
"Sialan gw pikir mereka(Lintang dan Khanza) dah putus,taunya cuma berantem doang"batin Adi.
"Kok lo ninggalin Khanza sih disini sih!"tanya Adi masih saja tidak terima.
"Lo pikir enak jadi obat nyamuk doang,dah gitu mereka pake acara pegangan tangan lagi."
"Sh*it "umpat Adi. Lalu dia meninggalkan Salsa ditribun pergi entah kemana.
"Dih gak jelas banget tuh orang!"gumam Salsa. Tapi Khanza dibawa kemana ya ma Lintang. Uh so sweet banget mereka,kapan ya gw punya pacar kayak Lintang"monolog Salsa.
**
Sementara itu Khanza dan Lintang telah berada di taman belakang sekolah dekat rumah penjaga sekolah.
Mereka duduk dibangku taman mini itu,dan kali ini Lintang melepaskan genggaman tangannya.
Mata Lintang memandang lurus kedepan lau mulai bertanya pada Khanza"ada banyak yang kamu harus luruskan disini!"
Khanza menautkan jemarinya tangan diatas oangkuannnya,dia bingung harus menjelaskan apalagi memulainya.
Pandangan Lintang beralih pada wajah Khanza,dia melihat Khanza yang sedang meremas jemarinya,dan seperti biasa jika sedang gugup dia menggigit bibirnya sendiri.
sh*it umpat Lintang dalam hati melihat kebiasan Khanza yang membuat dia ingin sekali melihat bibir mungil Khanza.
Dengan mencoba menahan hasrat nya Lintang menghembuskan nafas panjang"pertama jelaskan kenapa kamu berbohong saat itu,mengaku kerja kelompok padahal cuma ingin menghindari tak ingin aku antar pulang kan?"
"Aku menghindari kamu dan selanjutnya meminta kita putus"jawab Khanza akhirnya jujur walaupun dengan kegugupan luar biasa saat mengucapkannya.
Lintang mengepalkan kedua tangannya diatas pahanya. "Kenapa?"tanya Lintang dingin.
__ADS_1
Dengan menutup mata lalu membuka serta menarik nafas panjang kembali Khanza berucap"orangtuaku tidak ingin aku menjalin hubungan lebih lebih tepatnya berpacaran dengan orang berkuasa."
Setelah mengatakan lega sudah perasaan Khanza ,tapi tidak dengan Lintang,dia mengerutkan keningnya dalam hingga pangkal alisnya menyatu .
"Picik nya pikiran orangtua kamu"ujar Lintang dingin.
"Bukan picik tapi realistis "ucap Khanza membela orangtuanya.
Lintang tersenyum miring mendengar pembelaan dari Khanza untuk orangtuanya.
"Aku tahu dan ngerti apa yang orangtua kamu takutkan."Tapi tidak semua orang kaya dan tidak semua orang nya seperti itu kok!
"Coba saja orangtua kamu"jawab asal Khanza.
"Kamu mau aku kenalkan sama kedua orangtuaku?"
Khanza menggeleng keras mendengar tawaran Lintang.
"Kok gak mau,aku serius akan ngenalin kamu sama orangtuaku. Kamu tahu Khanza (terjeda dan Lintang memandang lekat kedua mata Khanza),,Aku serius sama,walaupun reader bilang kita masih SMA."
Khanza yang dipandang lekat oleh Lintang seakan tersihir,dia mencari kejujuran kedalam mata Lintang,dan hasil dia tidak menemukan kebohongan didalamnya. Pancaran ketulusan terlihat jelas dari segala ucapannya.
"Aku serius sama kamu,aku kalo sudah sayang seseorang susah melupakan apalagi menduakan,aku gak main-main sama kamu "ucap jujur Lintang sambil terus menatap mata Khanza.
"Bohong"ujar Khanza. Setelah kita berjauhan kamu dekat sekali dengan Astrid,mantan wakil ketua OSIS bahkan sebelum kalian turun jabatan. Kamu juga sampai mempermalukan aku didepan siswa sekolah"ucap Khanza dengan kedua mata tampak mulai berkaca-kaca.
"Maaf untuk perilaku aku waktu dulu,tapi berani sumpah aku gak ada hubungan apa-apa dengan Astrid Za!"
"Aku perempuan, aku tahu dia ada perasaan lebih sama kamu,dan kamipun sepertinya memberi dia harapan atau kamu memang sama-sama saling memendam rasa?"
__ADS_1
"Khanza,,,"ucap Lintang dengan penuh penekanan. Sudah aku berulang kali aku katakan aku punya perasaan apa-apa sama Astrid!!"
"Kalo kalian sama-sama punya perasaan yang sama aku gak masalah."
"Khanza!teriak Lintang tanpa sadar. Kamu!!"Lintang menunjuk wajah Khanza. Ikut aku!"Lintang berdiri lalu menarik tangan Khanza kemudian membawa pergi kerumah mang Dudung.
"Kamu bawa aku kemana?"tanya Khanza dengan mengikuti langkah Lintang. Lepas!!"
Ceklek
Lintang membuka pintu rumah mang Dudung dan kebetulan rumahnya tidak terkunci,entah dimana si pemilik rumah.
Dengan berpegangan pada tepi pintu Khanza menahan dengan satu tangannya agar tidak masuk kedalam rumah.
"Lepas Lintang!"
Tanpa aba-aba Lintang menggendong Khanza seperti karung beras.
"Ahh! Khanza hampir saja berteriak namun kemudian membekap mulutnya sendiri takut mengundang perhatian orang.
"Brukk! Lintang mendudukkan paksa Khanza pada kursi single yang ada diruangan itu untuk kemudian mengurungnya dikedua sisi kursi dengan lengannya.
"Kamu memang gak bisa dikasih tahu baik-baik ya Za!"
Sudah aku katakan kalo aku gak ada hubungan apa-apa sama dia,dan memang gak akan pernah.Sekarang apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya,hm?
Khanza menggelengkan kepalanya pelan,tak tahu apa yang dia mau sebenarnya.
"Kok geleng-geleng kepala?gak tahu apa yang harus dilakukan?makanya jangan sok nuduh jadi"ucap Lintang dengan menoyor pelan dahi nya Dengan telunjuknya.
__ADS_1