
Ada perasaan haru yang menyeruak dihati Nyonya Prayoga. Naura, sang cucu akhirnya bisa berkumpul dengan teman sebayanya.
"Kalo begitu saya tunggu diluar saja yak Bu Khanza. Sepertinya cucu saya tidak mau diganggu, "ucap Nyonya Prayoga sambil tersenyum.
"Silah kan Bu Prayoga dan maaf saya lanjutkan kembali menemani anak-anak dulu."
Tak sabar memberikan kabar gembira pada orang tua, Nyonya Prayoga lalu menelpon suaminya, Tn. Prayoga.
[ Hallo Mas,kamu dimana?]
[ Dikantorlah Bu. Ada apa?]
[ Naura Mas, Naura,,,,]
[ Ada apa sama Naura Bu ]
[ Naura akhirnya mau sekolah Mas ]
[ Ya Tuhan Bu, aku pikir ada apaan ]
[ Ibu terlalu seneng Mas ]
[ Yak sudah nanti lanjut cerita dirumah saja Bu, sekalian cerita sama Darren juga ]
[ Yak Mas ]
Nyonya Prayoga akhirnya menyudahi telepon dengan suaminya dan memilih mengintip dari balik jendela, melihat kembali cucunya yang sedang asyik mewarnai itu.
****
Sementara itu Darren setelah menyelesaikan meeting dengan calon investor yang berasal dari Negeri Jiran, dia kemudian memutuskan kembali ke perusahaan bersama Asisten Pribadinya, Rudianto.
__ADS_1
"Gimana menurut Lo Rud mengenai calon investor kita ini?"
"Saya rasa beliau benar-benar tertarik dengan proposal yang kita ajukan Pak."
"Please deh Rud, ngomongnya jangan formil-formil lah. Kita kan bukan lagi di kantor. Kayak sama siapa aja." Darren dan Rudi sebenarnya adalah teman semenjak masa SMA hingga kuliah.
Sampai diperusahaan, mereka kemudian terpisah diruang masing-masing. Darren yang menjabat sebagai Asisten Pribadi ruangannya bersebelahan diruang Darren selaku CEO Agung Group.
Didepan pintu, begitu Darren hendak masuk, sang sekretaris berdiri dan berkata, "maaf Pak didalam ada Nona Kesya.
"Hm,,,,"jawab datar Darren. Sifatnya kembali dingin jika berhadapan dengan orang-orang asing.
Ceklek, Darren membuka pintu ruangannya. Dia melihat sang kekasih, Kesya sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memainkan kursi hidrolik tersebut.
"Eh sayang, sudah pulang?" Kesya tersadar Darren sudah ada didepannya setelah dia memutar-mutarkan kursi kekasihnya, menghadap kedepan.
"Sudah lama?" tanya Darren mengurung sang kekasih dikedua sisi kursi yang ditempati nya.
"Maafin aku sayang, sebagai gantinya kita ngemall?"
"Yey,,, makasih sayang. Kamu yang terbaik."
Baru saja bibir keduanya bertemu, suara pintu terbuka membatalkan kegiatan mereka.
Ceklek!
"Pak Darren ini ada email,,,," suara Rudi menggantung. Dirinya tidak tahu sedang ada tamu diruangan bosnya itu.
Ular berbisa. " Ups,,,maaf Pak,saya pikir gak ada orang,,,"ucap Rudi seperti mengejek walaupun masih berbicara dengan sapaan formal.
Kesya memutar matanya sinis. Dirinya tidak suka dengan sikap bawahan kekasihnya itu. Terlihat sekali Rudi tidak menyukainya.
__ADS_1
"Ada apa Rud? " tanya Darren yang biasa saja walaupun kegiatannya terganggu.
"Iya ini ada email dari PT. Cahaya Bintang,,,," Rudi nampak ragu meneruskan informasi yang akan dia ucapkan.
"Kenapa Rud?"
"Ini Pak, pihak PT. Cahaya Bintang meminta me re skejul meeting."
"Diundur? "tebak Darren.
"Dimajuin," jawab Rudi dengan tampang pura-pura menyesal. Emang enak rencana kalian batal. Gw yakin kalian mau pergi tadi. Untung gw segera dateng.
"Jadi dia minta waktunya kapan?"
"Satu jam lagi Pak."
Darren melihat jam dipergelangan tangannya. Dia seperti sedang menimbang, lalu dia melihat pada kekasihnya, Kesya.
"Maaf sayang, sepertinya rencana kita harus batal, "sesalnya.
"Gimana sih sayang, tadi aku dah nungguin kamu sampai berjam-jam. Sekarang harus nunggu lagi sih!"
"Maaf yak. Kamu belanja sendiri aja yak!" Setelah itu Darren membuka dompet kulitnya dan mengambil kartu sakti berwarna hitam itu.
"Apa maksudnya ini sayang?" tanya Kesya sambil menerima kartu hitam dari Darren pura-pura tidak mengerti.
"Buat kamu. Belanja apa yang kamu suka."
"Tapi,,,"ucap Kesya.
"Dasar munafik, "umpat Rudi dalam hati.
__ADS_1