
Sudah dua hari ini Nathan bersikap cuek terhadap Alyssa. Tapi gadis itu masih saja sabar dengan sikap Nathan yang seperti itu. Ia tetap datang pagi-pagi ke apartemen Nathan hanya untuk membuatkannya sarapan walau pun pada akhirnya semua makanannya tidak ada yang dimakan satu pun oleh Nathan.
Tante Maya sudah mencoba untuk menghubungi Nathan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya agar Nathan tidak marah pada Alyssa. Tapi tidak pernah sekali pun ia mengangkat panggilan telepon atau sekedar membalas pesan dari mamanya itu. Tanye Maya sempat menghampiri anaknya di apartemen tapi Nathan tidak ada.
Hari ini Nathan berencana untuk bermalas-malasan di apartemennya karena tidak ada jadwal. Dan begitu dilihatnya Alyssa sudah menunggunya di meja makan ia mengurungkan niatnya untuk sarapan dan memilih masuk kembali ke dalam kamarnya.
Tentu saja Alyssa sudah tahu kalau Nathan akan bersikap seperti itu lagi padanya. Ia berjalan menuju kamar Nathan dan kemudian berdiri tepat di depan pintu kamarnya, tapi ia tidak mengetuk pintunya.
“Aku tahu kamu masih marah sama aku Nat. Aku bisa ngerti dengan sikap kamu yang seperti ini. Tapi nggak apa-apa, aku bakalan terus buatin sarapan untukmu sampai kamu nggak marah lagi. Sekarang aku bakalan pulang, tapi kamu jangan lupa sarapan ya. Aku udah siapin sarapan buat kamu di meja makan” Alyssa berbicara dari balik pintu.
Meski tidak ada jawaban dari Nathan tapi ia yakin kalau laki-laki itu pasti sudah mendengar ucapannya tadi. Alyssa akhirnya pulang ke rumah dengan perasaan yang lagi-lagi kecewa karena Nathan belum mau bicara dengannya.
Sementara itu Nathan yang sudah keluar dari kamarnya begitu Alyssa pulang segera menuju ruang makan. Dilihatnya meja makan sudah dengan berbagai macam makanan yang dibuat oleh Alyssa untuknya.
“Apa dia pikir aku bisa menghabiskan ini semua?”
Nathan melihat ada secarik kertas di ujung meja dan mengambilnya lalu membaca isi pesan dari Alyssa.
Aku tidak tahu kamu ingin makan apa hari ini, jadi aku buatin banyak pilihan makanan untukmu. Selamat makan sayangku!
Nathan meremas kertas itu dan membuangnya sembarangan. Ia menuju dapur dan memilih untuk memasak sendiri sarapannya.
Saat ia sedang sarapan tiba-tiba ponselnya berdering dan itu panggilan telepon dari Rangga.
“Nat, aku harus bertemu denganmu sekarang. Kamu lagi ada dimana?”
“Di apartemen. Kenapa mau ketemu pagi-pagi sekali?”
“Ada hal yang sangat penting, yang kamu harus tahu”.
“Baiklah”.
“Oke, aku kesana sekarang”.
Setengah jam kemudian Rangga sudah tiba di apartemen Nathan. Ia mengajak Rangga untuk berbicara di ruang tengah.
“Ada apa? Kelihatannya penting sekali” kata Nathan memulai pembicaraan.
“Ini memang penting dan ini menyangkut tentang film baru kita”.
“Kenapa dengan film baru kita?”
“Nat, aku benar-benat tidak tahu akan jadi seperti ini”.
“Maksudmu apa?”
“Nadia sempat menemuiku”.
__ADS_1
“Kenapa dia menemuimu?”
“Dia ingin mendapatkan peran utama dalam film ini. Dan kamu tau kenapa dia menginginkannya?”
Nathan menggeleng.
“Sepertinya Nadia ingin kembali bersamamu. Maksudku, aku tahu kamu sudah putus dengannya walau pun aku tidak tahu alasannya. Tapi Nadia datang padaku dan meminta langsung peran itu. Ia sempat menawarkan beberapa keuntungan untuk film ini, tapi aku menolaknya saat itu juga”.
“Lalu apa masalahnya? Kan sudah kamu tolak”.
“Masalahnya.. emm.. gimana cara aku jelasin ke kamu ya?” Rangga terlihat sedikit bingung dengan apa yang akan dikatakannya. Ia takut apa yang akan disampaikannya akan menyinggung perasaan Nathan.
“Jelasin aja langsung”.
“Tapi kamu jangan marah ya?”
“Iya!”
“Emm.. Pak Ridwan, produser kita tadi pagi meneleponku. Dan dia bilang aku harus menerima Nadia sebagai pemeran utama bersama denganmu. Kalau tidak dia tidak akan membiayai film ini”.
Nathan hanya diam saja mendengar penjelasan dari Rangga. Sulit membaca ekspresi wajah Nathan saat ini.
“Nat, aku benar-benar nggak tahu kenapa Pak Ridwan bisa memilih Nadia sebagai pasanganmu di film”.
“Aku tahu kenapa” jawab Nathan kemudian. Ia sudah bisa menebak pasti Nadia telah merayu Pak Ridwan untuk mendapatkam peran utama dalam film itu.
“Ya! Aku sudah tahu”.
“Jadi, kamu akan mundur dari film ini?”
“Tidak! Biarkan saja dia jadi pasanganku di film”.
“Tapi Nat..”
“Bukakah itu akan sangat menguntungkan untuk film ini? Pasti banyak orang yang akan menontonnya”.
Rangga tampak terkejut mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Nathan. Selama ia mengenal Nathan, tidak pernah sekali pun ia bersikap seperti ini.
“Kenapa kata-katamu sama dengan yang diucapkan Nadia waktu itu?”
“Aku juga sudah tahu kalau Nadia pasti akan berkata begitu. Jadi ya sudah, ikuti saja apa katanya”.
“Tapi apa kamu nggak keberatan beradu akting dengannya? Kamu sudah baca ceritanya kan? Ada beberapa adegan mesra yang harus kamu lakukan dengannya”.
“Ya aku tahu! Tapi itu nggak masalah. Lagi pula aku sudah nggak ada perasaan apa-apa dengannya. Sekarang yang terpenting adalah karirmu sebagai sutradara. Aku nggak apa-apa kalau hanya beradu akting dengan Nadia, yang penting karirmu nggak hancur”.
“Nathan, aku nggak nyangka kamu bakalan seperti ini. Aku benar-benar berterima kasih sekali denganmu”.
__ADS_1
“Sudahlah Ngga, kamu itu temanku. Kita dulu berjuang sama-sama untuk karir kita”.
“Pokoknya kamu memang yang terbaik Nat! Oh ya, selamat ulang tahun, maaf terlambat”.
“Terima kasih. Kamu sudah sarapan?” tanya Nathan.
“Eh.. emm.. belum sempat. Aku tadi buru-buru kesini”.
“Kalau gitu kamu sarapan disini dulu sebelum pulang”.
“Boleh?”
“Ya boleh lah. Ayo ke ruang makan”.
Tanpa malu-malu Rangga mengikuti Nathan menuju ruang makan karena memang ia sudah merasa kelaparan. Ia melihat banyak makanan yang ada di meja makan begitu menggugah selera.
“Wahh, kenapa ada banyak menu begini untuk sarapan? Kamu buat ini sendiri?” tanya Rangga yang langsung duduk dan mengambil piring untuk dirinya.
“Nggak, ada yang masakin aku”.
“Siapa?”
“Udah, kamu nggak perlu tahu. Cepat makan, kalau nggak bisa dihabisin sekarang kamu bisa bawa pulang semua”.
“Beneran nih aku boleh bawa pulang semua?” kata Rangga sambil tersenyum dan mulai mengisi piringnya dengan menu yang tersedia.
Nathan hanya mengangguk dan duduk di hadapan Rangga sambil memainkan ponselnya.
“Kamu nggak makan?”
“Aku udah makan tadi sebelum kamu datang Ngga”.
Rangga sangat menikmati makanannya. Entah dirinya yang merasa sangat lapar atau memang karena makanannya terasa sangat enak sehingga membuatnya menghabiskan dua porsi.
“Ini enak banget Nat, aku boleh tahu siapa yang masak?”
“Kenapa?”
“Pengen aku jadiin koki pribadiku Nat”.
“Hahaha.. maaf Ngga, kamu nggak bisa jadiin dia koki pribadimu. Soalnya yang masak ini nenekku, dia sengaja masakin sekarang karena pas aku ulang tahun dia nggak sempat bikinin masakan buat cucunya”.
“Ohh.. kamu masih punya nenek? Setauku semua nenekmu udah meninggal”.
“Nenek angkat” jawab Nathan asal.
Rangga hanya mengangguk percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nathan. Ia tidak berpikir bahwa Nathan telah membohonginya tentang nenek angkatnya itu.
__ADS_1
***