
Bukan Khanza yang menjawab sapaan Lintang melainkan Salsa yang sudah gatal ingin menjulidinya. Dia sudah berpikir negatif dengan apa yang dilakukan Lintang. Pasti orang spesial yang sedang mengobrol dengan Lintang.
"Hai Lintang, kayaknya lagi asyik teleponan nih, sampai gak sadar ada kita dibelakang lo,"sindir Salsa.
"Kita dah lama ada dibelakang lo,"ucapnya Salsa sengaja seketika mendapat sikutan dari Khanza.
"Salsa bercanda kok Lint, dah yak kita duluan." Khanza menyeret paksa Salsa pergi dari hadapan Lintang.
"Khanza,,,"panggil Lintang. Kamu pulang naik apa?
"Angkotlah,"jawab sewot Salsa, mewakili Khanza yang baru saja akan menjawab.
"Aku anterin yak?"
"Gak usah, gw duluan yak! Mari!" Khanza melesat pergi dari hadapan Lintang.
Lintang menatap nanar kepergian Khanza, sebelum akhirnya dia tersadar jika sudah ditunggu seseorang.
Setelah didepan gerbang sekolah selagi menunggu angkot jurusan yang membawa mereka pulang, Salsa memprotes Khanza.
__ADS_1
"Kok lo gak mau sih diajakin pulang bareng sama si Lintang?"
"Gak apa-apa, lagian Lo juga tahu kayaknya dia lagi sibuk. Itu cuma basa basi dia aja Sa."
"Yak harusnya lo jawab mau dong, sekalian tes dia. Dahulukan Lo apa orang yang lagi dia telepon tadi. Gw penasaran reaksinya kalo seandainya Lo 'iyain'."
"Gak apa-apa Sa. Bagus malah. Jadi gw gak pernah repot hindarin dia nantinya."
"Terserah Lo deh Za. Yang penting Lo siap sakit hati nanti."
"Dah yuk! Tuh angkotnya dah ada." Tunjuk Khanza pada angkot yang sebentar lagi sampai didepan mereka.
***
"Assalamualaikum,,,Bu Khanza pulang!" Ucap Khanza dan langsung masuk kedalam rumah.
"Waalaikum salam,"jawab Ibu Ratna keluar dari dalam kamarnya dengan masih menggunakan mukena.
"Sudah pulang nak?"jawab Ibu menerima uluran tangan anaknya itu.
__ADS_1
"Sudah Bu,,, Khanza masuk dulu yak Bu." Khanza pun kemudian masuk kedalam kamarnya karena inginmengganti seragam juga karena sudah merasa lelah.
Ibu Ratna mengurungkan niatnya yang akan menyuruh Khanza makan karena melihat anaknya itu sepertinya lelah sekali.
Didalam kamar, Khanza ternyata bukannya segera mengganti seragamnya tetapi dia justru langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Selain cape pikiran setelah melewati Pendalaman Materi, dia juga merasa cape hati. Dia teringat nasib percintaan dengan Lintang yang tidak berjalan mulus. Jauh di lubuk hatinya dia masih sangat mencintai Lintang tetapi dia juga tidak mau menentang kedua orangtuanya.
Lintang adalah cinta pertamanya yang mau tidak mau harus dia lupakan. Tapi tidak dengan Lintang, Khanza tidak tahu dia keberapa dihatinya, apalagi sepertinya Lintang sudah menemukan tambatan hati yang baru. Instingnya sebagai perempuan, berpikir seperti itu.
Asyik memikirkan nasibnya percintaan nya, tanpa sadar Khanza tertidur.
***
Lintang benar-benar tiba di rumah orang Cher tepat waktu. Dia bahkan sampai tidak mengganti seragam sekolahnya dulu.
Masuk didalam rumah, Lintang disuguhi cemberutan dari Cher. "Lama,"cebiknya.
"Astaga,nih gw juga dah cepet kali Cher. Lo gak lihat gw sampai gak kerumah gw dulu demi bisa cepet sampai rumah Lo."
__ADS_1
Cher tersadar Lintang ternyata masih memakai seragam sekolahnya. Dia langsung menunjukkan senyum manisnya.
Melihat senyuman Cher, Lintang jadi teringat Khanza dan seketika merasa bersalah padanya.