
Didalam ruang kepala sekolah
"Pak Heru itu tadi siapa?"tanya Nyonya Prayoga pada Kepala Sekolah, Heru Setiawan.
"Itu Bu Khanza bu, guru dikelas Melati. Memang kenapa Bu?"
"Enggak, saya suka aja. Dia bisa mengambil hati cucu saya, padahal cucu saya itu anak yang susah Deket loh Pak Heru sama orang baru. Dia cenderung diam anaknya."
Pak Heru selaku Kepala Sekolah hanya manggut-manggut mendengar cerita Nyonya Prayoga tentang cucunya.
"Alhamdulillah Bu, Khanza itu salah satu guru di Yayasan Kami yang meskipun belum mempunyai pengalaman dalam mengajar tetapi langsung bisa menghadapi anak-anak, sabar pastinya."
"Sepertinya saya jadi Pak, menyekolahkan cucu saya disini."
Ada sesuatu yang mengganjal dalam benak Kepala Sekolah tetapi dia tidak enak untuk mengutarakannya.
Nyonya Prayoga sepertinya mengerti keterdiaman Kepala Sekolah tersebut. "Kebetulan ayah cucu saya sibuk Pak Heru, jadi segala sesuatunya saya sebagai neneknya yang memutuskan."
"Maafkan saya Nyonya. Kalau begitu langsung saja untuk masalah data-data nak Naura bisa diserahkan sekarang."
Nyonya Prayoga kemudian menelepon sang sopir yang tidak masuk kedalam. Semua kelengkapan administrasi Naura ada didalam mobil karena tujuan awal baru ingin melihat-lihat saja TK/TB Ceria Terpadu.
__ADS_1
"*Halo Dang,tolong kamu ambilkan map file yang ada di bangku belakang yak!"
[,,,,,,,,,,,,]
"Yak sekarang. Yak saya tunggu*!"
Setelah itu Nyonya Prayoga yang merupakan salah satu orang penting di wilayah itu menutup teleponnya.
"Ditunggu yak Pak Heru, kebetulan semua berkas nya masih dimobil. Sebenarnya tadi saya rencananya hanya sekedar melihat-lihat saja,"ucap Nyonya Prayoga diiringi kekehan. Berbicara jujur niat awal kedatangannya.
"Haha,,,tidak apa-apa Nyonya, justru kami merasa terhormat Nyonya mau menyekolahkan cucu Nyonya disini."
"Sepertinya cucu Nyonya bermain nih dikelas Bu Khanza,haha,,,"canda sang Kepala Sekolah.
"Masa sih Pak? Memang ada yak seperti cucu saya itu?" Nyonya Prayoga seperti sangsi dengan ucapan sang Kepala Sekolah.
"Bisa jadi Nyonya, soalnya banyak calon anak murid disini jika sudah diajak oleh Bu Khanza. Entah sihir apa yang dimiliki Bu Khanza sehingga anak-anak cepet lengket dengan beliau."
Nyonya Prayoga sepertinya penasaran serta ingin melihat keadaan cucunya. " Pak Heru saya bisa lihat ke kelas Bu Khanza?"
"Oh,,, boleh,,,boleh Nyonya. Mari saya antar kekelas Bu Khanza."
__ADS_1
Kepala Sekolah kemudian mempersilahkan Nyonya Prayoga, nenek Naura berjalan lebih dulu.
"Sini Pak Heru jalannya berdampingan sama saya, biar kita sambil ngobrol-ngobrol kembali."
Kepala Sekolah nampak sungkan jika berjalan bersisian dengan salah satu orang terpandang dikota itu. Untuk itu dia awalnya hanya mengekor jalannya disepanjang lorong TK.
"Itu Nyonya kelasnya, " ucap Kepala Sekolah menunjukkan kelas Melati dengan sopan.
Sebelum sampai dikelas yang sedang dituju Nyonya Prayoga, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dia segera mengambil ponsel pintarnya dari dalam tas berlogo huruf H tersebut.
"Darren,"gumamnya.
Nyonya Prayoga lalu menggeser ikon telepon.
[,,,,,,,,,,,,,,,,,] Darren tanpa basa basi bertanya pada Nyonya Prayoga.
"Sebentar yak Pak Heru, saya terima telpon dulu." Nyonya menutup sesaat mikropon ponselnya sebentar.
[ Kamu itu Darren telpon-telpon bukannya ngucap salam sama Mamih. Gak sopan kamu] "omel Nyonya Prayoga pada sipenelpon yang diketahui bernama Darren itu.
[ Waalaikum Salam, iyak Naura Mamih bawa, kenapa memang? Kamu gak suka? Makanya jangan sibuk terus pacaran. Anak jadi kurang kamu perhatikan]
__ADS_1