
"Tadi ka Andre gak ngomong-ngomong apa-apa dek?"tanya Khanza setelah mengetahui sewaktu dia pulang diantar Lintang sampai depan pagar teenyata ada ka Andre disamping.
"Enggak. Om Andre gak ngomong apa-apa tadi,"jawab Byan. Tapi seketika dia ingat kejadian dikamarnya tadi yang mendapati omnya itu sedang menguping pembicaraan antara kakak nya dan kedua orangtuanya. Ingin dia menceritakan itu kepada Khanza kakaknya tapi atas dasar manfaat bagi dirinya.
"Gw cerita gak yang tadi dikamar,"batin Byan bingung.
"Dek! Dek! Dih bengong.
"Eh apa kak?"kaget Byan.
"Nih bawa lagi sapunya. Kakak dah selesai nyapunya kamarnya."
"Kakak gak keluarin sampahnya?"tanya Abyan yang melihat sampah hasil menyapu kakaknya tadi hanya ditaro dipojok pintu padahal hanya berupa debu-debu saja.
"Gak. Gak kotor juga. Cuma debu,"jawab Khanza cuek.
"Kakak jorok."
"Yak udah kamu atuh yang terusin kakak nyapu nya nih!"
"Dih ogah. Kecuali ditambahin uang jajannya. Baru Byan mau."
"Kamu tuh dek apa-apa serba minta diupah. Mata duitan banget sih!"
"Gak mata duitan kak,tapi memanfaatkan setiap peluang."
__ADS_1
"Bisa aja kamu jawabnya. Yak udah sana keluar. Kakak mau tidur aja."
"Kakak gak bantuin Ibu masak? Tumben,masih marah yah gara-gara diomelin ibu sama Ayah tadi,"ucap Byan sambil menunjuk kakaknya.
"Apaan sih dek!"elak Khanza. Udah sana kamu keluar."
***
Lintang begitu sampai dikediaman orangtua Cher langsung masuk kedalam seperti sudah menganggap rumah kedua baginya.
"Eh den Lintang,"sapa sang pembantu.
"Cher mana bik?"tanya Lintang.
h yak udah." Lintang langsung menuju kamar Cher dilantai dua.
Ceklek,Lintang membuka pintu kamar Cher,kamar yang didominasi warna pink itu. Terlihat Cher tengah tengkurap sambil membaca novel berbahasa Inggris.
"Serius banget,sampai gw dateng gak lo sambut,"ucap Lintang mengambil novel yang hampir menutupi wajah blesteran Cher.
Cher diam saja walaupun Lintang telah menganggu kegiatan bacanya. Dia justru menampilkan wajah cemberutnya.
"Nih bibir kenapa dimanyunin gini,"ucap Lintang sambil meraup bibir merah Cher.
"Gw sebel sama lo,"ucap Cher lalu membalikkan posisi menjadi terlentang sambil memeluk boneka kelincinya yang merupakan hadiah dari Lintang.
__ADS_1
"Kenapa gitu sebel? Salah gw apa?"
"Kenapa baru dateng?"
"Yak kan jauh jarak rumah gw ke rumah lo Cher,"ucap Lintang yang kini sudah duduk diatas pinggir kasur king size Cher.
"Biasanya setengah jam paling dah sampai sini. Sekarang baru sampe,"manyun Cher.
"Macet sayang,,,"ucap Lintang penuh penekanan.
Cher memutar matanya malas saat mendengar jawaban Lintang yang entah benar atau tidak ucapannya. Tetapi dihatinya seseungguhnya dia merasa senang karen Lintang memanggilnya dengan kata 'sayang'.
"Serius?"sangsi Cher menatap wajah tampan Lintang.
Sambil mendekat kearah wajah Cher,Lintang menjawab,"dua rius malah"ucapnya sambil menatap bola mata keabu-abuan milik Cher.
Entah mengapa Lintang secara tidak sadar mengikis jarak wajahnya dengan wajah Cher. Dekat. Semakin dekat,bahkan deru nafas kedua nya hampir saling terdengar.
Reflek Cher memejamkan matanya saat hidung mancung keduanya sudah saling bertabrakan.
Namun tidak dengan Lintang. Dia terus memandang lebih wajah cantik Cher. Lalu atensinya beralih pada bibir tipis nan merah itu.
Saat dia akan menempelkan bibirnya,entah kenapa bayangan wajah Khanza tiba-tiba terlintas.
Astaga gw mikir apa barusan sih!
__ADS_1