
Mereka bertiga menuju kantin bersama,tidak saling membuka obrolan selama diperjalanan menuju kantin,apalagi Salsa yang bingung memulai obrolan terasa sungkan ada Lintang disampingnya.
"Kita duduk situ yuk Za!"tunjuk Salsa pada bangku deretan paling pojok mengurai kecanggungan.
Setelah sampai di bangku,lalu Khanza dan Salsa duduk tapi tidak dengan Lintang,dia masih berdiri karena akan segera memesan makanan.
"Mo makan apa Za?"tanya Lintang
"Hm,,,"Khanza menengok kanan kiri melihat para penjual jajanan,dia masih ingin makan apa. Dia belum menjawab pertanyaan Lintang.
"Atau aku pesenin apa aja ya,bakso mau?"tawar Lintang pada akhirnya karena Khanza belum juga menentukan ingin makan apa.
"Boleh deh!"jawab Khanza pada akhirnya. "Kamu Sa?"
"Duluan aja deh,nanti gw nyusul."
"Hey kamu mau kemana?"tanya Lintang karena Khanza hendak bangun dari duduknya.
"Mau pesen bakso!"
"Ck! dah aku aja"decak Lintang.
__ADS_1
"Tapi nanti kamu ribet bawanya."
"Gak lah Khanza,,,kan cuma pesen aja,nanti mamangnya yang bawain kesini"ucap Lintang sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.
Gila gw dah kayak kambing conge kalo kayak gini,baru begini rasanya gw dah ngerasa obat nyamuk diantara mereka,apalagi nanti kalo dah mulai pada makan,batin Salsa.
"Kok bengong Sa,kamu gak pesen makanan?tadi katanya laper,aku sih sebenarnya belum laper banget kalo gak Lintang maksa."
"Tau gw bingung mo makan apa. Ya udah gw kedepan(para penjual jajanan) dulu ya!"
Begitu Salsa pergi tak lama datang Lintang dengan membawa dua buah jus.
"Mau yang mana?"Lintang menyodorkan dua gelas jus yang berbeda. Aku gak tahu selera kamu yang mana,makanya aku belinya berbeda rasa."
"Bakso sebentar lagi datang,sabar ya! Ngomong-ngomong teman kamu mana?" tanya Lintang karena Khanza duduk sendiri.
"Lagi beli jajanan,tuh!"tunjuk Khanza dengan jarinya. Hmm Lint!
"Ya?"tanya Lintang yang mengaduk-aduk jusnya menjadi lebih fokus memperhatikan Khanza dan menunggu mau ngomong apa.
"Aku boleh panggil nama belakang kamu Pradipta?"tanya Khanza tak enak. Sejujurnya dia kurang nyaman memanggil nama Lintang jika dipenggal katanya,misal Lin atau tang,terdengar aneh menurutnya. Tapi berhubung author sudah menamakan pemeran prianya Lintang mau tidak mau dia harus mengikutinya 😅.
__ADS_1
"Terserah kamu,senyaman nya kamu aja"ucap Lintang tersenyum.
"Tadi Astrid ajak kamu Dipta? gak apa-apa?"tanya Khanza.
Senyum yang terbit perlahan memudar karena ucapan Khanza"ngapain tiba-tuba kamu bahas Astrid disini,"ucap Lintang kesal.
"Maaf!"ucap Khanza tertunduk. Soalnya aku gak enak semenjak kita dimushola sampai dikantin,dia terus liatin. Tuh! dipojok paling"Khanza memberitahu arah Astrid duduk tanpa menunjuknya.
Lintang memutar pandangannya kearah yang Khanza beritahu,dan benar saja Astrid tengah melihat kearah,namun bukan pandangan sinis melainkan dia memberikan senyumnya begitu Lintang melihat kearahnya.
Lintang tidak memberi respon apa-apa,selain pandangan datar lalu kemudian kembali memandang Khanza. "Gak usah diperduliin!"
"Permisi neng,den(aden) ini baksonya!"ucap penjual bakso menaruh 2 mangkok bakso diatas meja.
"Makasih ya mang!"ucap Khanza dengan sedikit senyum.
"Sama-sama juga neng."
Tak lama penjual pergi dari hadapan mereka. "Gak usah senyum-senyum "ucap Lintang datar.
Khanza memutar matanya malas mendengar ucapan Lintang.
__ADS_1
"Gak usah protes! cepet makan!"