
Dikediaman Darren
Suasana rumah berlantai dua nampak sepi. Penghuninya, seorang pengusaha muda biasa masih di perusahaan.
Tok,,,tok,,, seseorang mengetuk pintu rumah, namun sepertinya asisten rumah tangga tidak mendengarnya hingga membuat seseorang itu kesal.
"Ck,, kemana sih si Bibi. Pake acara di kunci lagi nih pintu."
"Bi,,,Bibi,,,." Dengan terpaksa seseorang tersebut berteriak memanggil asisten rumah tangga nya.
Sang securiti yang berjaga didepan tergopoh-gopoh menghampiri sang Tuan. Dia melihat gelagat aneh Tuannya dari jauh.
"Kenapa Tuan?"
"Kemana sih Sar Bik Minah? Di ketuk-ketuk nih pintu sampai saya teriak gak keluar juga."
Sang securiti yang bernama Sardi menjadi tidak enak hati pada Tuannya karena sepertinya Tuannya tersebut sudah menahan kesal.
"Tadi sih ada didalam Tuan. Hm,,, mungkin lagi dibelakang Tuan jadi tidak kedengaran. Biar saya panggilkan Tuan."
Mang Sardi berinisiatif mengetuk kembali pintu depan rumah Tuannya tersebut. Sedang sang Majikan nampak melirik beberapa kali jam dipergelangan tangannya.
__ADS_1
Ceklek, akhirnya sang asisten membukakan pintu.
"Tu an,,,?" Bik nampak gugup melihat majikan berdiri didepan dengan tampak 'menyeramkan'.
"Kemana aja Bik, Tuan Darren dari tadi ketuk-ketuk pintu bahkan sampai teriak-teriak loh!"ujar securiti.
"Aduh maaf Tuan, saya tadi lagi dilantai atas,,,"
Belum sempat pembantunya itu menjelaskan lebih, Darren sudah lebih dulu masuk kedalam.
"Bibik sih, makanya punya kuping tuh dipasang,"bisik sekuriti takut majikannya itu mendengar.
Sang pembantu memutar matanya malas mendengar ocehan sekuriti itu. "Heh nih kuping masih berfungsi yak. Kan dah gw bilang tadi gw lagi dilantai atas, bersihin kamar Tuan yang dah kayak kapal pecah bekas,,," Sangking kesalnya Bik Minah sampai menggunakan kata 'gw' pada sekuriti.
"Bekas 'pertarungan' Tuan dan si Nenek lampir,"ceplos Mang Sardi dengan diiringi senyuman miring seolah mengejek.
"Tuh tahu. Dah saya mau lanjutin nginem lagi." Bik Minah kembali menggunakan bahasa sopan dan segera menutup pintu depan.
"Eh Bik,,,bikinin saya kopi item dong. Ngantuk nih saya." Teriak Mang Sardi yang usianya tidak terpaut jauh dengan pembantunya Darren itu.
Bik Minah tidak memperdulikan permintaan sekuriti tersebut. Dia melenggang santai seolah pura-pura tidak mendengar.
__ADS_1
"Sialan gw dicuekin,"umpat Mang Sardi.
Darren kembali kerumahnya karena ada berkas perusahaan yang tertinggal. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, segera dia turun bermaksud kembali ke perusahaan. Namun dia tersadar didalam rumahnya yang nampak sepi. Tidak ada celotehan putrinya. Bukankah dijam-jam seperti ini harusnya putrinya ada dirumah.
"Bik,,,Bibik,,,"teriaknya.
"Yak Tuan,"sahut Bik Minah.
"Naura kemana? Kok gak di rumah?"
"Hm,,,itu Tuan tadi Nyonya ajak pergi non Naura keluar tapi gak bilang mau kemana." Ragu pembantu Darren menjawab.
Tidak ada kata 'Yak' atau apa begitu sang pembantu menjelaskan kemana putrinya. Darren langsung menghubungi sang Ibu.
"Hallo Mih,dimana Naura?"tanya Darren tanpa basa-basi menanyakan keberadaan putrinya begitu telepon tersambung pada Ibunya, Nyonya Prayoga.
[,,,,,,,,,,,,,,,]
Darren menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Assalamualaikum Mih, Naura Mamih bawa kemana?"kali ini Darren berkata lebih sopan karena mendapat teguran dari Ibunya itu tapi sambil merotasikan matanya.
Sang pembantu yang melihat kelakuan majikannya hanya menutup bibirnya dengan serbet yang sejak tadi bertengger dipundaknya. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa melihat kelakuan majikannya itu.
__ADS_1
"Kenapa Bik?"