Aku Hanya Babysitter

Aku Hanya Babysitter
Bab. 74


__ADS_3

"Pacarnya Khanza ?


"Iya tante,"jawab Lintang mengangguk sopan dengan mata terkadang mencuri pandangan ke segala arah,mencari seseorang.


"Silahkan duduk nak Lintang. Salsa cepet panggilin Khanzanya."


"Ya mah,"jawab Salsa malas.


Begitu Salsa pergi,Lintang tetap diluar. Dia lebih memilih duduk dikursi teras.


"Loh nak Lintang kenapa nunggunya gak di dalam saja?"tanya Bu Dian.


"Enggak usah tante,disini saja.Terimakasih."


"Gimana? Bener yang diluar Lintang ?,"tanya Khanza yang yang sedari tadi sudah mondar mandir didepan kamar Salsa. Sebenarnya samar-samar dia sudah mendengar obrolan mereka.


"Yak siapa lagi yang dateng ngapel. Masa pacar gw. Lo tahu sendiri jones. Jomblo ngenes,"canda Salsa.


"Ih apaan sih Sa,"omel Khanza.


"Udah cepet temuin sana. Kayaknya dia udah gak sabaran pengen ketemu elo,"ucap Salsa sambil memainkan alisnya.


"Anter tapi,"ucap Khanza manja.


"Nasib-nasib,,,"gumam Salsa.

__ADS_1


Salsa keluar lebih dulu diikuti Khanza dibelakangnya dengan tangannya berpegangan pada pundak Salsa.


"Ini apaan sih Za. Kayak baru ketemu cowok yang janjian dikencan buta. Malu-malu gini,"monolog Salsa.


Khanza pura-pura cuek dengan yang diucapkan Salsa padanya. Dia tetap berjalan dengan sesekali berpegangan pada pundak Salsa dan mendorongnya pelan.


"Ehm,,,ehm,,,"kode deheman Salsa ketika sudah didepan pintu depan rumah. Lintang tidak menyadari kedatangan keduanya karena sedang asyik berselancar di dunia maya.


Fokus Lintang teralihkan ke sumber deheman,lalu menengadahkan kepalanya dan langsung berdiri gercep menghampiri orang yang berada dibelakang Salsa.


Khanza refleks memundurkan badannya begitu Lintang yang akan menghampiri dirinya namun segera Salsa mencekal lengan Khanza dan mendorongnya kedepan.


"Enggak baka gigit Za. Takut amat,"canda Salsa. Gw tinggal yak. Happy talking-talking yak! Bye!"


"Lah terus gw harus disini gitu? Jadi obat nyamuk kalian. Tega banget lo Sa."


Khanza meringis mendengar omelan Salsa dan langsung melepaskan cekalan tangannya dilengan Salsa.


Khanza dan Lintang sama mematung. Tidak ada yang memulai obrolan. Jika berada diarea oersawahan,mungkin yang ada hanya terdengar suara kodok dan jangkring meramaikan kecanggungan mereka. Khanza yang tertunduk sambil memilin ujung baju piyama yang dia pinjam dari Salsa. Sementara Lintang sibuk memandangi wajah Khanza walaupun hanya terlihat kening dan hidungnya saja.


"Za,,,"panggil Lintang lembut.


Gerak slow motion Khanza mengangkat wajahnya begitu Lintang menyebut namanya lembut.


Mata keduanya langsung dipertemukan dengan pandangan yang tersirat.

__ADS_1


Tangan Lintang lantas meraih tangan Khanza yang sibuk memilin ujung baju itu namun dengan cepat dan refleks dia menyembunyikkannya dibelakang punggungnya.


Lintang shock dan tidak menyangka Khanza menolak pegangan tangannya. Pikiran positifnya mengatakan mungkin Khanza malu dan sadar dimana mereka berada. Jadi dia pun memakluminya.


Lain halnya dengan Lintang,Khanza justtu melalukan itu karena dia merasakan kegamangan dihatinya.


"Diluar yuk ngobrolnya,"ajak Lintang yang ingin privasi mereka tetap terjaga.


"Ini udah diluar,"jawab Khanza dingin.


Lintang mengerutkan keningnya mendengar nada penolakan dari Khanza.


Ada apa dengan Khanza.


"Maksud akilu diluarnya bukan disini. Kita bisa ngobrol dikafe ataupun taman,"ucap Lintang memberitahukan lebih detail maksud tempatnya.


"Gak usah disini aja,sama saja,"ucap Khanza datar.


Lintang memarik nafas panjang mendengar penolakan Khanza. Dia bingung kenapa Khanza tidak mengerti keinginannya.


"Maksud aku tempat yang lebih nyaman dan privat."


"Memang kamu mau ngobrol apaan? Penting?"


Deg

__ADS_1


__ADS_2