
"Siapa Za?"tanya Salsa yang melihat Khanza seperti ragu apakah akan mengangkat telepon atau tidak. Sementara Lintang tengah menatap tajam pada Khanza.
"Ini kakak aku telepon."
"Yak udah angkat,gitu aja repot,"ucap Salsa dan memutar matanya kearah Lintang serta sengaja mengatakan demikian karena sebal pada Lintang.
"Nanti aja deh,"jawab Khanza akhirnya.
"Ayok naik!"ucap Lintang yang sudah tidak sabar itu.
"Enggak Pras,aku mau kedepan dulu sama Salsa,"tolak Khanza.
"Prasta?"batin Salsa sambil menaikkan kedua alisnya. "Lo duluan aja Lin. Kita ada urusan cewek. Lo dilarang tahu,"ucap Salsa mendukung kebohongan Khanza.
Tatapan Lintang tetap tertuju pada Lintang. Tak berpaling sedikitpun walaupun Salsa kerap menyela omongannya.
"Boleh aku tahu apa urusan cewek itu?"tanya Lintang dengan menaikkan kedua alisnya.
Aduh gimana ini jawabnya.
Khanza tanpa sadar menggigit bibirnya mendengar pertanyaan Lintang. Dia bingung akan menjawab apa lagi. Nampaknya Lintang terus mencecar dirinya.
"Za?"
"Iyah?"jawab Khanza menaikkan pandangannya.
"Kamu tahu apa yang aku lakukan kalo kamu gigit bibir kamu?"ucap Lintang seperti sedang mengancam. Bahkan dirinya sudah akan turun dari motor sportnya.
Khanza buru-buru menormalkan dirinya dan menegakkan badannya walaupun pipinya sudah berubah merah.
__ADS_1
"Khanza kenapa begitu?"gumam Salsa.
"Ayok pulang. Aku antar. Urusan ceweknya nanti-nanti aja,"titah Lintang.
Drett,,,,
Drett,,,,
Kedua kalinya Andre menelpon Khanza. Dengan menarik nafas dalam,Khanza berat hati menggeser tanda telepon hijaunya.
"Waalaikum salam ka."
[ ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ]
"Iyah ini Khanza dah mau pulang kok!"
"Gak usah ka. Khanza naik angkot aja."
[ ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ]
"Gak usah ka,,," ucap Khanza penuh penekanan karena Andre tetap ingin menjemputnya sedangkan Lintang terus menatap tajam kearahnya seolah mengatakan 'jangan,kamu pulang sama aku aja'.
"Dah yak kak,Assalamualaikum,,,"
"Kayaknya kakaknya Khanza ngotot mau jemput,"batin Salsa.
"Harusnya tadi kamu ngomong kalau ada yang anterin,"ucap Lintang kesal karena Khanza tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Ayok cepet,nanti kakak kamu telepon kamu lagi. Dan lo gak usah urusan kita,"tunjuk Lintang pada Salsa memberi peringatan.
__ADS_1
Dengan langkah ragu dan lesu,Khanza mendekati Lintang yang masih nangkring diatas motor sportnya dengan menapakkan kedua kakinya sebagai pengganti standar motor.
Sebelum benar-benar naik motor,Khanza memutar tubuhnya,"Sa,gw pulang dulu yak! Makasih dah anter sampai sini."
"Yak udah ,hati-hati. Kapan-kapan lagi nginep dirumah gw lagi."
Khanza tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Lalu diapun naik ke atas motor sport Lintang dengan pegangan pada pundak Lintang.
"Dah!"ucap Khanza saat Lintang sudah me jalankan motornya.
"Pegangan,"titah Lintang dan ikuti oleh Khanza yang berpegangan pada kaus yang dikenakan Lintang.
"Pegangan yang bener tuh Khanza,"ucap Lintang dengan mengambil salah satu tangan Khanza dan melingkarkannya dipinggangnya.
Tangan Khanza akhirnya melingkar diperut Lintang tapi tidak dengan satunya yang masih setia diujung kaus Lintang.
"Lepasin tangan kamu dipinggang aku Za"ucap Iintang yang saat itu masih membawa motornya dengan kecepatan rendah.
Secara mendadak Lintang menepikkan motornya dipinggir jalan.
"Kenapa?"tanya Khanza polos.
"Aku gak akan nerusin perjalanan ini kalo kamu gak pegangan diperut aku dan meluk aku."
"Yak udah aku turun aja disini,"ucap Khanza dengan nada bicara serius.
"Khanza,,,,"ucap Lintang dengan penuh penekanan. Kamu tuh yak cuma pegangan gitu aja ribet. Kayak sama oranglain aja,"omel Lintang.
Otw
__ADS_1