Aku Hanya Babysitter

Aku Hanya Babysitter
Bab 91


__ADS_3

Suara Sutil beradu di wajan panas mewarnai pagi hari. Ibu yang sedang disibukkan dengan kegiatan masaknya seorang diri. Sementara anggota keluarga yang lainnya bersiap memulai aktifitas.


Khanza dengan kegiatan rutin sebagai pelajar,saat ini tengah memandang dirinya sendiri dihadapan cermin dengan seragam abu-abu yang sudah melekat di badan. Dia saati ini sedang memoles wajah mulusnya dengan pelembab wajah,tak lupa pula setelah itu sunscreen sebagai perlindungan terakhir kulit wajahnya dari paparan sinar matahari nanti. Sebagai pelengkap tak lupa pula,bedak baby ditaburkan tipis-tipis kewajah nya.


"Apa lagi yak?"monolognya didepan cermin setelah melakukan rangkaian skincare sederhana. Ah,lipbalm! Lipbalm nya belum."


"Oke,,,selesai. Tinggal pakai dasi,"gumamnya lagi lalu mengambil seuntai dasi berwarna sama dengan rok sekolah dengan logo Tutwuri Handayani.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal,Khanza keluar dari kamarnya menuju meja makan bersiap sarapan pagi dengan yang lainnya.


Begitu keluar pintu,hidungnya disambut wangi nasi goreng buatan sang bunda tercinta. "Hm,,,harumnya nasi goreng buatan Ibu. Pasti enak nih!"ucap Khanza kemudian menaruh asal tas selempang nya diatas meja makan dimana baru ada dia dan ibunya lalu menghampiri ibunya yang sedang membawa mangkuk besar berisi nasi goreng ayam.


"Oh astaga Khanza,,,"kaget Ibu Ratna karena mendapat pelukan tiba-tiba, untungnya dia sigap dengan segera mengangkat mangkuk besar ke atas sehingga Khanza bisa masuk ke dalam pelukan.


"Hehe,,,. Sini Bu Khanza bawain." Khanza mengambil mangkuk yang berisi nasi goreng yang masih mengepul itu dari tangan ibunya dan menaruhnya ke atas meja makan.


Tak lama,Ayah Fahri tiba di meja makan disusul Andre dan Abyan setelah nya yang datang bersamaan.


"Pagi semua,,,"sapa Andre kemudian duduk dimeja makan setelah pamannya terlebih dahulu sebagai kepala keluarga.


"Pagi,"jawab Ayah,Ibu serta Khanza hampir bersamaan.


"Minum apa Yah?"tanya Ibu yang masih berada di dapur bersiap menyiapkan minuman karena terkadang sang suami minum berbeda tiap sarapan.


"Kopi hitam aja Bu,terimakasih. Lalu Ibu segera menyiapkan pesanan sang suami yakni kopi hitam racikan,bukan kopi sachetan merk yang sudah terkenal. Sedangkan untuk yang lain sudah tersedia minuman diatas meja makan karena Khanza,Abyan serta Andre meminum apa yang disediakan Ibu Ratna.


Merekapun memulai santap sarapan pagi diselingi obrolan ringan.


Andre menjadi orang pertama yang telah selesai menghabiskan sepiring nasi goreng. Dia lalu menyeka bibirnya menggunakan sehelai tisu.


Setelah menyeka bibirnya dari sisa-sisa minyak yang menempel,dia melihat Khanza yang nampaknya juga sudah selesai makan,tinggal kunyahan di mulut nya. "Dah siap dek?"tanya nya karena Khanza sudah benar-benar berhenti mengunyah.


Khanza nampak mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Andre. Namun sebelum dia membuka mulutnya,ibu nya sudah lebih dulu berbicara.

__ADS_1


"Hari kamu dan seterusnya kamu berangkat sama om kamu Za. Kalo kebetulan om kamu gak bisa,nanti Ayah yang mengantarkan."


"Yak Bu,"jawab Khanza pasrah karena dia tahu maksud ibunya bertindak demikian. Lalu Khanza berdiri,lantas bersalaman pada kedua orangtuanya.


"Andre duluan yak Tan,Om. Assalamualaikum!" Andre melakukan hal yang sama seperti Khanza bersalaman denga Om Tantenya dan menyusul Khanza yang sudah lebih dulu berjalan keluar.


"Enak yak kakak,tiap hari dianterin om Andre. Padahal dah gede,"celetuk Bahan yang sedari tadi diam saja ketika sang Ibu berbicara.


"Kakak kamu tuh perempuan Byan,jadi harus ekstra protektif dijaga,"ucap Ibu sekaligus menjawab celetukan anak laki-lakinya itu.


Didepan rumah,Khanza tanpa diminta segera menghampiri Andre yang telah nangkring diatas motor Nma* nya.


Lalu Andre memberikan helm yang pink yang dikhususkan nya untuk Khanza.


Sambil tangannya terulur,dia berucap,"smile dong Za."


Khanza pun menarik sudut bibirnya sehingga membentuk senyuman kecil menuruti perkataan Om nya,Andre. Tak lama setelah itu dia memakai helm dan langsung duduk diatas jok motor.


"Dah siap neng?"canda Andre. Berangkat,,,"ucapnya lagi sambil menepuk headlamp motor kesayangannya.Bersamaan dengan itu diapun mendapat toyoran pundak dari Khanza.


Andre senang bukan kepalang mendapat setengah pelukan dari adik sepupunya itu.


Ah Senin yang membahagiakan,batinnya.


"Kak Andre gak repot apa harus anterin Khanza dulu?"tanya Khanza mendekatkan diri karena yakin pertanyaan nya kurang terdengar.


Andre yang memang mengendarai motornya dengan cepat itu berteriak karena tidak mendengar pertanyaan Khanza,"kenapa Za?"


Khanza merapatkan duduknya,lantas berbicara tepat disamping telinga Andre yang terhalang helm. "Kak Andre repot gak harus anterin Khanza dulu?"


"Enggak dong. Enggak repot sama sekali." Seneng malah.


"Kirain,Khanza takut aja ngerepotin kakak. Padahal Khanza bisa loh naik angkot atau naik ojek online."

__ADS_1


"Tapi pesennya apa tadi dari Ibu?"


"Pergi sekolah dianter kakak kalo gak sama Ayah,"cicit Khanza, terdengar oleh Andre karena Khanza masih merapatkan tubuhnya dibelakang Andre.


"Kamu kali Za yang keberatan dianter kakak?"tanya balik Andre dan melirik Khanza dari balik spion,sengaja memelankan kecepatan motornya agar Khanza mendengar pertanyaannya karena Khanza telah menjauhkan diri posisi duduknya menjadi tegak tanpa pegangan dipinggang Andre.


"Gak,biasa aja,"jawab Khanza datar.


"Kalo biasa aja senyum dong,"ucap Andre masih melihat Khanza dari balik spion. Tak lama Khanza membalas tatapan Andre. Khanza lagi-lagi menarik sudut bibirnya sebagai jawaban atas pertanyaan Andre.


"Pegangan lagi yuk Za." Putus Andre akhirnya karena melihat raut wajah Khanza dan juga untuk mengejar waktu agar sampai disekolah Khanza tepat waktu.


Tak ada lagi pembicaraan setelah itu dengan sebelum nya Khanza menuruti ucapan Andre dengan berpegangan kembali dipinggang Andre.


Dari jauh gerbang sekolah Khanza mulai nampak terlihat. Para murid Adi Jaya mulai berdatangan di salah satu sekolah swasta elit di daerah tersebut.


Andre menurunkan Khanza karena di depan gerbang persis sudah dipenuhi puluhan siswa siswi, baik itu yang berjalan kaki,turun dari angkot maupun yang membawa kendaraan sendiri atau yang diantar supir jika itu siswa yang orang berada.


Khanza pun segera turun dari motor Nma* putih Andre lalu membuka helm dan kemudian memberikannya pada Andre sambil berkata,"makasih yak Kak!"


"Sama-sama. Nanti pulangnya gimana? Atau mau kakak jemput lagi?"tanya Andre sambil menaruh helm Khanza didepan.


"Naik angkot atau kalo gak naik ojek online. Gimana enaknya aja nanti."


"Kamu bukannya sudah mulai Pendalaman Materi yak? Gimana pulangnya bareng kakak aja,kamu tunggu bentar?"


"Gak usah kak,"tolak Khanza. Khanza pamit yak!"ucapnya karena sempat melihat dari jauh yang beberapa teman laki-laki yang dia tahu merupakan teman dekat Lintang. Entah mengapa dia merasa kurang nyaman karena mendapat lirikan tajam dari mereka. Seperti orang yang tertangkap sedang berselingkuh,pikirnya.


"Oh yak sudah. Kakak jalan dulu yak!"putus Andre yang menilai Khanza ingin segera pergi. Assalamualaikum,,,."


"Waalaikum salam,"jawab Khanza dengan sambil melihat kepergian Andre. Setelah jauh barulah kemudian dia berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah lebar.


Entah Khanza yang terlalu cepat berjalan atau memang teman-teman Lintang yang berjalan pelan sehingga Khanza akhirnya berdekatan dengan mereka jalannya.

__ADS_1


"Aduh,"gumam Khanza.


__ADS_2