
Alyssa keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu. Sudah ada Nathan, Alvin dan kedua teman mereka serta bi Lilis yang berbincang dengan keempat anak muda itu. Melihat Alyssa sudah berdiri di ruang tamu Alvin langsung mengajak yang lainnya untuk membiarkan keduanya berbicara. Bi Lilis mengajak Alvin, Alan dan Jason untuk berbincang di teras depan.
Kini hanya tinggal Nathan dan Alyssa yang berada di ruang tamu. Suasana mendadak terasa dingin, Alyssa kemudian duduk dengan membuang muka. Sejujurnya ia malas sekali untuk bertemu dengan Nathan. Kemarahannya yang sudah mereda beberapa hari ini kini muncul lagi setelah melihat seseorang yang membuatnya marah sekarang ada di hadapannya.
“Alyssa” suara Nathan memecahkan keheningan mereka berdua. “Aku ingin bicara denganmu!”.
Alyssa diam saja. Ia tak mau melihat Nathan dan mengarahkan pandangannya ke arah lain.
“Aku minta maaf!”
“Minta maaf? Apa kamu baru menyesal sekarang?” batin Alyssa.
“Alyssa, maafkan aku karena sudah menyakitimu. Aku benar-benar menyesal!” ucap Nathan dengan bersungguh-sungguh. “Aku tahu apa yang aku lakukan itu salah dan aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku padamu”.
“Kenapa? Kenapa kamu jahat sekali padaku?” suara Alyssa bergetar menahan tangisnya. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang dilakukan Nathan padanya.
“Maafkan aku! Aku mabuk dan merasa kecewa waktu itu karena tidak terima kamu tidur dengan laki-laki lain. Tapi aku sudah..”
“Kalau kamu kecewa denganku, kenapa kamu merasa menyesal dan minta maaf?” Alyssa memotong ucapan Nathan. Air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi.
“Ya, aku memang menyesal karena tidak mau mendengar penjelasanmu dulu!”
“Sudahlah, lupakan saja! Sebaiknya sekarang kamu pulang!” Alyssa bangun dari duduknya.
“Tidak! Aku akan tetap disini sampai kamu mau ikut kembali bersamaku!” Nathan juga ikut berdiri dan sekarang menatap Alyssa tajam.
“Aku tidak akan kembali bersamamu!” tolak Alyssa.
“Alyssa, kamu harus kembali bersamaku! Aku akan menikahimu!” Nathan mendekat pada Alyssa dan meraih tangannya yang langsung ditepis secara kasar oleh Alyssa.
“Aku tidak mau menikah denganmu!”
“Alyssa, aku minta maaf! Kumohon biarkan aku menikahimu! Aku ingin bertanggung jawab, aku mencintaimu! Tolong kamu pikirkan, jika kamu hamil itu berarti kamu hamil anakku dan aku wajib menikahimu!”
“Bagaimana kamu yakin sekali jika aku hamil ini adalah anakmu? Bukankah kamu sendiri melihat aku tidur dengan laki-laki lain?” kata-kata Alyssa terdengar seperti sindiran untuk Nathan.
“Aku salah tidak mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dulu. Tapi sekarang aku sudah tahu semuanya. Seperti yang kamu katakan, kalau kamu itu dijebak. Dan aku bodoh sudah percaya dengan jebakan itu!”
__ADS_1
“Nathan, aku ingin sendiri!”
Nathan menatap Alyssa dengan sendu. Ia sudah mengira akan sulit untuk membuat Alyssa memaafkan perbuatannya. Nathan melangkahkan kakinya dengan berat menuju keluar. Ia memberikan waktu untuk Alyssa sendiri.
Alyssa masuk ke kamarnya, mengambil bantal dan membenamkan wajahnya disana untuk meredam suara tangisnya. Perasaannya kini sedang kacau, ia tak tahu harus berbuat apa. Dirinya hanya bisa menangis untuk saat ini.
“Bagaimana? Apa Alyssa memaafkanmu?” tanya Alvin begitu melihat Nathan keluar dari rumah.
Nathan menggeleng lemah.
“Nak, walau pun bibi tidak tahu masalah kalian apa tapi bibi yakin Alyssa pasti akan memaafkanmu” ucap bi Lilis yang sudah menghampiri Nathan.
“Bi, apa boleh aku tinggal disini sampai Alyssa memaafkanku?” tanya Nathan.
“Iya nak! Kamu boleh tinggal disini!”
“Terus kita gimana?” tanya Alan.
“Kalian bertiga bisa pulang ke kota besok pagi!” jawab Nathan asal.
“Ya sudah, sekarang kalian tunggu di dalam ya. Bibi siapkan makanan untuk kalian. Pasti kalian lapar kan?”
Keempatnya kompak mengangguk karena memang mereka sudah merasa lapar. Nathan yang sebenarnya sangat pemilih dalam urusan makanan tidak memberlakukan hal itu pada bi Lilis. Itu karena sejak kecil Nathan sudah biasa memakan masakan yang dibuat oleh bi Lilis.
Nasi bungkus yang tadi dibeli Alan dan Jason belum sempat mereka makan. Rencananya mereka akan makan setelah syuting bohongn mereka tapi ternyata orang-orang sudah lebih dulu berkerumun untuk melihat Nathan. Jadi lah makanan mereka tertinggal di sungai karena mereka buru-buru untuk pergi dari kerumunan orang-orang dan mungkin saja makanan mereka sudah diambil oleh seseorang.
Setelah semuanya makan malam tanpa Alyssa yang masih mengurung diri di kamarnya, bi Lilis menyiapkan kamar untuk Nathan dan yang lainnya. Kebetulan di rumah bi Lilis ada tiga kamar. Bi Lilis menempati satu kamar yang dulunya adalah kamar milik orangtua bi Lilis sebelum mereka meninggal. Sementara kamar yang ditempati Alyssa sekarang adalah kamar lama bi Lilis. Dan satu kamar yang tersisa adalah kamar adik perempuan bi Lilis yang sudah menikah dan sekarang tinggal bersama suaminya. Nathan dan yang lainnya akan menempati kamar terakhir yang sudah dibersihkan oleh bi Lilis.
“Maaf ya, kalian harus tidur berempat di kamar kecil ini” kata bi Lilis.
“Tidak apa-apa bi, kita bertiga tidak masalah jika harus tidur disini. Kecuali mungkin satu orang yang tidak bisa” ucap Alvin sambil melirik ke arah Nathan.
“Apa? Kenapa melihatku? Kamu pikir aku tidak bisa tidur di kamar ini dengan kalian?” tantang Nathan.
“Memangnya kamu bisa?” goda Alan.
“Bisa!”
__ADS_1
“Sudah, sudah! Sebaiknya sekarang kalian mandi dulu ya gantian karena kamar mandinya cuma ada satu. Setelah itu kalian bisa istirahat!” Bi Lilis meninggalkan kamar empat pemuda itu yang kini berebut untuk mandi paling pertama.
Tok tok tok
Bi Lilis mengetuk pintu kamar Alyssa.
“Alyssa, buka pintunya. Bibi bawakan makanan untukmu. Sebaiknya kamu makan dulu!”
Alyssa membuka pintu kamarnya yang sejak tadi ia kunci. Membiarkan bi Lilis masuk ke dalam membawakannya makanan. Bi Lilis bisa melihat dengan jelas mata Alyssa yang sembab karena menangis sejak pembicaraannya dengan Nathan tadi.
“Makan lah dulu! Jangan siksa dirimu karena masalahmu nak! Kalau perut sudah kenyang pasti emosimu bisa lebih tenang”.
Alyssa sebenarnya tidak ada nafsu makan. Tapi demi menghargai bi Lilis yang sudah menyiapkan makanan untuknya ia terpaksa memakan makanan itu. Melihat Alyssa yang sudah menyantap makanannya bi Lilis lalu meninggalkan kamarnya untuk beristirahat. Ia tidak mau memaksa Alyssa untuk menceritakan masalahnya jika ia belum siap.
“Jangan lupa habis makan kamu mandi ya, setelah itu baru kamu tidur nak!” ucap bi Lilis seraya tersenyum pada Alyssa.
“Iya bi!”
Alyssa sudah menghabiskan makanannya sejak tadi. Tapi dirinya belum juga keluar kamar untuk mandi. Ia berpikir jika Nathan masih ada di luar dan dirinya masih sangat malas untuk melihat Nathan lagi. Jadi Alyssa memutuskan untuk mandi lebih malam. Setelah dirasa sepi dan tak terdengar lagi suara di luar Alyssa membuka pintu kamarnya sedikit dan mengintip keluar. Dan benar seperti pikirannya, semua orang sudah beristirahat. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi agar tidak menimbulkan suara.
Di dalam kamar yang dihuni oleh empat orang pemuda terlihat Nathan sangat susah untuk memejamkan matanya sementara ketiga orang lainnya sudah tidur dengan mimpi mereka masing-masing. Posisi tidur mereka dibuat horizontal agar tempat tidur cukup untuk empat orang meski pun sebenarnya mereka tidur berdesakan dan kaki mereka yang panjang melewati tempat tidur.
Karena tak tahan dengan posisi tidur yang seperti itu ditambah lagi dengan suasana yang gerah walau pun kipas angin sudah berputar tanpa henti, akhirnya Nathan memutuskan untuk tidur di luar saja. Mengambil bantal dan selimutnya ia bergegas keluar dan mencari posisi tidur yang nyaman di kursi kayu yang ada di luar kamar.
“Begini lebih baik dari pada harus berdesakan bersama mereka” gumam Nathan.
Tapi baru saja ia mulai memejamkan matanya ia mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.
“Suara apa itu? Apa disini ada hantu?” Nathan mulai bergidik ngeri.
Ia membuka matanya sedikit dengan perasaan takut untuk mengintip apakah memang hantu yang berjalan ke arahnya atau tidak.
“Alyssa!” Nathan menyebut nama Alyssa pelan ketika sudah memastikan jika langkah kaki yang ia dengar adalah suara langkah kaki Alyssa.
Alyssa menoleh ke belakang saat hendak membuka pintu kamarnya. Ia memang tidak melihat Nathan tidur di kursi tadi.
***
__ADS_1