
Khanza mempunyai feeling tidak enak. Apa maksudnya sang ibu sampai menyuruhnya duduk padahal dia sudah menolaknya.
"Sekali ibu tanya,dengan siapa tadi kamu pulang?"tanya bu Ratna to the point karena rasa penasaran yang tinggi apalagi setelah mendengar omongan Andre yang menurutnya masuk akal itu.
"Kan ibu tadi dah denger dari Khanza,"keukeuh Khanza tapi wajahnya semakin memucat. Telapak tangan sudah basah dengan keringat karena rasa takut merajainya.
"Ibu tahu berbohong tadi Khanza. Dengan siapa kamu tadi diantar pulang?"
"Tante sepertinya marah sekali dengan Khanza. Apa tante dah tahu yak siapa orang yang anterin Khanza tadi?"batin Andre.
"Dengan Lintang?"tembak Ibu Ratna langsung tanpa tedeng aling-aling. Jangan lupakan wajahnya yang sudah memerah menahan kesal.
Dengan tertunduk dalam dan kemudian menutup matanya dia berkata,"iya bu."
"Ada apa ini bu ribut-ribut?"tanya Ayah yang mendengar suara keras istrinya dari dalam. Sementara dia berada dibelakang sampai mendengarnya.
"Ini loh Yah anakmu. Gak ngerti dikasih tahu. Masih saja berhubungan dengan yang namanya Lintang,Lintang itu,"jawab Ibu Ratna dengan dada yang sudah naik turun.
"Apa benar itu Khanza?"tanya Ayah memastikan.
"Iya Ayah,,,"jawab Khanza pelan.
"Tuh kan bener Ayah apa kata Ibu. Untung tadi Andre ngomong. Kalo gak gitu Ibu percaya saja apa yang Khanza omong tadi. Bilangnya pulang naik angkot seperti biasa,tapi gak tahunya diantar tuh anak!"
__ADS_1
"Kamu bohong Khanza?"tanya Ayah dengan tatapan kecewa.
"Maafin Khanza Ayah,"sesal Khanza dengan mata yang sudah nampak berkaca-kaca.
"Kenapa kamu sampai berbohong Khanza?"tanya Ayah lemah.
"Maafin Khanza Ayah,"ucap Khanza sekali lagi. Dia sudah tidak mampu berbicara yang lain karena merasa sudah sangat berdosa pada kedua orangtuanya.
"Maaf,,,maaf,,,sekarang baru minta maaf. Waktu tadi aja bisa alesan,"sindir Ibu Ratna.
"Sudah Ibu. Coba kita tanya Khanza sekali lagi kenapa dia berbohong."
"Yak biar gak ketahuan kita lah Yah,dia diam-diam masih berhubungan sama anak itu."
Ibu Ratna seketika mengatupkan rahangnya.
"Jadi Khanza backstreet sama tuh laki-laki,"batin Andre yang masih berada dibalik pintu mendengarkan mereka.
"Om,,,Om Andre,,,Byan dah cuci mot,,," Datang Byan dari arah luar dengan riang memanggil sang Om,Andre. Eh Aya, Ibu,"ucap kikuk Abyan karena kaget melihat wajah kedua orangtuanya yang tampak tegang. Lalu dia melirik sang kakak yang tertunduk dalam, dibangku meja makan seperti orang yang sedang disidang.
"Om kamu dikamar,"ucap Ayah memberitahu.
"Om,,,."
__ADS_1
Ceklek,Abyan membuka pintu kamar dan mendorongnya kencang. "Eh,,,ngapa,,,."
Andre menaruh telunjuknya dibibir.
"Byan dah cuci motornya,"ucap Andre sambil berbisik,padahal Andre mengkodenya bukan untuk itu. Maksud Andre jangan dia ketahuan sedang menguping.
Karena tidak mendapat tanggapan dari Andre,kembali Abyan mengulang ucapannya,"om aku dah cuci motor om. Dijamin bersih deh!" Byan berbicara dengan sambil berbisik.
"Gak usah berbisik juga ngomongnya Byan. Memang nya ini rahasia."
"Lah tadi om,begini,"Byan memperagakan sepeti tadi Andre,menaruh telunjuknya dibibir. Itu maksudnya ngomongnya jangan kenceng-kenceng kan?"
"Ish,,,bukan,"sanggah Andre.
"Atau jangan-jangan Om nguping yak? Iya itu?"tunjuk Byan pada Omnya.
"Hush,,," Andre memelototkan matanya.
"Ada apaan sih Om sama kak Khanza,sama Ayah sama Ibu?"kepo Abyan akhirnya.
"Anak kecil dilarang ke,,,po,,,."
"Ih Om. Awas yak nanti Byan aduin,kalo Om nguping mereka."
__ADS_1