Aku Hanya Babysitter

Aku Hanya Babysitter
Bab. 90


__ADS_3

Setelah mengobrol serius dengan tantenya,Andre kembali ke kamarnya. Entah ini musibah atau keuntungan bagi dirinya sehingga dia kembali dekat sepupu nya yang mempunyai tempat khusus di hati nya. Padahal selama ini dia akan belajar mengubur perasaannya yang memang tidak mungkin untuk di lanjutkan.


Tak ingin berlarut-larut dengan pemikiran nya,Andre memutuskan kembali keluar untuk sekedar melepas penat dihari libur. Bertepatan itu dia mendengar suara Khanza yang mengaduh dan itu terjadi di dapur.


Dengan setengah berlari,Andre menghampiri Khanza yang saat itu sedang memasak di dapur. Segera dia meraih tangan Khanza dan menghidupkan kran wastafel lalu mengarahkan jari Khanza yang teriris pisau itu.


Ibu dan Ayah kaget mendengar jeritan putrinya dibelakangnya. Belum sampai mereka melihat keadaan Khanza,dari arah kamar,Andre terlihat berjalan cepat menghampiri Khanza sehingga mereka urung melihat Khanza karena pikir sudah diwakili Andre.


"Makanya kalo kerja tuh yang fokus,"ucap Andre masih membersihkan jari Khanza yang teriris karena darah masih yang mengalir tapi tidak sebanyak waktu awal.


"Apaan sih ka,"jawab kesal Khanza karena tidak terima dikatakan tidak fokus saat memasak.


"Loh emang bener. Gak mungkin kalo gak ngelamun kamu bisa sampai teriris gini jarinya. Bentar kakak ambil plester sama Batadin* dulu." Andre lalu pergi keruang tengah yang merangkap ruang keluarga dimana kotak p3k menggantung.


Ibu Ratna dan suami saling lirik seolah tengah berkomunikasi lewat tatapan tanpa harus berbicara menilai kesigapan Andre melihat dan menolong putrinya yang tanpa dilihatpun tahu jika Khanza teriris pisau sewaktu memasak.


"Ada Ndre plester sama Betadin* nya?"tanya Ibu basa-basi melihat kemunculan Andre yang dia tahu akan mengambil obat.

__ADS_1


"Ada nih Tan,"jawab Andre sambil mengasongkan dua benda yang jadi pertanyaan tantenya.


Baru saja Andre akan meneteskan obat luka tersebut,Khanza segera merampasnya seraya berkata,"Khanza aja ka yang obatin. Makasih yak Ka dah diambilin."


"Ribet dek. Dah Kakak aja."


Keduanya tampak berebutan hingga akhirnya Khanza mengalah karena ternyata dia cukup kesulitan setelah Betad*n menempel dilukanya memasang plasternya.


"Kakak juga apa,susah kan. Bandel sih kalo dikasih tahu,"gemas Andre lalu melilitkan plester dijari Khanza yang terluka.


"Dah,"ucap Andre lagi setelah plester terpasang sempurna dijari Khanza. Dia kemudian melihat apa yang sedang Khanza lakukan. Masak apa sih dek?"


"Kakak bantu yak?" Andre menawarkan bantuan. Diapun berinisiatif hendak memotong kangkung nya. Begini kan dek potong-potong nya?"


Khanza menghentikan sebentar mengiris bumbu dan menengok ke Andre yang sudah memotong-motong kangkung. "Kepanjangan itu kak."


"Oh ok."

__ADS_1


Khanza melanjutkan masak dengan dibantu Andre tetapi lebih banyak direpotkan karena sering dijahili Andre.


"Ndre daripada ngeribetin,mending ngopi sama paman aja yuk di depan,"ajak Fahri ayah Khanza yang tidak tahan mendengar rengekan putrinya yang selalu diganggu Andre.


"I,,,ya paman,"jawab Andre tidak enak hati karena pakannya ternyata menyadari kesiangan nya pada Khanza.


"Khanza buatin Ayah kopi hitam hal 1,jangan terlalu manis. Kamu Ndre?"


"Kopi pahit aja Yah,,,"samber Khanza menjawab pertanyaan Ayahnya sebelum Andre membuka mulutnya. Gulanya gak cukup,"ucap Khanza lagi memutus pandangan nya pada Andre karena tahu dia akan memprotes omongannya.


"Serius dek gulanya habis?"tanya Andre tidak percaya ucapan Khanza dan menghampirinya saat Khanza mulai meracik kopi ke dalam gelas.


Segera saja Khanza menjauhkan toples gula yang baru saja akan dia buka.


"Buat kakak gak usah aja dek, daripada kopi hitam,gak enak,pahit."


"Kan ada Khanza. Minumnya sambil lihatin Khanza aja,"ucap Khanza dengan senyum dikulum,puas mengerjai om nya.

__ADS_1


Iya dek,kamu manis. Sampai Kakak meleleh ini.


__ADS_2