
Nathan dan Alyssa sudah bersiap untuk ke praktek Clarisa seusai mereka makan malam. Tak berapa lama kemudian Clarisa menghubungi Nathan untuk memberitahu jika ia sudah bisa datang ke tempatnya sekarang. Alyssa mengambil tasnya di kamar dan Nathan menunggunya di ruang tamu.
“Kamu sudah siap sayang?” tanya Nathan ketika melihat Alyssa yang sudah datang menghampirinya.
Alyssa mengangguk. Mereka lalu berpamitan pada semuanya. Sepanjang perjalanan Alyssa terlihat sangat gugup. Beberapa kali ia terlihat gelisah di tempat duduknya. Nathan melihat ke arah istrinya sekilas sambil tetap fokus menyetir.
“Kamu kenapa sayang?”
“Nathan aku takut!”
“Takut kenapa?”
“Nanti kalau ada orang yang lihat kita gimana?”
“Alyssa, kamu tenang aja! Kalau Clarisa sudah menyuruh kita kesana itu berarti memang sudah tidak ada orang!” Nathan berusaha menenangkan Alyssa. Ia sangat tahu jika istrinya itu tidak ingin membuat karirnya hancur dengan adanya gosip tentang kehamilannya sebelum pernikahan.
Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di tempat praktek Clarisa. Untuk berjaga-jaga mereka berdua telah memakai masker agar wajah mereka tidak terlalu kelihatan meski pun seperti yang dikatakan Clarisa, tempat prakteknya sudah sepi dan tak ada siapa pun disana. Mereka masuk ke ruang pemeriksaan dan tampak Clarisa sudah menunggu mereka.
“Maaf telah membuatmu menunggu kami” kata Alyssa sedikit merasa tidak enak pada Clarisa.
“Jangan merasa tidak enak padanya!” ujar Nathan yang langsung mendapat pukulan kecil di lengannya dari Alyssa.
“Dia memang biasa begitu Sa!” jawab Clarisa dengan ramah. “Ayo duduk dulu!”
Alyssa dan Nathan duduk berhadapan dengan Clarisa. Kemudian Clarisa melakukan pemeriksaan tekanan darah, mengukur tinggi dan berat badan Alyssa lalu menuliskan hasilnya pada buku pemeriksaan.
“Ayo, sekarang kamu berbaring disini!” pinta Clarisa.
Alyssa menuruti perkataan Clarisa. Ia sudah berbaring dan Clarisa menyingkap sedikit pakaian yang dikenakan Alyssa. Clarisa tampak tersenyum ketika melihat perut Alyssa yang terdapat tanda kepemilikan yang dibuat oleh Nathan pastinya.
“Untunglah kamu seorang wanita, kalau tidak rasanya aku tidak rela jika perut istriku ini dilihat oleh laki-laki lain!” ujar Nathan.
“Kamu ini aneh!” jawab Clarisa. Ia lalu mulai melakukan pemeriksaan.
Alyssa dan Nathan kini sudah duduk kembali berhadapan dengan Clarisa yang mulai menjelaskan hasil pemeriksaannya.
“Usia kehamilannya sudah memasuki minggu keenam. Dan biasanya di awal-awal kehamilan ibu hamil akan mengalami mual muntah. Kalau kamu mengalami hal seperti itu, kamu nggak usah panik karena itu adalah hal yang wajar asalkan mual muntahnya tidak berlebihan!” Clarisa menjelaskan pada pasangan pengantin baru itu.
“Tapi aku tidak mengalami mual muntah. Apa tidak apa kalau aku tidak mengalami itu?” ucap Alyssa.
__ADS_1
“Ya bagus dong kalau kamu tidak mengalami itu. Emangnya kamu mau ngerasain mual muntah saat hamil?” tanya Clarisa.
“Hehe.. nggak!”
“Oh ya, anakku laki-laki atau perempuan?” kini Nathan yang bertanya.
“Setelah umur kehamilannya diatas empat bulan baru kelihatan jenis kelaminnya”.
“Ooh.. terus apa aku boleh melakukannya? Maksudku hubungan suami istri?” mendengar Nathan menanyakan pertanyaan macam begitu membuat Alyssa otomatis menginjak kaki suaminya karena merasa malu.
“Aw! Sakit Sa!” Nathan meringis.
Clarisa tersenyum melihat tingkah laku kedua pasangan di depannya itu. “Sebelum kamu tahu jawabannya juga kamu sudah melakukannya kan semalam?”
Alyssa menunduk malu.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Nathan.
“Astaga Nathan, kamu pikir aku buta apa tidak melihat kissmark di perut Alyssa tadi? Itu baru di perut yang aku lihat, di tempat lain pasti sudah penuh dengan hasil perbuatanmu kan?” goda Clarisa.
Nathan mengingat kembali kejadian panas semalam dimana dirinya membuat begitu banyak tanda kepemilikan di tubuh istrinya kecuali bagian leher karena Alyssa tidak mau orang lain melihatnya.
“Sebenarnya tidak masalah melakukan hubungan seksual saat hamil pada usia kehamilan berapa pun asalkan kehamilan Alyssa dalam kondisi sehat dan tidak ada keluhan setelah melakukannya seperti flek perdarahan, cairan ketuban merembes atau rahim kontraksi terus menerus!” jelas Clarisa.
Penjelasan Clarisa itu tentu saja membuat Nathan sangat senang. Dan setelah menjawab semua pertanyaan dari Nathan dan Alyssa seputar kehamilan, Clarisa lalu memberikan vitamin untuk Alyssa.
Nathan dan Alyssa kini sudah berada di kamar mereka. Alyssa meminum vitamin yang tadi diberikan oleh Clarisa setelah itu ia naik ke tempat tidur menyusul Nathan yang tengah bersandar di tempat tidur. Nathan merangkul pinggang Alyssa dan mendekatkan tubuh mereka.
“Sayang, apa kamu tidak menginginkan sesuatu? Kan biasanya orang hamil itu pasti ingin makan makanan tertentu” tanya Nathan.
“Emm.. nggak! Bukannya bagus ya kalau aku nggak pengen ini itu, kan jadinya kamu nggak perlu repot!”
“Tapi kan aku juga pengen ngerasain rasanya jadi suami yang kesana sini nyariin makanan buat istrinya yang lagi ngidam. Sepertinya keren deh kalau bisa kaya gitu” ujar Nathan sambil membayangkan ia mencari sesuatu yang diinginkan oleh istrinya.
“Kamu yakin mau kaya gitu?”
“Iya lah!”
“Sayang, kalau seandainya aku pengen makanan yang ada di kampung gimana? Kamu mau cariin kesana?”
__ADS_1
“Tentu saja! Emangnya kamu pengen apa?”
“Nggak ada. Itu kan seandainya aja! Oh ya, kenapa kamu nggak ngajak aku bulan madu kemana gitu?”
“Emang kenapa? Kamu pengen?”
“Iya!”
Nathan tersenyum. Tadinya ia memang berniat untuk mengajak Alyssa berbulan madu ke Eropa. Tapi saat Alyssa mengatakan hasil tes kehamilannya ada dua garis merah, Nathan mengurungkan niatnya itu.
“Nanti ya kalau umur kehamilan kamu sudah besar. Aku bakalan ajak kamu kemana pun kamu mau pergi!” ucap Nathan yang diberikan anggukan oleh Alyssa. “Sayang, tunggu sebentar ya!” Nathan beranjak dari tempat tidur.
“Kamu mau kemana?” tanya Alyssa yang sudah melihat Nathan di depan pintu.
“Kamu tunggu aja! Aku nggak lama kok”.
Nathan menghilang di balik pintu. Tapi tak lama kemudian ia sudah kembali ke kamar dengan membawa segelas susu.
“Ini susu untuk istriku tercinta! Silakan diminum nyonya!” Nathan menyerahkan susu itu dengan memperagakan gerakan seperti seorang pelayan istana yang menyerahkan sesuatu kepada tuan putri.
Alyssa menerima susu itu. “Terima kasih suamiku. Kapan kamu membelinya?” tanya Alyssa yang kemudian langsung meminum susunya sampai habis.
“Bi Lilis yang beli!” jawab Nathan yang memperhatikan Alyssa meminum susunya. “Sudah?” lanjut Nathan. Ia mengambil gelas dari tangan Alyssa dan meletakkannya di atas nakas.
“Makasi ya sayang!” kata Alyssa.
“Sama-sama. Sekarang giliranku!” ucap Nathan dengan senyum nakal.
“Giliran apa?” Alyssa tak mengerti.
“Minum susu!”
“Oh, kamu juga mau aku buatin susu?”
Nathan menggeleng. “Kamu nggak perlu buat sayang!” Nathan mendekatkan tubuhnya ke arah Alyssa. Tangannya sudah mulai nakal lagi dan Alyssa dengan cepat mengerti apa yang dimaksud ‘minum susu’ oleh Nathan.
“Mulai lagi deh!” keluh Alyssa.
Meski Alyssa mengeluh tapi itu tak membuat Nathan menghentikan aksinya. Ia minum susu seperti seorang bayi. Dan Alyssa akhirnya menerima saja apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
__ADS_1
***