
Nathan tidak memperdulikan ucapan Alyssa itu. Ia sudah terlanjur terbawa suasana dan tidak bisa menghentikan keinginannya lagi.
“Nathan! Aku bilang berhenti!” kali ini suara Alyssa lebih keras dan ia mendorong tubuh Nathan agar menjauh darinya.
Nathan tak menyangka Alyssa akan menolaknya. Padahal di luar sana ada begitu banyak wanita yang dengan suka rela akan menyerahkan diri padanya. Alyssa memang pacarnya dan ia berpikir dengan status itu Alyssa akan menyerahkan tubuhnya seperti wanita lain.
Nathan terduduk di samping Alyssa yang kini terlihat sedang berkaca-kaca. Ia memandangi gadis itu lekat dan berucap “maafkan aku” dengan ekspresi yang datar.
Alyssa menoleh ke arah Nathan, ia belum berkata apa-apa. Ia masih tidak percaya Nathan hampir melakukannya. Alyssa tahu selama ini Nathan memang dikenal sebagai playboy tapi ia tidak pernah berpikir Nathan hampir melakukan ini padanya.
“Maafkan aku. Aku nggak bermaksud berbuat seperti itu. Aku hanya..” Nathan tidak melanjutkan kata-katanya.
Jauh di lubuk hati Nathan, dirinya masih belum bisa menerima jika Alyssa menolaknya dan mendorongnya tadi. Seumur hidup ia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh wanita manapun. Banyak wanita cantik di sekelilingnya yang berusaha untuk merayunya agar bisa berhubungan lebih dengannya, tapi Nathan hanya bermain-main saja dan tidak pernah benar-benar melakukannya. Ketika si wanita sudah tidak tahan lagi dengan sentuhan yang diberikan oleh Nathan, ia akan pergi meninggalkan wanita itu, membiarkan si wanita menderita sendirian menahan keinginannya yang tak tersalurkan.
Begitulah Nathan terhadap para wanita yang mengejarnya. Ia berprinsip tidak akan melakukan sesuatu yang lebih dengan wanita yang tak dicintainya. Bahkan dengan pacarnya yang dulu pun ia tidak pernah benar-benar melakukannya. Bukan karena ia tidak cinta, tapi ia sendiri juga tak tahu alasannya kenapa. Entah mengapa sepertinya ia tidak bisa melakukannya saja. Dan sekarang ia juga semakin bingung pada dirinya sendiri. Ia menginginkan hal itu dengan Alyssa. Ya, Alyssa adalah wanita yang ia cintai dan menurutnya wajar jika ia menginginkannya. Tapi ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan pada Alyssa saat ini dengan mantan pacarnya dulu. Tubuhnya seakan bereaksi sendiri terhadap Alyssa tanpa bisa ia kontrol.
Alyssa tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia akhirnya menangis.
“Kenapa kamu menangis? Ayo lah Sa, ini cuma masalah sepele. Nggak usah bereaksi berlebihan seperti ini”.
Kata-kata Nathan itu membuat Alyssa tersinggung. Ia tak menyangka Nathan akan mengucapkan kalimat seperti itu padanya.
“Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu? Kamu benar-benar tidak mengerti perasaanku saat ini” kata Alyssa kecewa pada Nathan.
“Sa, kita ini pacar! Kita saling mencintai, jadi apa salahnya kalau kita melakukannya? Di luar sana banyak orang yang melakukannya, bahkan remaja yang masih sekolah saja sudah biasa melakukannya”.
“Aku nggak bisa Nat! Kalau kamu mencari pacar hanya untuk hal seperti ini, lebih baik kamu cari wanita lain saja”.
__ADS_1
“Maksud kamu? Kamu mau kita putus?”
Alyssa tidak menjawab. Ia sangat mencintai Nathan, ia tidak ingin putus dengannya. Tapi dirinya tidak bisa memenuhi keinginan Nathan.
“Jawab aku Sa! Kamu mau kita putus?”
Alyssa masih terdiam.
“Oke, kalau kamu nggak jawab aku anggap omongan kamu tadi nggak serius. Dan aku nggak akan mutusin kamu!” Nathan beranjak dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya kasar menuju kamar meninggalkan Alyssa yang masih menangis di ruang tengah.
Alyssa mengambil bantal yang ada di sofa, ia membenamkan wajahnya disana untuk sedikit meredam suara tangisannya. Hari ini ia benar-benar kecewa dengan sikap Nathan. Tapi ia tidak berani untuk mengucapkan kata putus. Ia sangat mencintai dan menyayangi Nathan, ia tidak siap jika harus berpisah dari laki-laki itu. Alyssa membiarkan dirinya menangis, ia masih tidak tahu mengapa ia menyuruh Nathan untuk mencari wanita lain sedangkan dirinya sendiri tidak siap untuk kehilangannya.
Nathan merasakan cacing di perutnya sedang berdemo. Ia keluar dari kamar hendak meminta Alyssa untuk membuatkannya makan siang. Tapi saat melewati ruang tengah, ia melihat Alyssa tertidur di sofa dengan posisi duduk memeluk bantal. Matanya terlihat sembab habis menangis,
Dalam diri Nathan masih ada rasa kesal pada Alyssa jika mengingat kejadian tadi saat dirinya ditolak. Tapi melihat gadis di depannya sedang tertidur pulas dengan mata sembab membuatnya menjadi luluh. Nathan jadi tak tega untuk membangunkannya.
“Sayang, bangun. Kita makan siang” Nathan mengelus lembut puncak kepala Alyssa.
Alyssa terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya dan menengadah memandang Nathan yang sudah berdiri di depannya.
“Maaf, aku ketiduran. Aku akan memasak makan siang untukmu” Alyssa buru-buru berdiri dan segera ke dapur, tapi dilihatnya sudah ada nasi goreng di atas meja makan.
Nathan berjalan menghampiri Alyssa dan menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan. Alyssa menurut dan kini dihadapannya sudah ada nasi goreng buatan Nathan.
“Makan lah!” perintah Nathan. Ia sendiri sekarang sudah duduk di kursinya dan mulai memakan nasi gorengnya.
“Seharusnya aku yang memasak” Alyssa belum menyentuh makanannya, ia menunduk memandang hampa kakinya.
__ADS_1
“Sudah lah, ini sebagai permintaan maafku karena telah membuatmu menangis tadi”.
“Nathan, aku minta maaf karena sudah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak aku inginkan”.
“Yang mana?”
“Itu, yang aku menyuruhmu untuk mencari wanita lain. Sungguh aku tidak ingin itu terjadi”.
“Ya aku mengerti. Kamu merasa kecewa padaku makanya kamu mengatakan hal itu. Tapi kamu tenang aja Sa, aku tidak berniat untuk mencari wanita lain. Aku akan menunggumu sampai kamu siap walaupun aku yakin itu hanya akan terjadi saat kita sudah menikah nanti”.
Alyssa tersenyum mendengar ucapan Nathan. “Benarkah apa yang kamu katakan tadi?”
“Tentu saja benar!”
“Terima kasih!” kata Alyssa.
“Tapi” lanjut Nathan.
“Tapi apa?”
“Aku mohon padamu jangan menggodaku untuk melakukannya. Sekarang aku masih bisa menahannya, tapi aku nggak tahu ke depannya masih bisa aku kontrol atau tidak”.
“Memangnya siapa yang menggodamu? Aku tidak pernah merasa menggodamu!”
“Tanpa kamu sadari, kamu sudah menggodaku! Tapi sudah lah, kita lupakan masalah ini. Sekarang lebih baik kita makan dulu, nanti kalau hujannya sudah reda aku antar kamu pulang”.
Alyssa mengangguk dan mulai memakan nasi goreng yang dibuat oleh Nathan. Sementara hujan di luar masih setia membasahi bumi meski sudah tidak sederas sebelumnya.
__ADS_1
***