
Entah perasaan Khanza kali seperti hambar pada Lintang. Mungkin karena kejadian kemarin. Bahkan pada saat ini pun dimana Lintang memaksanya berpegangan pada pinggang dan memeluk Lintang perasaan Khanza B saja. Dia pun sekarang sudah berani melawan perkataan Lintang.
"Kamu kenapa Za? Berubah banget,cuma gara-gara aku gak ngabarin kamu kemarin."
"Kayak nya pembicaraan kita belum selesai. Semalam juga kamu menolak saat aku mau klarifikasi masalah kemarin."
"Gak usah. Dah jelas kan semalam kamu mengatakan lupa kabarin aku. Udah aku percaya kok!"ucap Khanza malas membahas masalah Lintang tidak bisa menjemputnya.
"Sekarang tolong anterin aku pulang. Kalo kamu keberatan ,kamu bisa turunin aku dihalte depan aja,jadi aku gampang dapet angkotnya."
Lintang diam saja saat Khanza terus saja berbicara. Dia lalu kembali menghidupkan motor gedenya dan langsung membawanya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Ya tuhan Pras,Kamu sengaja banget ngebut-ngebut begini.
Dengan keadaan seperti ini Khanza terpaksa berpegangan pada pinggang Lintang erat. Karena tidak mungkin dia pegangan pada handgrip dibelakang jok.
Lintang tersenyum samar dibalik helmnya karena tindakannya melajukan motornya dengan cepat Khanza jadi mau berpegangan pada pinggangnya.
Karena Khanza belum memeluknya,hanya pegangan dipinggangnya,Lintang kembali menambah kecepatan motornya.
Khanza memejamkan matanya saat Lintang menambah kecepatan motornya dan pegangan erat sekali pada pinggangnya. Namun lama kelamaan tangannya melingkar diatas perut Lintang dan merapatkan tubuhnya.
Karena sudah seperti keinginnya,Lintang memelankan kembali laju motornya tetapi sebelah tangannya menahan tangan Khanza yang sedang bertengger diperutnya dengan saling bertaut.
__ADS_1
Khanza memutar matanya malas dengan Lintang itu. "Harusnya dia sudah tahu akan begini akhirnya. Lintang hanya menggertak saja,"batin Khanza.
"Tadi siapa yang telepon?"tanya Lintang maaih dengan menahan tangan Khanza,alhasil dia mengendarai motornya dengan sebelah tangan.
"Bukan siapa-siapa,"jawab Khanza malas.
Lintang mengerutkan kening mendengar jawaban Khanza. Bukan siapa-siapa tapi manggilnya kakak. Jangan-jangan?"
"Masa sih?"tanya Lintang tidak percaya. Kalo bukan siapa-siapa kok manggilnya kakak? Memang kamu punya kakak?"tanya Lintang masih mengintograsi Khanza.
"Punya,"jawab Khanza singkat. Udah mending kamu bawa motornya yang bener."
"Ini udah bener,"jawab Lintang cuek.
"Dua tangan maksud aku,"jawab Khanza malas sambil memutar matanya.
Iya meluk,tapi terpaksa.
"Iya tapi bahaya tau,"cebik Khanza tanpa Lintang tahu.
"Aman. Tenang aja. Kamu aku bawa sampai rumah dengan selamat."
"Jangan takabur. Gak baik."
__ADS_1
"Gak Khanza sayang,,,."
Gak mempan kamu panggil-panggil aku sayang. Fell nya dah gak dapet dari suara kamu Lintang.
"Kok diem aja sih Za?"
"Za?"
"Kanza,,,,"
"Apa sih?"kesal Khanza.
"Jangan marah-marah ah. Nanti cantiknya hilang."
"Emang aku gak cantik,"jawab Khanza datar.
"Iya kamu gak cantik,tapi cantik bangeeett,"canda Lintang.
Gak ngaruh. "Hm,,,nanti turunin aku didepan gang aja yak Lin,"ucap Khanza yang tiba-tiba saja enggan memanggil nama panggilan khususnya untuk Lintang.
"Prasta. Biasanya kamu manggil aku Prasta."
"Lintang aja. Sama seperti yang lain,"jawab Khanza datar.
__ADS_1
"Jangan dong. Panggil aku Prasta. Beda sama yang lain. Lebih special juga. Panggilan sayang kamu ke aku kan?"
"Iyah,"jawab Khanza ambigu.