
“Wah, masakanmu wangi sekali. Aku jadi nggak sabar pengen sarapan” kata Nathan pagi itu.
Ia terbangun dari tidurnya karena mencium aroma masakan Alyssa yang begitu menggugah selera. Nathan duduk di ruang makan sambil menunggu Alyssa selesai memasak. Pandangannya tidak pernah lepas dari wanita pujaannya itu.
“Sayang, kamu tau nggak, aku itu suka banget ngelihatin kamu kalau lagi masak begini” kata Nathan tiba-tiba.
“Masa sih?” tanya Alyssa sambil tersenyum.
“Iya beneran! Kamu mau tau nggak kenapa?”
“Kenapa emangnya?” tanya Alyssa lagi sambil terus memasak.
“Soalnya kamu kalau lagi masak itu kelihatan seksi. Hehe..” jawab Nathan terkekeh.
“Kamu suka?”
“Iya lah aku suka!”
“Ohh.. jadi kamu suka cewek yang seksi?” Alyssa berbalik dan melihat Nathan dengan tatapan tajam.
“Eh, nggak gitu sayang. Kan tadi aku bilang kamu seksi pas lagi masak dan aku suka ngelihat kamu masak, gitu sayang”.
“Bilang aja kalau kamu emang suka cewek seksi kaya Sarah, iya kan?”
“Buat aku cewek yang paling seksi itu cuma kamu”.
“Gombal banget sih” Alyssa membelakangi Nathan lagi, ia melanjutkan memasaknya.
Usai mereka berdua sarapan bersama, Nathan langsung ke ruang tengah. Hari ini Nathan memang tidak ada jadwal apapun, tapi ia harus menandatangani banyak foto dan baju kaos yang akan dibagikan untuk para penggemarnya. Foto dan baju yang kini telah memenuhi ruang tengahnya itu dibawakan oleh Alvin pagi tadi sebelum Alyssa datang.
“Kamu lagi apa?” tanya Alyssa yang baru selesai membereskan piring sisa makanan tadi di dapur. Alyssa duduk di samping Nathan.
“Kamu lihat ini nggak?” tanya Nathan sambil menunjuk tumpukan foto dan baju di samping kanan kirinya. “Aku harus menandatangani semua ini” kata Nathan sambil memperlihatkan wajah cemberutnya yang justru membuatnya imut.
__ADS_1
“Oke, kalau gitu aku bakalan bantuin kamu” ucap Alyssa.
“Beneran?”
“Iya, aku bantuin kamu dengan doa biar tangan kamu nggak pegel”.
“Ooh gitu ya kamu sekarang”.
“Gitu gimana? Aku kan baik udah doain kamu. Hehe..” balas Alyssa sambil tertawa.
“Udah ah, aku mau ngerjain ini sekarang” Nathan mulai mengambil satu per satu foto yang akan ditandatanganinya.
Alyssa menemani Nathan sambil menyuapinya buah yang sudah dikupas. Nathan merasa senang dengan perhatian yang diberikan Alyssa sehingga ia tidak merasa lelah sedikit pun saat menandatangani begitu banyak foto dan baju.
“Sayang?” ucap Nathan pelan.
“Iya”.
“Kamu mau denger ceritaku nggak?”
“Cerita tentang keluargaku”.
“Iya sayang, aku mau dengar”.
Nathan menghentikan kegiatannya, ia menghadap ke samping melihat Alyssa yang juga menatapnya siap untuk mendengarkan ceritanya.
“Kamu orang pertama yang aku ceritakan tentang keluargaku” kata Nathan kemudian.
Alyssa masih menatap Nathan yang terdiam beberapa saat, ia belum memulai ceritanya.
“Kalau memang sulit untuk diceritakan sekarang nggak apa-apa kok sayang. Aku bakalan siap dengerin cerita kamu kapan aja kamu mau cerita” kata Alyssa mencoba memahami kekasihnya itu. Alyssa berpikir pasti Nathan mempunyai masalah yang berat dengan papanya, melihat begitu sulitnya ia untuk bercerita.
“Nggak, aku mau cerita sekarang!” kata Nathan tegas. Ia menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
__ADS_1
“Iya, aku dengerin cerita kamu sayang” jawab Alyssa lembut menenangkan hati Nathan.
“Sepuluh tahun yang lalu waktu umurku masih 17 tahun, aku sudah mempunyai keinginan untuk menjadi artis. Aku senang bisa dikenal banyak orang dan aku menyukai akting. Aku bicara dengan mama dan papa tentang keinginanku itu dan mereka mendukungku tapi dengan syarat tidak boleh ada yang tau tentang kehidupan keluargaku. Papa memberikan syarat itu kepadaku bukan tanpa alasan, ia tidak ingin rekan bisnisnya memanfaatkanku jika aku sudah menjadi artis nantinya. Papa tidak mau sampai semua orang tau kalau aku adalah anaknya karena bisa saja rekan bisnisnya menjatuhkan perusahaan papa dengan membuat gosip yang tidak masuk akal tentangku. Papa berpikir memang menjadi artis itu pasti akan mendapat banyak gosip.
Setelah mendapat ijin dari orangtuaku, aku mulai mengikuti banyak casting dan kakakku selalu ada untuk mengantarku kemana pun aku pergi casting”.
“Kakak? Tapi mamamu bilang kamu anak satu-satunya” tanya Alyssa penasaran.
“Sejak lima tahun yang lalu aku memang menjadi anaknya satu-satunya”.
Nathan menghela nafas dan memejamkan matanya sebelum melanjutkan ceritanya.
“Aku punya kakak yang tiga tahun lebih tua dariku, namanya Kevin. Dia kakak yang baik dan jauh lebih pintar dariku. Dia selalu menjagaku saat sekolah dulu, makanya nggak ada yang berani ngebully aku di sekolah. Di depan papa mama, kak Kevin adalah anak penurut yang menjadi kebanggaan keluarga. Tapi di belakang itu, dia adalah anak nakal sama sepertiku. Tapi nakalnya kak Kevin hanya aku yang tau”.
“Suatu hari papa bertanya pada kami berdua, siapa yang mau melanjutkan bisnis papa dan memimpim perusahaan. Tentu saja aku menolaknya, saat itu aku baru memulai karirku sebagai aktor dan aku memang tidak tertarik untuk meneruskan usaha papa. Karena aku menolak akhirnya papa memutuskan bahwa kak Kevin lah yang akan meneruskan usahanya. Kak Kevin hanya bisa berkata iya di depan papa karena ia ingin jadi anak penurut dan membanggakan. Tapi sebenarnya kak Kevin juga ingin menolak keinginan papa sama sepertiku”.
“Kak Kevin mulai bekerja di perusahaan papa, setiap hari dia sibuk dan jarang ada waktu buat kami bertemu. Dia sibuk dengan urusan kantornya sedangkan aku sibuk dengan syuting. Saat itu aku benar-benar merasa jauh darinya. Aku tidak bisa mendengarkan keluh kesahnya lagi. Aku syuting hingga subuh dan ketika pulang kak Kevin masih tidur. Dan pagi hari puk begitu, kak Kevin berangkat kerja, aku masih tertidur di kamar. Apa kamu bisa bayangin gimana rasanya ada dalam satu rumah tapi tidak bisa bertemu?”.
Alyssa menggeleng menjawab pertanyaan Nathan.
“Ketika akhirnya filmku sukses besar dan meraup untung yang banyak, tentu saja aku ingin merayakannya dengan kak Kevin. Aku meneleponnya beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Aku pikir kak Kevin sedang sibuk di kantornya. Aku mencarinya ke kantor tapi papa bilang kak Kevin sedang tidak enak badan jadi dia pulang lebih awal. Aku menyusulnya ke rumah dan mama bilang kak Kevin sedang istirahat di kamar. Aku ingin masuk ke kamarnya tapi urung kulakukan karena berpikir mungkin kak Kevin butuh istirahat yang cukup. Tapi sampai jam makan malam tiba kak Kevin tidak keluar dari kamarnya. Aku segera ke atas untuk membangunkan kak Kevin, tapi pintu kamarnya dikunci. Aku mulai panik karena tidak biasanya ia tidur sambil mengunci kamarnya. Aku berteriak ke semua penghuni rumah karena sudah takut kalau kak Kevin kenapa-kenapa. Papa datang membawa kunci cadangan kamar kak Kevin dan begitu ia membukanya kami semua terkejut melihat kak Kevin sudah terbujur kaku di tempat tidurnya”.
“Aku merasa bersalah, seharusnya aku bisa mencegahnya untuk meminum obat itu. Seandainya waktu itu aku tidak berpikir untuk membiarkan kak Kevin beristirahat lebih lama, pasti aku bisa mencegahnya untuk bunuh diri“.
Air mata Nathan sudah jatuh membasahi pipinya. Alyssa mengusap air mata kekasihnya dan memeluk Nathan untuk menenangkannya.
“Kami menemukan surat yang dibuat oleh kak Kevin sebelum dia bunuh diri. Di surat itu dia menulis kalau dia merasa kesepian tidak ada teman untuk bercerita tentang perkerjaannya di kantor. Ia stres dengan pekerjaannya yang dilakukan secara terpaksa itu. Aku merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan urusanku sampai aku melupakan kak Kevin yang sangat tertekan dengan pekerjaannya. Kalau saja aku yang menerima keinginan papa dari awal mungkin kak Kevin sekarang masih hidup”.
“Setelah kematian kak Kevin, papa mulai menentang karirku. Ia ingin aku berhenti menjadi aktor dan belajar untuk mengurus perusahaannya. Aku bertengkar dengan papa karena tidak mau menuruti keinginannya sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal sendiri di apartemen ini”.
Alyssa ikut menangis mendengar cerita pilu Nathan. Ia tidak menyangka ternyata kisah hidup Nathan sangat menyedihkan, kehilangan orang yang paling disayanginya dan sekarang harus bermusuhan dengan ayah kandungnya sendiri. Alyssa memeluk Nathan semakin erat ketika isak tangis Nathan semakin keras.
“Tenang Nathan, aku janji akan membuatmu merasakan kehangatan keluarga seperti dulu” batin Alyssa.
__ADS_1
***