Aktor Tampan Pujaan Hati

Aktor Tampan Pujaan Hati
Cuek


__ADS_3

Selama perjalanan pulang Nathan hanya terdiam menahan kemarahannya. Alyssa tidak berani berbicara sepatah kata pun karena ia tahu suasana hati Nathan saat ini sedang tidak baik. Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga waktu yang seharusnya mereka tempuh untuk pulang adalah dua jam, menjadi hanya satu setengah jam saja.


Nathan telah berhenti tepat di depan rumah Alvin yang menjadi tempat tinggal Alyssa selama ini, ia masih terdiam tidak bicara sama sekali pada gadis yang ia cintai itu.


“Nathan, aku tau saat ini kamu sedang marah..” ucap Alyssa memulai pembicaraan dengan sedikit rasa ragu.


“Alyssa, kamu itu memang sudah jadi pacarku, tapi bukan berarti kamu bisa ikut campur semua masalah pribadiku”.


“Maksud kamu?”


“Aku tau pasti kamu ingin aku bisa baikan dengan papa, makanya kamu dan mama merencanakan makan malam tadi kan?”


“Aku nggak..” lagi-lagi ucapan Alyssa dipotong oleh Nathan.


“Itu masalah keluargaku. Aku nggak suka kamu ikut campur terlalu jauh dalam hal ini”.


“Nathan, aku benar-benar minta maaf. Tapi aku memang nggak..”


“Aku nggak mau dengar penjelasan apa-apa lagi dari kamu Sa! Sebaiknya kamu turun dari mobil, aku mau pulang sekarang. Aku ngantuk, mau istirahat” kata Nathan ketus.


Alyssa merasa kecewa dengan ucapan Nathan itu. Tapi ia tahu kalau saat ini tidak sebaiknya ia membantahnya. Dengan berat hati ia keluar dari mobil Nathan. Ketika ia sudah turun dari mobil, tanpa mengucapkan selamat malam pada Alyssa seperti yang biasa ia lakukan, Nathan langsung melajukan mobilnya meninggalkan Alyssa.


Alyssa hanya bisa melihat mobil Nathan melaju semakin menjauh dari tempatnya. Pikirannya kacau saat ini, untuk pertama kalinya ia melihat Nathan begitu marah padanya. Air mata jatuh membasahi pipinya ketika mobil Nathan sudah hilang dari pandangannya.


***


Semalaman Alyssa tidak bisa tidur, ia terus memikirkan tentang Nathan. Beberapa kali Alyssa menelepon dan mengirim pesan pada kekasihnya namun tak ada balasan apapun.


Pagi ini walau pun ia merasa kurang enak badan karena semalaman tidak tidur, Alyssa tetap pergi ke apartemen Nathan. Ia berpikir mungkin hari ini suasana hati Nathan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia mulai memasak makanan kesukaan Nathan yaitu cumi asam manis untuk membuat laki-laki itu tidak marah lagi padanya. Ia pikir bisa membujuk Nathan agar tidak marah lagi padanya dengan makanan favorit pacarnya itu.


Pukul sembilan pagi Alvin sudah datang ke apartemen Nathan, dilihatnya Alyssa duduk di ruang makan sambil menatap kosong pada makanan yang telah ia sajikan.


“Kamu kenapa melamun gitu Sa?” tanya Avin.

__ADS_1


“Eh.. emm.. nggak kenapa kok Vin”.


“Nathan belum bangun?”


“Belum”.


“Kenapa nggak dibangunin?”


“Kamu aja yang bangunin dia”.


Alvin kelihatan bingung dengan sikap Alyssa. Ia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Nathan dan Alyssa. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk bertanya dan lebih memilih untuk membangunkan Nathan.


Beberapa menit kemudian Nathan sudah keluar dari kamar dan berpenampilan sangat rapi. Alvin mengikutinya di belakang.


“Sarapan dulu Nat” tawar Alyssa dengan senyuman manisnya.


Namun Nathan tidak mengacuhkannya. Meskipun Alyssa sudah menghidangkan makanan kesukaannya tapi itu tidak membuat Nathan tergiur ingin memakannya. Ia masih merasa kesal dengan Alyssa karena kejadian semalam.


“Vin, apa hari ini aku ada jadwal?” Nathan memalingkan wajahnya pada Alvin yang ada di belakangnya.


Nathan berjalan menuju meja makan, ia duduk di kursi dan Alyssa dengan senang hati mengambilkan piring untuk Nathan. Tapi Nathan tidak peduli dengan Alyssa, ia bersikap seolah-olah Alyssa tidak ada disana. Ia mengambil roti dan selai lalu memakannya tanpa menghiraukan cumi asam manis yang terlihat lezat di meja makan.


“Kenapa kamu nggak sarapan dengan makanan kesukaanmu? Malah memilih roti” ucap Alvin.


“Lagi nggak pengen aja” jawab Nathan cuek.


Alyssa mengerti saat ini ia sedang diacuhkan oleh Nathan. Terasa perih di dada dengan sikap Nathan yang seperti itu padanya. Tapi Alyssa masih mencoba untuk tersenyum seperti tidak ada masalah. Ia mengambilkan sarapan untuk Alvin dan membiarkan dua orang itu sarapan bersama.


“Kamu nggak sarapan Sa?” tanya Alvin yang melihat Alyssa akan berjalan menuju dapur.


“Aku udah sarapan tadi sebelum kesini Vin” Alyssa berbohong.


Usai sarapan Nathan menuju ruang tengah disusul oleh Alvin. Sementara Alyssa membereskan meja makan dan dapur.

__ADS_1


“Kamu ada masalah dengan Alyssa?” tanya Alvin ketika mereka berdua sudah duduk di sofa ruang tengah.


“Aku ada jadwal apa hari ini?” Nathan mengalihkan pembicaraan.


“Itu.. hari ini jam dua siang kamu ada wawancara dengan majalah XX”.


“Ayo kita berangkat sekarang” Nathan beranjak dari duduknya.


“Kemana?”


“Ke kantor majalah itu, katanya aku ada wawancara”.


“Tapi itu jam dua siang Nat”.


“Kita kesana sekarang aja, aku lagi nggak betah diam di rumah”.


“Maaf Nat, pasti gara-gara aku kan kamu jadi nggak betah?” Alyssa tidak sengaja mendengar Nathan bicara begitu. “Kamu diam aja disini Nat, biar aku yang pulang” lanjut Alyssa sambil mengambil tasnya dan bergegas menuju pintu utama.


“Alyssa! Kamu kenapa sih?” Alvin mengejar Alyssa ke pintu tapi Alyssa dengan cepat menutup pintu dan berlari menuju lift.


“Nathan, kamu bertengkar dengan Alyssa?” Alvin menuntut penjelasan dari Nathan.


“Bukan urusanmu!”


“Oke, memang bukan urusanku. Tapi sikapmu pada Alyssa tadi sungguh sangat kenak-kanakan”.


Nathan tidak mempedulikan ucapan Alvin itu, ia berlalu menuju kamarnya. Nathan masih marah dengan Alyssa karena ia menduga Alyssa ikut dalam rencana mamanya untuk membuatnya berbaikan dengan papanya.


“Aarrgghh!” Nathan mengacak rambutnya kesal.


Sebenarnya ia tidak ingin memperlakukan Alyssa seperti tadi, tapi ia tidak terima kalau Alyssa ikut campur dalam masalah keluarganya. Nathan benar-benar kesal. Ia memandang ke segala arah di kamarnya sampai matanya terhenti pada bungkusan kado kecil hadiah ulang tahun dari Alvin untuknya. Ia mengambil bungkusan itu dengan kasar dan membukanya dengan cepat. Kekesalan Nathan semakin menjadi saat ia tahu kalau Alvin memberikannya sepasang kaus kaki lagi. Ini sudah yang kesekian kalinya Alvin memberikannya kaus kaki sebagai hadiah ulang tahun.


“Dia pikir aku nggak punya uang apa buat beli kaus kaki?” kesal Nathan. Ia melempar hadiah kaus kaki dari Alvin itu ke sofa yang ada di dekat jendela kamarnya.

__ADS_1


Nathan menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Matanya memandang hampa langit-langit kamar. Perlahan rasa kantuk mulai menghampirinya kembali padahal ia baru saja terbangun sejam yang lalu dari tidurnya. Matanya mulai terpejam seiring dengan kesunyian yang dirasakannya. Dan tak terasa ia pun tertidur dengan lelap.


***


__ADS_2