
Dengan berat hati Khanza membuka ruang pesan di ponselnya.
Dengan menarik nafas dalam dia membalas pesan Lintang. Belum sampai Khanza memback ruang pesannya,ponselnya bergetar menjadi panggilan masuk.
Aduh gimana ini?
"Sa,dia telepon,"ucap Khanza panik.
"Yak udah angkat!"gemas Salsa.
"Lo aja yang angkat,"ucap Khanza dengan secepat kilat memberikan ponselnya pada Salsa.
Mulut Salsa terbuka lebar seketika,namun kemudian dia tersadar,"Kok gw sih yang angkat,masa urusan sama gw,"ucap Salsa memutar matanya.
"Kan tadi lo yang saranin bales pesan,"ucap menyalahkan Salsa. Gak tahunya dia langsung telepon,"gumamnya.
"Yak udah sih Za angkat,lo emang betah noh hape bunyi terus,"ucap Salsa menunjuk hape Khanza dengan mendelikkan matanya karena terus bergetar.
"Bodo,"
"Yak ampun Za,gw tuh gemas banget sama lo,"ucap Salsa lalu menggeser tanda hijau ponsel Khanza,mengangkatnya.
" Hallo,,,?"
[,,,,,,,,,,,,,,,,,,]
"Ini gw Salsa,temannya. Ada apaan? Baru inget lo kalo lo punya pacar!" ucap Salsa kesal diujung telepon anggap aja mewakili perasaan Khanza,sahabatnya.
Khanza memelototkan matanya,tak percaya apa yang Salsa ucapkan. Padahal dia tidak menyuruh dia berbicara seperti itu. Namun Salsa menutup mulut nya dengan jari telunjuknya,mengkode Khanza agar menyerah kannya pada dia untuk berbicara lagi pada Lintang. Lalu dia kembali mendekatkan mulutnya diponsel Khanza.
[,,,,,,,,,,,,,,,,,,]
"Dia gak mau ngomong sama lo. Ngomong aja sekarang nanti gw sampein."
__ADS_1
[,,,,,,,,,,,,,,,,,]
" Hallo," jawab Salsa malas.
[,,,,,,,,,,,,,,,,]
[,,,,,,,,,,,,,,,,]
Salsa masih mendengarkan ocehan Lintang disana tanpa bermaksud menyelaknya lagi.
"Nih Za ah ngomong. Selesaiin masalah sama Lintang. Percuma,dia tetep mau ngomong sama lo,"ucap Salsa menutup microphone karena Lintang masih terhubung ditelepon.
"Take your time,gw tinggal keluar dulu,"ucap Salsa memberi privasi pada Khanza agar bisa mengobrol dengan Lintang.
"Tapi Sa,"sela Khanza cemas.
"Selesaiin Za,biar clear. Kayaknya Lintang tipe pemaksa yak kalo gw bisa nilai."
Memang
"Hallo?" sapa Khanza ragu dan takut menerima telepon dengan menggigit bibirnya.
[,,,,,,,,,,,,,,,,,]
"Enggak enak sama Salsa,"jawab asal Khanza.
[,,,,,,,,,,,,,,,,]
"Iya,"jawab Khanza pelan.
[,,,,,,,,,,,,,,,,]
[,,,,,,,,,,,,,,,,]
__ADS_1
"Dirumah Salsa,"jawab Khanza akhirnya takut-takut sambil menggigit bibirnya lagi.
[,,,,,,,,,,,,,,,,]
[,,,,,,,,,,,,,,,,]
[,,,,,,,,,,,,,,,]
"Jln. Melati No. 15. Komplek Villa Nusa Bangsa."
[,,,,,,,,,,,,,,,,]
Tuttt,,,telepon situtup sepihak oleh Lintang saat Khanza baru saja akan membuka mulutnya.
Dengan menarik nafas panjang Khanza menjawab "Iya,"jawab Khanza pelan walaupun Lintang tidak mendengarnya karena sudah ditutup teleponnya.
Pada akhirnya Khanza memberitahukan alamat rumah Salsa pada Lintang dengan sangat terpaksa karena Lintang yang tetap ngotot tetap memintanya.
Harusnya aku tadi gak usah buka hapenya.
Ceklek
Salsa mengerutkan keningnya melihat raut wajah Khanza. Ada apa ? Apa yang mereka bicarakan ditelepon tadi pikirnya. Tapi jika bertanya tidak enak juga. Kenapa yak sama Khanza,apa mereka putus?
Karena didera rasa penasaran yang tinggi,Salsa akhirnya memilih bertanya,"bisa mati berdiri kalo kayal gini,"batinnya.
"Kenapa Za? kok bingung gitu?"tanya Salsa hati-hati.
"Aduh Sa,gimana ini?"tanya Khanza semakin menampilkan wajah cemasnya.
Salsa berpikir yang tidak-tidak setelah mendengar ucapan Khanza lalu dengan refleks dia memeluk erat Khanza yang saat ini posisinya Khanza sedang duduk diatas kasur sementara Salsa berdiri.
"Sabar yak Za,"ucap Salsa menenangkan Khanza.
__ADS_1
Khanza mengurai pelukannya,lalu menatap Salsa,"gimana ini Sa? Lintang mau kesini. Tadi dia maksa minta alamat rumah lo,"ucap Khanza sambil menggigit bibirnya.
"HA??!!"