Aku Hanya Babysitter

Aku Hanya Babysitter
Bab. 75


__ADS_3

Lintang tidak dari mulut manis Khanza keluar kata-kata seperti itu. Apakah kesalahannya sudah sangat fatal hingga Khqnza terlihat masa bodo dengan dirinya. Tidak ada Khanza yang malu-malu dengan wajah yang bersemu. Yang ada hanya Khanza yang sudah terlihat tidak perduli. Tidak. Ini tidak dibiarkan. Lintang harus mengembalikan Khanza yang dulu yang manis nan lugu. Yang selalu menurut apa yang dia katakan.


"Kita harus bicara,berdua. Tidak ada oranglain,"tegas Lintang.


"Kita bicara diteras ini hanya berdua. Tidak ada oranglain. Sama aja kan?"ucap Khanza datar.


"Bagaimana jika mereka menguping pembicaraan kita?" Lintang masih kukuh ingin mengajak bicara Kahnza diluar.


"Apa obrolan kita penting? Aku rasa kamu kesini jiga cuma ingin meluruskan kenapa kamu tidak menjemput aku tadi pagi? Sepertinya tanpa kamu jelaskan juga aku dah tahu jawaban."


"Jangan sok tahu,Khanza,,,"tekan Lintang yang sepertinya sudah mulai tersulut emosi mendengar kata-kata Khanza.


Dengan sedikit menarik sudut bibirnya,Khanza berucap lagi,"kenapa kamu marah? Belum juga aku tebak."


Grep


Lintang menangkap tangan Khanza yang sedang saling bertaut itu.

__ADS_1


"Kita harus bicara diluar,"ucap Lintang yang akan menarik tangan Khanza namun sepertinya Kahnza menahan bobot tubuhnya sehingga tarikan tangan Lintang terasa berat.


Lintang memutar tubuhnya,melihat apa yang terjadi sehingga langkahnya terhalang. Dengan kening berkerut dia melihat Khanza yang tetap berada ditempatnya semula.


Dengan tanpa melepaskan cekalan tangannya,Lintang menipiskan jaraknya dengan Khanza,"ayo!"


Khanza menggelengkan kepalanya ke kiri dan kekanan hanya sekali,"disini aja,"jawabnya kukuh pada pendiriannya.


Dengan menarik nafas kasar,Lintang melepaskan cekalan tangannya lalu berbalik kembali ke kurai teras rumah keluarga Salsa.


Khanza mengikuti Lintang setelahnya,duduk disebelah Lintang dengan dipisahkan meja kecil ditengah-tengahnya. "Jadi?"tanyanya melihat kearah Lintang.


"Oh,"jawab Khanza simple mengikuti seperti Lintang. Dia yakin bukan alasan lupa yang menyebabkan Lintang tidak jadi menjemputnya,tapi karena alesan yang dikemukakan Lintang hanya lupa jadilah dia juga hanya menanggapinya hanya satu kata 'oh' saja.


Lintang menegakkan pandangannya kearah Khanza,seperti meminta kalimat lain selain kata 'oh.


"Kamu lupak kan? Yang udah aku harus ngomong apa kalo kamu nhomong lupa kabarin aku. Padahal jelas-jelas dia juga tidak masuk sekolah. Lupa juga?

__ADS_1


"Lupa itu sifat manusiawi. Akupun enggak bisa mencegahnya. Jadi aku maklumi."


Lintang menutuon matanya sesaat. "Terus kenapa udah malam masih disini?"pertanyaan Lintang yang entah mengalihkan obrolan atau melupakan maksud kedatangannya ke rumah Salsa.


"Memang kenapa kalo aku disini malam-malam?" Lagi-lagi Khanza melayangkan ucapan dan pertanyaan yang membuat kesabaran Lintang menipis.


"Ayo pulang!"


"Kamu mau pulang?"tanya Khanya yang tidak nyambung.


"Kamu Khanza...Ayo pulang!"tekan Lintang mulai terlihat kesal.


"Oh kirain aku apaan,'ayo."


"Khanza kamu kenapa sih dari tadi? Tiap aku ngomongg,kamu memutar omongan aku aja. Ini menanndakan kalau kamu tuh marah sama aku,"kesal Lintang.


"Sok tahu,"jawab Khanza.

__ADS_1


"Hah,,,aku pulang kalo gitu,"ucap Lintang sambil menghentakkan badannya kasar dari kursi teras lalu mulai melangkahkan kakinya menuju luar pagar dimana mobilnya berada.


Kamu gak hargain aku Za datang kesini. Kamu tidak tahu kan seperti apa memacu mobilku. Maaih untung aku sampai disini dengan selamat.


__ADS_2