
Alyssa yang baru saja selesai mandi langsung mengambil ponselnya yang sejak tadi berdering tanpa henti. Rupanya Nathan melakukan panggilan video dan Alyssa segera mengangkatnya.
“Kamu baru habis mandi ya?” tanya Nathan ketika panggilannya telah dijawab dan ia melihat rambut Alyssa yang masih basah.
“Iya! Ada apa Nat?”
“Kenapa malah tanya ‘ada apa’ ? Ya jelas aku kangen lah!” jawab Nathan sewot.
Alyssa tertawa kecil melihat wajah Nathan yang berubah cemberut.
“Bagaimana hari pertamamu di kantor?”
“Yahh, seperti yang sudah kamu tahu sendiri, aku jadi pusat perhatian disana!” Nathan mulai tersenyum lagi memamerkan dirinya yang menjadi pusat perhatian orang-orang kantor.
“Pede banget sih kamu!”
“Ya dong, karena itulah faktanya!”
Alyssa hanya bisa menghela nafas dalam melihat kepedean dari kekasihnya itu. Tapi Alyssa akui memang begitulah adanya. Dimana pun dan kemana pun Nathan pasti akan selalu menjadi pusat perhatian semua orang.
“Terus kamu bisa nggak ngerjain semua tugas yang diberikan papamu?”
“Bisa sih walau pun masih ada salah-salah dikit tapi itu kan wajar karena ini hari pertamaku” ucap Nathan tak terlalu bersemangat.
“Sayang, apa kamu nyaman dengan yang kamu lakukan sekarang?”
“Emm.. kenapa bertanya seperti itu? Aku nyaman kok!” jawab Nathan cepat.
Alyssa tahu jika saat ini Nathan sedang berbohong kepadanya. Walau pun Nathan menjawab ‘nyaman’ dengan cepat tapi ekspresi wajahnya berkata lain. Dan Alyssa tahu jika Nathan terpaksa melakukan semua keinginan papanya demi dirinya.
“Sayang, berapa lama kamu akan disana?” tanya Nathan kemudian berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Entahlah, aku masih belum tahu sampai kapan. Aku masih kangen sama ibu dan bapak”.
“Emangnya kamu nggak kangen sama aku?”
“Belum!”
“Kenapa belum?” Nathan mulai menaikkan suaranya mendengar jawaban Alyssa yang belum merindukannya.
__ADS_1
“Kan tadi pagi kita masih ketemu, jadi sekarang aku belum kangen sama kamu. Mungkin kangennya baru besok” kata Alyssa santai.
Selagi masih melakukan panggilan video dengan Nathan, mata Alyssa dibuat tak percaya saat melihat Alvin berada di samping Nathan. Dengan tersenyum manis Alvin melambaikan tangannya pada Alyssa.
“Hai Sa!” sapanya.
“Alvin, kenapa kamu bisa disana?”
“Ya bisa lah sayang, dia kesini naik mobil” Nathan yang menjawab pertanyaan Alyssa.
“Maksud aku, sejak kapan kamu disana? Bukannya kamu harusnya sekarang lagi di rumah?”
“Pengennya sih gitu Sa! Tapi pacar kamu ini maksa aku suruh langsung balik habis nganterin kamu. Nih aku baru aja sampai sini!” keluh Alvin.
“Nathan! Kamu itu tega banget sih suruh Alvin langsung balik. Kan kasihan dia jadi capek nyetir!”
“Sayang, besok itu Alvin harus ikut aku ke kantor”.
“Ngapain dia ikut kamu ke kantor?”
“Sa, asal kamu tahu aja ya. Cowok kamu itu suka sama aku, makanya dia nggak bisa jauh dari aku. Terus aku disuruh ikut dia ke kantor!” canda Alvin yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nathan.
“Iya!”
***
Hari-hari berikutnya Nathan dan Alvin disibukkan dengan kegiatan mereka di kantor. Ben sangat sabar dalam membimbing mereka berdua dan terbukti sudah ada kemajuan pesat pada keduanya yang membuat Rudi Aditama sangat bangga.
Di tempat lain kini bu Ratna dan pak Herman sudah beberapa hari ini terlihat tidak membuka toko sembakonya di pasar. Bukan tanpa alasan, tapi karena banyaknya orang-orang yang masih menanyakan soal lamaran Nathan pada Alyssa membuat bu Ratna dan pak Herman akhirnya menutup sementara toko mereka.
Berita tentang Nathan melamar seorang gadis dalam suatu acara masih menjadi topik hangat di berbagai media gosip. Dan kini para wartawan sudah berhasil mendapatkan informasi mengenai siapa wanita yang dilamar oleh Nathan itu. Ya, sekarang semua orang sudah tahu jika Nathan melamar asistennya sendiri. Tapi hanya sebatas itu saja, informasi mendetail mengenai Alyssa tidak banyak diketahui oleh publik.
Jangan ditanya bagaimana Alyssa saat ini. Ia sekarang mengurung diri di rumahnya. Bukannya takut, tapi Alyssa terlalu malas meladeni pertanyaan orang-orang di kampungnya mengenai Nathan yang tak kunjung datang menemui orangtuanya untuk melamarnya secara resmi.
“Ah, palingan juga itu settingan. Kan jaman sekarang artis-artis lagi pada ngetrend bikin settingan biar namanya nggak tenggelam!”
“Iya betul! Kalau itu emang beneran kan seharusnya Nathan datang ke kampung kita ya untuk melamar Alyssa ke orangtuanya. Tapi sampai sekarang belum ada tuh tanda-tanda kalau Nathan mau datang!”
Sudah lima hari Alyssa berada di kampungnya.
__ADS_1
Kata-kata seperti itulah yang kini tiap hari didengar oleh Alyssa. Sebenarnya Alyssa tidak mau terlalu ambil pusing dengan omongan tetangga tapi lain lagi dengan bu Ratna yang selalu saja kepikiran dengan perkataan orang terhadap anaknya.
“Sa, kamu ini gimana sih. Hubungan kamu sama Nathan itu beneran serius atau nggak? Ibu kan jadi khawatir kalau dia cuma mainin kamu aja!”
Pertanyaan itu sudah ditanyakan oleh bu Ratna entah sudah berapa kali. Dan jawaban Alyssa masih tetap sama.
“Serius bu!”
“Kamu ini serius-serius aja jawabannya tapi sampai sekarang kenapa nak Nathan nggak ada datang kesini buat ngomong sama ibu dan bapak?” keluh bu Ratna.
“Dia masih sibuk bu! Ibu sabar aja ya”.
“Nggak bisa! Kamu denger kan omongan tetangga kaya gimana? Ibu sama bapak sampai tutup toko kita karena nggak tahan dengan omongan mereka. Coba kamu telpon Nathan, tanya kapan dia mau datang kesini ngelamar kamu!”
“Iya, nanti Alyssa telpon!” jawab Alyssa yang sudah malas mendengar ocehan ibunya.
“Kenapa nggak telpon sekarang?”
“Dia lagi kerja bu!”
“Ya sudah, nanti malam pokoknya kamu harus telpon dia!”
Alyssa menghela nafas panjang begitu ibunya selesai dengan ocehannya. Tapi bagaimana caranya ia bertanya pada Nathan? Ahh.. Alyssa terlalu malu kalau sampai menanyakan kapan Nathan akan melamarnya pada orangtuanya.
Setelah makan malam Alyssa langsung ke kamarnya dan itu adalah perintah dari ibunya untuk menghubungi Nathan. Mau tak mau akhirnya Alyssa mencoba untuk menghubungi Nathan. Beberapa kali melakukan panggilan tapi Nathan tak kunjung menjawabnya.
“Kemana dia? Tumben sekali dia nggak angkat telponku. Apa dia masih di kantor?” gumam Alyssa dalam hati.
Karena lagi-lagi telponnya tak diangkat akhirnya Alyssa memutuskan untuk menghubungi Alvin. Sama dengan Nathan, Alvin juga tak menjawab panggilan dari Alyssa. Hal itu membuat Alyssa merasa jengkel pada keduanya.
“Sebenarnya mereka berdua kemana sih? Kenapa nggak ada yang jawab telponku?” geram Alyssa lalu melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
Dengan perasaan yang masih kesal Alyssa membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya tiba-tiba melayang kemana-mana membayangkan jika Nathan bersama perempuan lain.
“Aaargghh! Kenapa aku jadi berpikiran seperti itu? Tidak mungkin Nathan menghianatiku! Dia rela berkorban demi aku jadi nggak mungkin dia sama cewek lain!” kesal Alyssa pada pikirannya sendiri.
Berusaha menghilangkan pikiran negatifnya, Alyssa berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Dan tak sampai sepuluh menit akhirnya Alyssa tertidur juga.
***
__ADS_1