
“Hmmp,,! Ih,,,Prasta!”ucap Khanza manja.
“Khanza,,,Ingat kita lagi diparkiran,jangan sampai aku ciu,,,
“Lintang,,,!”panggil Astrid diparkiran tak jauh dari mereka. “Aku dah tungguin kamu dari tadi”ucapnya dengan nada dilembut-lembutkan.
Lintang menggantung ucapannya pada Khanza,seketika berbalik arah kesumber suara yang memanggil namanya. Dia menautkan kedua alisnya tak mengerti ucapan Astrid. Sikapnyapun tak lagi hangat seperti tadi berbicara dengan Khanza.
“Maksud lo?”tanya Lintang menggunakan kata ‘lo’ pada Astrid padahal Astrid sendiri sudah merubah panggilannya yang awalnya lo gw,menjadi aku kamu.
“Iya aku nunggu kamu untuk pulang bareng,seperti kemarin-kemarin”Astrid menjelaskan lagi maksudnya menunggu Lintang diparkiran.
“Sorry hari dan seterusnya pulang bareng Khanza,untuk yang kemarin-kemarin,kebetulan aja lo gw aja pulang bareng”ucap Lintang tanpa tedeng aling-aling.
“Khanza meremas lengan Lintang mengingatkan. Dirinya juga menjadi tidak enak pada Astrid,apalagi setelah melihat raut wajahnya yang berubah menjadi keruh.
“Kenapa Za? Sebentar ya!”ucap Lintang yang mengira Khanza meremas lengannya karena tak sabar ingin segera pulang.
“Ih bukan itu!”bisik Khanza mendekatkan diri pada Lintang.
“Oke Trid,gw duluan,pacar gw dah gak sabar nih pengen cepet pulang.”
Blush
__ADS_1
Seketika pipi Khanza merona. Dia menunduk malu saat Lintang mengakui dirinya sebagai pacar didepan Astrid.
Sementara itu kebalikan dari Khanza,Astrid justru tampak menahan kesal,terutama pada Khanza,kedua tangannya mengepal dengan rahang mengetat.
Namun begitu didepan Lintang dia akan menutupi semua itu dengan bersikap manis.
“Oh ya udah deh gak apa-apa”ucapnya selembut mungkin walau dalam hati dia mengumpat. “Sialan lo Khanza!"batin Astrid mengumpat.
“Yuk naik!”ucap Lintang saat sudah naik diatas serta menghidupkan motornya.
Lalu Khanza menaiki motor Lintang dengan berpeganga pada pundaknya.
“Dah?”tanya nya lagi lalu menengok Khanza dibelakang tapi kemudian terheran “Astaga Khanza sweater kamu mana?”
Begitu melihat Khanza duduk dibelakang namun tidak menutupi pahanya yang terakhir karena posisi duduknya yang menghadap depan. Lintang tahu Khanza memakai celana lapisan dibalik roknya tetapi tetap saja pahanya masih terlihat.
Segera saja Lintang membuka hoody nya lalu memberikannya pada Khanza.
“Nih!buat tutupin paha kamu!”ucapnya dingin.
Antara terharu serta malu yang Khanza rasakan,terharu karena Lintang memperhatikan sampai sedetail itu. Malu karena Lintang sempat melihat paha akibat roknya yang tersingkap.
“Maaf!”ucap Khanza tertunduk.
__ADS_1
“Dah kan?”tanya Lintang lagi dan dijawab anggukan oleh Khanza walaupun dia tahu Lintang tidak melihatnya.
“Pegangan!”tidah Lintang. Lalu dia menghidupkan motornya dan keluar dari gerbang sekolah.
Lintang menarik nafas panjang dibalik helmnya.
“Pegangannya dipinggang Khanza,,,!”ucap gemas Lintang karena tangan Khanza yang bertengger pada pundak Lintang.
“Gini! Lintang tangan kanan Khanza untuk ditempelkan di pinggangnya. “Satu lagi mana? “tanya Lintang dengan maksud menyuruh untuk berpegangan pada pinggangnya.
Dibalik spion Lintang melihat wajah Khanza yang tertunduk dengan pipinya yang merona.
**Ketika dilampu merah.
“Za!
“Hem!”jawab Khanza dengan mendekatkan diri dengan tubuh Lintang hampir menempel.
“Kamu cantik!”ucap Lintang dengan tersenyum.
“Ih apaan sih! Kirain ada apaan”ucap Khanza lalu
menjauh dari tubih Lintang tapi Lintang menahannya dengan menarik sebelah tangannya dengan dilingkarkannya tangan itu pada perutnya. Posisi mereka seperti berpelukan,walaupun satu tangan Khanza melepaskan diri dan dia tempelkan dipunggung Lintang.
__ADS_1
-------------------------------------------------------------------------------------