Aktor Tampan Pujaan Hati

Aktor Tampan Pujaan Hati
Lamaran


__ADS_3

Hari sabtu di pagi hari yang cerah, Nathan sudah terlihat berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya yang sudah rapi dan juga wajahnya yang memang sudah tampan sejak lahir. Merapikan sedikit rambutnya ia bergegas keluar dari kamarnya dan menemui sang mama yang sudah menunggunya sejak tadi di ruang makan.


“Ma, semua persiapannya udah beres kan?” tanya Nathan saat sudah duduk di depan meja makan.


“Sudah sayang!”


Hari ini Nathan dan kedua orangtuanya, ditambah dengan Alvin dan Ben akan melamar Alyssa. Nathan sudah merencanakannya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan ia sengaja tidak memberitahu Alyssa karena ingin membuat kejutan.


Usai sarapan Nathan dan Alvin berangkat dengan satu mobil sementara Ben dan suami istri Aditama mengikuti dengan mobil yang lainnya. Perjalanan menuju kampung Alyssa membutuhkan waktu sekitar empat jam lamanya.


“Bagaimana penampilanku hari ini?” tanya Nathan yang saat ini terlihat sekali kalau dirinya sedang gugup..


Beberapa kali Alvin yang sedang menyetir mobil melirik ke arahnya dan melihat Nathan sedang meremas-remas tangannya sendiri.


“Seperti biasa” jawab Alvin singkat.


“Maksudmu penampilanku biasa aja gitu?” Nathan mulai menaikkan suaranya.


“Eh.. nggak gitu! Maksudku penampilanmu seperti biasa selalu terlihat sempurna!” jawab Alvin cepat. Lebih baik ia bilang begitu dari pada membuat Nathan marah.


Sementara di rumahnya Alyssa tengah sibuk di dapur, mencoba membuat makanan dengan resep baru yang ia dapatkan dari internet. Bu Ratna entah mengapa hari ini ingin sekali bersih-bersih rumah, jadilah saat ini bu Ratna membersihkan seisi rumah secara menyeluruh. Pak Herman lain lagi, ia kini disibukkan dengan kegiatannya yang baru-baru ini ia lakukan yaitu mengurus ikan-ikannya di kolam. Beberapa hari yang lalu pak Herman membuat kolam ikan di belakang rumahnya untuk mengusir kejenuhannya selama tidak berjualan.


Saat menjelang makan siang bu Ratna baru saja selesai membersihkan rumahnya. Ia terduduk di teras rumah dengan kemoceng dan lap di tangannya. Menyandarkan dirinya di kursi sambil meregangkan otot-ototnya bu Ratna melepaskan semua kelelahannya.


“Akhirnya selesai juga semuanya!” ujar bu Ratna.


Saat tengah beristirahat tiba-tiba mata bu Ratna membulat sempurna saat dua mobil mewah memasuki pekarangan rumahnya dan berhenti disana. Bu Ratna mengucek matanya sejenak memastikan jika ia tidak salah lihat.


Bu Ratna dibuat makin tak percaya saat melihat sosok yang keluar dari dalam mobil. Nathan dan Alvin tersenyum sumringah kepadanya. Dan di mobil yang satunya tampaklah sepasang suami istri yang juga menyunggingkan senyuman dan seorang pemuda yang juga tak kalah tampan dari Alvin dan Nathan. Bu Ratna sangat yakin kalau suami istri itu adalah orangtua Nathan.


“Bapak! Alyssa! Cepat keluar!” Bu Ratna berteriak memanggil suami dan anaknya.


“Kenapa Alyssa nggak bilang kalau Nathan akan datang kesini sekarang? Aku kan bisa siap-siap!” keluh bu Ratna dalam hati sambil menyesali penampilannya saat ini yang sudah terlihat tak karuan sehabis bersih-bersih rumah.


“Ibu kenapa pakai teriak gitu sih manggilnya?” tanya Alyssa kesal yang baru saja keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


“Kenapa bu?” Pak Herman juga baru saja muncul.


Belum sempat bu Ratna menjawab Alyssa dan pak Herman sudah lebih dulu melihat Nathan dan yang lainnya. Terlebih Alyssa yang sangat tidak percaya dengan kedatangan orangtua Nathan. Bu Ratna segera menaruh kemoceng dan lapnya dengan buru-buru. Pak Herman mempersilakan Nathan dan yang lainnya masuk lalu bergegas ke kamar untuk berganti baju dengan yang lebih rapi, bu Ratna pun melakukan hal yang sama.


Berbeda dengan kedua orangtuanya yang segera berganti pakaian, Alyssa malah diam mematung di tempatnya menyaksikan Ben dan Alvin yang membawa satu per satu seserahan untuk melamarnya dan meletakkannya di meja ruang tamu.


“Sayang, i love you!” bisik Nathan di telinga Alyssa saat ia melewati Alyssa dan kini Nathan dan yang lainnya sudah duduk di ruang tamu.


Bu Ratna dan Pak Herman sudah keluar dari kamar dengan baju yang menurut mereka adalah yang terbaik. Kini mereka juga sudah duduk di ruang tamu.


“Alyssa, cepat ganti bajunya!” kata-kata ibunya membuat Alyssa tersadar dari lamunannya dan ia segera ke kamarnya untuk merapikan penampilannya.


“Iya bu!”


Nathan dan tante Maya tersenyum melihat tingkah Alyssa. Selagi Alyssa berganti pakaian di kamarnya, om Rudi sudah berbincang dengan pak Herman dan bu Ratna tentang kedatangan mereka yang ingin melamar Alyssa untuk anaknya.


Di luar rumah, beberapa tetangga yang lewat berhenti di depan rumah Alyssa karena melihat dua mobil mewah terparkir di halaman rumahnya dan mereka sangat penasaran dengan siapa tamu yang datang.


“Siapa yang datang? Tumben sekali bu Ratna kedatangan tamu dengan mobil sebagus ini”.


Begitulah para ibu-ibu kepo yang kini sudah menunggu dari jarak jauh untuk melihat siapa yang bertamu saat tamu bu Ratna sudah keluar rumah.


“Kalau saya sih terserah Alyssa saja. Semua keputusan ada di tangan Alyssa” kata pak Herman setelah orangtua Nathan menyampaikan maksud dan tujuannya datang kesana.


“Bagaimana nak? Kamu mau menerima Nathan?” tanya tante Maya.


Tidak perlu berpikir lama bagi Alyssa untuk menjawab pertanyaan itu. Dengan sangat yakin ia menerima lamaran itu.


“Iya!” jawab Alyssa.


Semua tersenyum senang dengan jawaban Alyssa. Dan Nathan merasa sangat lega walau pun ia sudah tahu jawabannya. Ya, sejak tadi Nathan masih merasa gelisah meski ia berusaha untuk tidak menampakkannya di depan semua orang. Dan ketika Alyssa menerimanya kegelisahan Nathan seketika menghilang begitu saja.


“Baiklah, karena Alyssa sudah menerima anak kami maka kita putuskan pernikahannya akan dilaksanakan secepatnya” ucap om Rudi kemudian.


“Iya pa, lebih cepat lebih baik!” ujar Nathan bersemangat.

__ADS_1


Yang lainnya hanya tersenyum dengan ucapan Nathan. Terlebih Alvin yang duduk di samping Nathan. Dengan menyenggol lengan Nathan ia membisikkan sesuatu di telinga sahabatnya itu.


“Cie.. yang udah pengen cepet-cepet malam pertama” goda Alvin.


Nathan tak menanggapi perkataan Alvin itu.


“Bagaimana pak Herman? Apa bapak setuju jika pernikahannya dilaksanakan secepatnya?” lanjut om Rudi.


“Saya sih setuju saja. Seperti kata nak Nathan, lebih cepat lebih baik” balas pak Herman.


“Kalau begitu pernikahannya akan dilaksanakan dua minggu lagi”.


Nathan tidak menyangka papanya akan memutuskan untuk melangsungkan pernikahannya dengan Alyssa dalam waktu dua minggu. Sebelumnya ia tidak membicarakan soal ini pada papanya. Ia hanya ingin fokus untuk melamar Alyssa saja dulu. Tapi seperti mendapatkan undian berhadiah, Nathan begitu senang dengan keputusan papanya saat ini.


Setelah diputuskan jika keduanya akan menikah dua minggu lagi, bu Ratna mengajak semuanya untuk makan siang bersama. Kebetulan Alyssa tadi sempat mencoba resep baru sebelum Nathan dan yang lainnya datang. Meski makan dengan sedikit berdesakan karena meja makan yang kecil, tapi mereka begitu menikmati makan siang mereka. Sesekali mereka juga berbincang tentang hal-hal kecil untuk mencairkan suasana.


Usai makan siang Nathan dan kedua orangtuanya serta Ben pamit dari rumah Alyssa. Rencananya hari ini mereka akan menginap di hotel terdekat dan besok akan kembali ke kota bersama dengan Alyssa. Sementara Alvin malam ini akan tidur di rumahnya sendiri.


“Kalau begitu kami pamit dulu” ucap tante Maya.


Tanpa mereka sadari ibu-ibu kepo yang sejak tadi memperhatikan dari jarak jauh kini sudah tahu siapa pemilik mobil mewah itu.


“Jadi benar itu milik Nathan”


“Apa mereka orangtua Nathan?”


“Wahh, sepertinya bu Ratna akan memiliki menantu yang tampan”.


“Apa sih istimewanya Alyssa sampai Nathan bisa jatuh cinta padanya? Cantikan juga anakku kemana-mana”.


“Dia pasti pakai pelet nih biar Nathan cinta sama dia”.


“Aku pengen foto sama Nathan. Bisa kali ya minta sama bu Ratna supaya Nathan mau foto sama aku”


***

__ADS_1


__ADS_2