang ada di depannya.


“Siapa yang ngambek?!” balas Alyssa lagi.

__ADS_1


“Ya kamulah! Itu mukanya cemberut begitu kan artinya lagi ngambek. Hahaha” Nathan tertawa kecil melihat Alyssa yang terlihat lucu saat sedang cemberut.


“Sa, rumah Alvin dimana?” tanya Nathan. Meskipun Alvin telah cukup lama bekerja sebagai manajer Nathan, tapi itu pertama kalinya Nathan ke kampung halaman Alvin. Selama ini ia tidak pernah tahu rumah orangtua Alvin.


“Deket kok, cuma dua rumah dari sini. Kamu mau kesana?”


“Nggak ah, udah malem. Kapan-kapan aja aku ke sana” Nathan melihat sekeliling halaman depan rumah Alyssa. Walaupun sudah gelap tapi Nathan masih bisa melihat halaman depan yang cukup luas itu, begitu menenangkan melihatnya.


“Sebenarnya aku betah banget disini. Suasananya tenang, sejuk dan aku suka dengan halaman yang luas. Coba kalau nggak ada kerjaan, mungkin aku bakalan seminggu menginap disini” kata Nathan kemudian.


“Pede banget kamu bilang mau nginep disini seminggu. Aku nggak bakalan ngijinin”.


“Loh, kenapa? Kamu nggak suka aku disini?” tanya Nathan bingung.


“Ribet tau kalau kamu nginep disini seminggu. Tetangga pasti bakalan tau dan rumah aku bakalan diserbu sama mereka”.


Ponsel Nathan berbunyi dan itu panggilan dari Alvin. Nathan langsung mengangkat panggilan dari Alvin itu.


“Kenapa Vin?”


“Nat, besok kita baliknya subuh ya”.


“Kenapa?”


Nathan melihat sekeliling lagi dan benar saja, meskipun sudah gelap tapi dari tembok pagar rumah Alyssa ia bisa melihat ada seseorang yang sedang mengintipnya. Dengan cepat Nathan mengajak Alyssa masuk ke dalam.


“Kamu kenapa Nat?” tanya Alyssa bingung.


“Kayanya ada yang tau aku disini Sa. Tadi ada orang yang ngintip dari tembok pagar”.


Ibu Ratna yang mendengar perkataan Nathan langsung menuju jendela dan menyingkap sedikit gordennya, mengintip melalui jendela dan mencari apakah ada orang diluar sana.


“Nggak ada siapa-siapa” kata Ibu Ratna setelah mengintip melaui jendela.


“Emang Ibu bisa lihat dengan jelas diluar ada orang atau nggak? Kan udah gelap Bu” tanya Alyssa tidak yakin dengan penglihatan ibunya.


“Hehe.. Ibu nggak bisa lihat dengan jelas sih tadi. Tapi biarin aja ada yang lihat, siapa tau itu Ibu Ningsih”.


“Emang kenapa sama Bu Ningsih?” tanya Alyssa lagi.


“Ya kan Ibu jadi bisa pamer ke dia kalau Nathan pernah menginap disini”.

__ADS_1


“Nggak baik loh Bu pamer-pamer kaya gitu” kata Alyssa.


“Habisnya dia selalu pamer ke Ibu soal mantunya. Dia terus-terusan menyombongkan kalau mantunya itu ganteng seperti artis dan baru aja naik jabatan jadi manajer hotel. Ya Ibu kan jadi kesel, tapi nggak cuma Ibu aja yang kesel, ibu ibu yang lain juga pada males dengerin dia kalau udah ngomongin mantunya itu” celoteh Bu Ratna.


“Udah Bu, nggak usah didengerin”.


“Ya makanya kamu cepetan nikah dong Sa, kan jadinya Ibu bisa pamer juga ke dia kalau Ibu juga punya mantu. Apalagi kalau mantu Ibu bisa seganteng nak Nathan. Pasti Bu Ningsih kalah telak dari Ibu Sa”.


Alyssa menyuruh ibunya diam dengan isyarat tangannya. Ia merasa malu saat ibunya berkata ingin menantu seperti Nathan. Sementara Nathan tersenyum dengan kata-kata Bu Ratna tadi.


“Semoga keinginan Ibu terkabul ya bisa punya menantu setampan saya” kata Nathan kemudian yang membuat Ibu Ratna terkekeh.


Alyssa hanya diam saja, tidak ingin membalas perkataan Nathan tadi. Ia kemudian memberitahu kedua orangtuanya kalau besok ia harus balik subuh-subuh untuk menghindari Nathan dilihat oleh tetangga mereka. Pak Herman setuju dengan Alyssa tapi Bu Ratna sedkit kesal. Bukan karena ia masih kangen dengan anak gadisnya itu, melainkan dirinya tidak bisa pamer ke Bu Ningsih jika Nathan harus balik subuh-subuh.


Sekitar jam empat dini hari Alvin sudah datang ke rumah Alyssa. Ia sedang menunggu Alyssa dan Nathan yang masih bersiap-siap. Setelah menunggu selama sepuluh menit akhirnya Nathan dan Alyssa sudah siap untuk balik ke kota. Mereka semua berpamitan pada Bu Ratna dan Pak Herman. Tapi sebelum masuk ke mobilnya Nathan dihadang oleh Bu Ratna. Ia meminta berfoto dengan Nathan berdua saja di depan rumahnya.


“Foto yang bener ya Sa, pakai lampu kameranya biar kelihatan jelas kalau Ibu foto sama Nathan” kata Bu Ratna.


Alyssa mengikuti keinginan ibunya itu, beberapa kali ia mengambil foto ibunya dan Nathan dalam berbagai pose yang berbeda-beda. Setelah cukup banyak mengambil foto ibunya dan Nathan, Alyssa menyerahkan ponsel itu ke tangan ibunya dan Bu Ratna langsung melihat hasil jepretan anaknya tadi dengan tersenyum puas karena hasilnya semua bagus dan jelas seperti yang diinginkannya.


“Buat apa foto banyak-banyak Bu?” tanya Pak Herman.


“Buat dipamerin sama ibu-ibu yang lain Pak, terutama Bu Ningsih” jawab Bu Ratna yang membuat Pak Herman dan Alyssa geleng-geleng kepala.


Setelah berpamitan sekali lagi dengan kedua orangtua Alyssa akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Alvin mulai mengemudikan mobil berwarna hitam itu meninggalkan rumah Alyssa.


“Kalian tau nggak pas pulang ke rumah aku dapet sambutan yang meriah dari Ibu sama Bapak” kata Alvin pada Nathan dan Alyssa.


“Ya wajarlah Vin, mereka pasti kangen sama kamu” sahut Alyssa.


“Bukan karena kangen Sa”.


“Terus karena apa?”


“Karena mereka pikir aku beneran pacaran sama Sarah”.


“Hahaha... jangan-jangan bentar lagi mereka mau ngelamar Sarah buatmu Vin” kata Nathan tidak bisa menahan tawa.


“Kamu bener Nat, mereka mau langsung ngelamar Sarah. Untung aku bisa kasi mereka alasan. Aku bilang mau pacaran agak lama dulu sebelum nikah, untungnya mereka percaya”.


“Jadi kamu sama Sarah cuma pura-pura pacaran? Aku pikir kalian pacaran beneran” kata Alyssa yang memang tidak tahu apa-apa tentang hubungan Alvin dan Sarah.

__ADS_1


__ADS_2