
Khanza mulai meracik bahan pelengkap baksonya ,mulai dari kecap,saos dan sambal.
"Astaga Khanza,,,itu kamu pakai sambalnya dah lebih dua sendok,sini!"Lintang merampas tempat sambal yang baru saja Khanza akan menambah lagi.
Tak banyak protes Khanza terpaksa mengentikan niatnya yang akan menambah satu sendok lagi sambalnya. Karena dia tahu semakin banyak dia protes, Lintang akan berkali lipat berbicaranya. Dia hanya menggembungkan pipinya ketika akan menyuap baksonya.
Tak tahan melihat kelucuan Khanza,Lintang mencomot bulatan baso yang ada dibalik pipinya.
"Ih,,Prasta"ucap Khanza sedikit bergeser dari tempat duduknya.
"Haha,,,"tawa renyah Lintang membuat Khanza tergugu melihatnya.
Gantengnya,batin Khanza.
Bukan hanya dirinya saja yang terpesona melihat ketampanan Lintang yang seakan berkali-kali lipat karena terlihat tawa renyahnya itu.
"Gak usah dimonyong-monyongin tuh pipi,mau aku gigit?"
Seketika Khanza menormalkan pipinya ,namun karena ada bakso yang sedang dikunyah sehingga pipinya masih sedikit menggembung.
__ADS_1
Dengan cepat ia mengunyah bakso lalu menelannya kasar. Karena masih diperhatikan Lintang,Khanza lalu menyedot jus jeruk dengan perlahan untuk mengurangi kegugupannya.
"Aku dah selesai Pras,mau balik ke kelas duluan"ucapnya pada Lintang.
"Habiskan dulu baksonya,tinggal sedikit lagi."
"Tapi,,,
"Habiskan atau aku suapin!"
Dengan sudah dengan tidak nafsu lagi,Khanza mengabiskan sedikit demi sedikit,seperti orang mau tidak mau.
Beruntung beruntung banget kamu Za,dapet cowok ganteng,tajir baik pula batin Salsa.
Seperti tadi diceritakan Khanza makan dengan ogah-ogahan. Lintang mengambil tangan kirinya yang menganggur untuk dia genggam. Tau jika menolakpun percuma,Khanza menaruh tangan kirinya yang Lintang genggam dibalik meja. Karena dia tahu tindakan mereka (tangan menggenggam) ada yang memperhatikan terutama yang dipojok kanan.
Astrid terus memperhatikan tingkah polah pasangan kekasih dengan tajam.
Dibalik bawah meja Lintang tetap menggenggam tangan Khanza dengan sesekali dia usap tiap jemarinya,terutama jari manisnya.
__ADS_1
Tenang Za,jari ini(jari manis) akan aku isi sebagai bukti keseriusanku batin Lintang.
Genggaman tangan Khanza,Lintang pindahkan dari awalnya berada diatas paha Khanza,sekarang sudah berada diatas paha Lintang. Jika bukan berada dikantin mungkin Lintang akan mencium jemari Khanza,sebagai bentuk kecil betapa dia sangat sayang pada Khanza. Untungnya pikiran sehatnya masih dipertahankan,karena dia sadar dimana mereka berada. Ini saja sudah Khanza sembunyikan dibawah kolong meja,karena dia tahu Khanza kurang nyaman dengan tindakannya itu.
"Udah?"tanya Lintang karena melihat bakso Khanza yang telah habis.
"Hm,,,"jawab Khanza dengan tidak semangat.
"Mau disini atau ke kelas,karena jam masuk masih sepuluh menit lagi"tanya Lintang lagi karena sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
Khanza yang awalnya menjawab lemah pertanyaan pertama Lintang,seketika membulatkan matanya mendengar pertanyaan Lintang dibarengi gelengan kepala keras.
"Kenapa begitu?masih mau disini?"tanya Lintang dengan mengulum senyum mempercandai Khanza karena tindakan lucu Khanza. Dia tahu gelengan keras Khanza sebagai bentuk penolakan,tapi sengaja dia permainkan menjadi tanda 'iya'.
Khanza membesarkan kedua matanya mendengar pertanyaan Lintang yang dia tahu bukan ucapan serius karena dibarengi dengan ******* senyum. "Ih Prasta!"
"Haha,,,"tawa Lintang kembali dibarengi cubitan besar pada hidung Khanza.
Mohon dukungannya dengan komen,like,vote serta rate nya. Yang penasaran visualisasi Khanza dan Lintang,coming soon akan author pasang di Ig. So follow me on cinta.dmynti
__ADS_1