
“Sayang, kamu duduk di belakang. Biarin dia sendirian di depan” kata Nathan pada Alyssa sambil menunjuk Alvin saat ketiganya sudah berada di parkir mobil keesokan harinya.
Alyssa yang sudah membuka pintu depan mobil menutupnya kembali dan kini ia sudah duduk di samping pacarnya.
“Kalian pagi-pagi sudah membuatku kesal” decak Alvin dengan wajah cemberut sambil menutup pintu depan mobil dengan cukup keras membuat Nathan dan Alyssa terlonjak kaget.
“Hei, bisa pelan sedikit nggak sih tutup pintunya?” seru Nathan yang tidak dihiraukan oleh Alvin.
Alvin sudah memasang sabuk pengamannya dan ia menoleh ke belakang sesaat sebelum melajukan mobilnya. Dilihatnya Nathan sudah duduk mendekat ke arah Alyssa dan merangkul pinggangnya.
“Jika kalian ingin selamat sampai tempat tujuan sebaiknya jangan bermesraan di depanku. Aku sedang tidak ingin melihat keromantisan kalian!” ujar Alvin.
“Kita tidak akan bermesaraan di depanmu tapi di belakangmu! Kan kita duduk di belakang. Hahaha!” Nathan terlihat sangat senang karena membuat Alvin semakin kesal.
Alvin sudah menyalakan mobil dan langsung menancap gas dengan cepat membuat dua orang yang duduk di belakang sedikit terkejut. Ia sengaja melakukannya untuk membalas Nathan yang sudah membuatnya kesal pagi hari ini.
“Woy bro! Kalau mau mati sendiri aja, jangan ngajakin kita!” teriak Nathan.
Alvin tersenyum di kursi depan karena ia sudah melihat wajah Nathan berubah kesal. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
“Karena hari ini aku lagi baik maka kamu kumaafkan” ucap Nathan yang lagi-lagi tak dihiraukan oleh Alvin.
“Ahh.. hari ini aku lebih bersemangat untuk syuting!” Nathan meregangkan kedua tangannya dengan senyum sumringah.
“Kenapa?” tanya Alyssa.
“Ada deh!” jawab Nathan sambil mencubit gemas hidung Alyssa.
Memang hari ini suasana hati Nathan sedang baik. Itu semua karena Alyssa sudah memberitahunya bahwa ia telah mengatakan pada Rangga kalau ia mencintai orang lain. Tapi Alyssa tidak memberitahu Nathan jika tadi malam Rangga bertamu dan mengetahui kalau mereka berpacaran.
“Vin, gimana hubunganmu dengan Sarah?” tanya Alyssa tiba-tiba.
“Ya gitu deh” Alvin menjawab seadanya.
__ADS_1
“Jawaban apa itu ‘ya gitu deh’?” komentar Nathan yang lengannya langsung disikut oleh Alyssa untuk menyuruhnya diam karena Alyssa tahu Alvin masih kesal.
“Kenapa kamu itu lamban sekali? Aku rasa seekor kura-kura akan mendahuluimu jika kamu lamban begini. Apa kamu nggak tahu kalau di luar sana banyak laki-laki yang ingin menjadi pacar Sarah?” Nathan masih saja berbicara walau pun lagi-lagi tak dihiraukan oleh Alvin.
Alvin berpikir tentang perkataan Nathan. Menurutnya apa yang dikatakan oleh Nathan itu benar. Tapi ia masih belum yakin untuk menyatakan cintanya pada Sarah. Bukan karena tidak serius tapi belakangan ini hubungan mereka memang sedikit renggang karena kesibukan masing-masing. Sarah yang sibuk dengan kegiatan modelnya dan Alvin yang selalu sibuk mengikuti kegiatan Nathan. Mereka sangat sulit untuk hanya sekedar bertemu mencari waktu berdua dan sekarang bahkan mereka sudah tidak terlalu sering berkomunikasi baik melalui telepon atau pun pesan. Apalagi selama mereka melakukan pendekatan Sarah tak pernah sekali pun menguhubungi Alvin duluan, membuatnya agak ragu apakah Sarah menyukainya atau tidak.
Sementara itu Sarah yang baru terbangun dari tidur menatap kosong pada kamarnya. Suara ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan. Dibukanya pintu kamar dan Desi, manajernya sudah berdiri di depan pintu.
“Kenapa menyuruhku kemari? Hari ini kan jadwalmu kosong” keluh Desi yang kemudian mengikuti Sarah berjalan ke kamarnya kembali.
“Temani aku hari ini ya” pinta Sarah.
“Nggak bisa Sar! Aku udah ada janji sama Bimo!” tolak Desi. “Lagian kenapa kamu nggak minta ditemenin sama Alvin aja sih? Kan kalian lagi deket”.
“Nggak bisa Des! Dia pasti lagi sibuk. Lagi pula aku malu kalau harus menghubunginya duluan”.
“Apa? Aku nggak salah denger kan? Kamu malu menghubunginya duluan?” Desi tak habis pikir dengan ucapan Sarah itu.
“Sarah, dengerin aku ya. Buang jauh-jauh rasa gengsimu itu. Sekarang udah nggak jaman cowok yang memulai duluan. Kalau kamu terus-terusan kaya gini kapan kamu bakalan punya pacar? Mungkin Alvin menganggap kamu itu nggak suka sama dia karena nggak pernah menghubungi dia duluan. Cowok juga kan pengen kalau ceweknya lebih agresif. Lagian kamu ini aneh deh. Biasanya kamu nggak pernah kaya gini ke cowok lain. Tapi sama Alvin kamu malah malu-malu kucing” celoteh Desi panjang lebar.
Sarah terdiam sejenak mencerna kata-kata dari Desi. Ia merasa apa yang dikatakan Desi ada benarnya juga. Alvin telah berhasil mencuri hatinya. Membuatnya merasa nyaman dan menjadi wanita yang istimewa. Jika ia masih mempertahankan rasa gengsinya bukan tidak mungkin Alvin akan semakin menjauh darinya. Dan hal itu sangat tidak diinginkannya.
“Apa yang kamu katakan ada benarnya juga Des! Aku akan menghubunginya sekarang” Sarah mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Mencari nomor kontak Alvin, namun dirinya tak juga melakukan panggilan telepon. Ia hanya menatap nama Alvin yang ada di ponselnya.
“Kenapa malah bengong?” tanya Desi.
“Aku malu Des!”
Desi membuang nafas kasar. Ia lalu meraih ponsel Sarah dan langsung menghubungi Alvin.
“Hey! Kenapa kamu menelponnya!” protes Sarah yang langsung mengambil ponselnya dari tangan Desi.
Saat Sarah akan membatalkan panggilannya tepat di saat itu Alvin sudah menjawabnya.
__ADS_1
“Halo?”
“Ha.. halo” jawab Sarah terbata.
“Tumben kamu menelponku duluan. Ada apa?”
“Emm.. itu.. nggak! Aku salah pencet Vin!” Sarah menyesali apa yang telah dikatakannya. Sungguh begitu sulit baginya untuk memulai duluan.
“Oh.. aku pikir kamu kangen sama aku” balas Alvin dengan suara yang terdengar kecewa. “Ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya ya. Bye!”
Sarah terus menyebut dirinya bodoh di dalam hati. Sudah bagus tadi dia mendapatkan kesempatan untuk menghubungi Alvin malah dia sia-siakan begitu saja.
“Ahh sudahlah! Aku pulang saja!” ujar Desi yang sudah mulai tampak gusar dengan sikap Sarah.
“Desi!” pekik Sarah saat melihat Desi telah berbalik menuju pintu.
“Apa lagi?”
“Kamu tuh seharusnya bantuin aku biar bisa deket lagi sama Alvin!”
“Tadi bukannya aku sudah bantuin kamu ya? Kamu nya aja yang masih gengsian. Sekarang kamu urus sendiri masalah percintaan kamu. Aku pulang!” Desi tidak mempedulikan Sarah lagi yang terlihat sudah tampak kesal.
Sarah tak tahu lagi harus bagaimana agar hubungannya dengan Alvin kembali dekat seperti dulu. Saat ia hampir putus asa tiba-tiba terlintas di benaknya untuk menghubungi Nathan.
“Nathan, kamu dimana?” tanya Sarah begitu panggilan teleponnya dijawab oleh Nathan.
“Aku lagi syuting. Kenapa?”
“Kirim alamat tempat kamu syuting sekarang!”
“Oke!”
***
__ADS_1