
Dengan terpaksa Khanza menemani Lintang yang akan makan dan menahan malu karena siswa-siswi tengah melihat kearahnya.
"Kenapa sih kamu gelisah gitu,Lintang melihat duduk Khanza yang terlihat tidak nyaman itu,selalu berganti posisi duduk.
"Kamu masih lama,",tanya Khanza sambil menggigit bibirnya.
Kenapa emang,kayaknya bel masuk masih sepuluh menit lagi,Lintang kembali bertanya melihat jam ditangannya.
"Saya duluan aja y,,,!
"Bareng,,,Khanza tekan Lintang karena gemas melihat kegelisahan Khanza,dia tahu apa yang tengah dipikirkannya.
Lalu dengan cueknya Lintang tetap melanjutkan makan dengan Khanza yang kepalanya tertunduk.
"Aku tahu kamu merasa tidak enak sama orang yang liatin kamu sekarang ini,"cuek aja Khanza,emang salah kalo kita makan berdua. Kamu tuh terlalu mikirin apa kata orang.
Khanza tampak berkaca-kaca mendengar omongan Lintang,dan Lintang yang melihat Khanza yang tampak mulai menangis menjadi kesal dan membanting sendok yang dipegangnya keatas piring siomay yang dia santap lalu menggeser bangku dan kemudian berdiri.
Khanza seketika yang tengah tertunduk sedih menjadi kaget mendengar bantingan sendok lalu mendongak melihat Lintang yang sudah berdiri didepan. Lalu dia melihat nya berdiri berjalan memutar kearah bangku yang sedang didudukinya.
Grep,,,Lintang menggenggam tangan Khanza tentunya saja mendapat penolakan dari pemiliknya.
"Aku tadinya sudah mau tidak menggengam tangan kamu jika didepan teman-teman ,tapi kali ini aku gak perduli,tekannya pada Khanza.
Lalu Khanza pun mau tidak mau mengikuti kemana langkah Lintang membawanya.
"Ini mang duitnya,kembaliannya ambil aja"Lintang membayar siomay yang dimakannya dengan tetap menggenggam tangan Khanza namun tidak menautkan jemari mereka karena penolakannya tentunya.
Raut muka Khanza sudah seperti kepiting rebus dengan sambil menggigit bibirnya tentu saja dan itupun terlihat oleh Lintang. Jika hanya ini bukan lingkungan sekolah serta ruang tertutup sudah pasti Lintang akan kembali menyerang bibir manis Khanza.
"Khanza,,,please jangan menggigit bibir kamu dihadapan aku. Aku tidak bisa janji untuk menyerang bibir kamu lain kali tidak perduli dimana kita berada,"gemas Lintang berbicara pelan sekali tapi masih terdengar oleh Khanza . Lalu dengan cepat Khanza menarik giginya yang sedang menggigit bibirnya karena takut akan perkataan Lintang yang terkesan seperti ancaman itu.
__ADS_1
Sikap Lintang makin kesini makin terlihat agresif saja pada Khanza dan memperlihatkan sisi kepemilikannya.
Sampai mereka didepan kelas Khanza.
"Jangan menunduk,jalan dengan tegap,jangan perlihatkan ketakutan kamu didepan mereka,kamu tidak salah,"pesan Lintang ketika berlalu meninggalkan Khanza didepan kelasnya.
Khanza tidak menanggapi apa yang dikatakan Lintang padanya tapi dia mencoba menerapkan apa yang dipesankan olehnya. Khanza tampak berusaha seperti tidak terjadi apa-apa lalu duduk dibangkunya.
"Ehm,,,ehm,,,kayaknya seneng banget yang abis makan bareng biarpun makannya cuma dikantin sekolah,"ledek Salsa.
Khanza tidak memperdulikan ledekan,karena semakin dia tanggapi Salsa makin meledeknya.
"Sombong amat sih,"omel Salsa kesal Khanza mencuekinya.
"Belajar-belajar bentar lagi pelajaran bu Diah mau mulai,"Khanza menanggapi omelan Salsa sambil tersenyum.
Ting,,,suara pesan masuk diponsel Khanza. Dia sempat melihat siapa pengirim pesan itu. Lalu Khanza mensilent ponsel karena dia lupa menyetingkan mode suaranya.
Baru saja membuka pesan Lintang dan akan membalasnya urung karena mendengar protesan Salsa. Diapun hanya membuka pesan Lintang tanpa membalasnya.
"Gimana mau pulang bareng orang saya bawa sepeda,batin Khanza.
Skip kegiatan belajar mengajar dikelas bu Diah sampai jam belajar berakhir.
Bel pulang sekolahpun berbunyi,murid-murid berlalu meninggalkan kelas mereka begitu juga dengan Khanza yang saat itu sedang merapihkan alat tulis dan memasukkannya kedalam tasnya.
"Yuk Za,"ajak Salsa.
'Duluan aja,saya mau ambil keranjang kue dulu di kantin.
"Ya udah,"duluan ya,Salsa meninggalkan Khanza sendiri tapi ternyata dikelas masih ada Angel dan Fifah,Khanzapun menyadarinya. Dia berusaha tenang dan bersikap biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Liat tuh upik abu yang berpacaran dengan seorang pangeran,"Fifah menunjuk dagunya kearah Khanza.
"Bukan upik tapi si tukang kue,"sarkas Angel menimpali ejekan Fifah. Gak tahu diri,ucap kembali Angel dan berlalu meninggalkan kelas bersama Fifah sambil melirik tajam kearah Khanza.
Khanza hanya mengepalkan kedua tangannya disisi roknya yang sedang duduk itu.
"Huhh,,,Khanza menarik nafas panjang mencoba bersabar menahan marah. Dia kemudian berjalan sendiri kekantin.
"Hm,,,mang saya mau ambil keranjang kue kemarin.Masih ada sisakah kue saya kemarin,"Khanza bertanya pada mang Dudung.
"Ada neng,masih ada tiga tapi dah mamang buang abis ditungguin sampai sore neng belum ambil juga,mau saya makan gak enak sama eneng,alhasil kuenya jadi basi pas malamnya.
"Gak apa-apa mang,lain kali kalo ada kue tersisa mamang makan aja,gak akan saya hitung kok,"ucap Khanza sambil tersenyum.
"Oh ya dah,nih duitnya jadi 67.500 kan harusnya duitnya 75.000 dipotong kue yang gak abis.
"Iya mamang,"Khanza tersenyum mendengar penjelasan mang Dudung.
"Duh senyumnya ,kalo mamang masih muda,mamang juga pasti naksir neng kayak Lintang,"gombal dan candaan mang Dudung.
Khanza hanya menanggapinya dengan menarik garis bibirnya. Tak lupa dia mengucapkan terimakasih lalu berlalu meninggalkan kantin.
Ting,,,,,,,dmn?
Ting,,,,,,,aku tungguin kamu
Bersambung
Mohon dukungannya dengan komen,like dan vote
Love You
__ADS_1
Author