Aku Hanya Babysitter

Aku Hanya Babysitter
Bab. 89


__ADS_3

Sinar matahari yang awalnaya hangat kini mulai terasa panas menyentuh kulit halus Khanza karena jendela kamarnya sengaja dia buka sejak tadi. Khanza merenungi peristiwa tadi yang membuat dia enggan menampakkan wajahnya pada semua orang dirumah.


"Aku besok bagaiamana? "gumamnya.


Lama Khanza merenung,sampai ketukan pintu kamarnya menyadarkannya.


Belum sampai Khanza beranjak dari duduknya dan membukakkan pintu,ibu masuk kedalam.


"Kenapa masih dikamar terus nak? Apa kamu tidak ingin membantu Ibu,hm?" Hilang sudah segala kemarahan seorang ibu pada anaknya. Karena sesungguhnya marahnya seorang hanya sesaat lalu kembali pada rasa kasih sayangnya pada sang. Itulah yang dirasakan Ibu Ratna. Dia bertindak demikian karena ada maksud tersendiri dan juga untuk kebaikan anaknya kelak.


"Maafin Khanza,"ucapnya memeluk tubuh san ibu dengan posisi dia masih duduk di bangku belajarnya.


"Ibu maafin sayang,"ucap Ibu Ratna membalas pelukan sang anak sambil mengusap-usap lembut punggungnya. Ibu mau masak,kamu mau bantu?"


Khanza mengangguk dibalik dada sang ibu.


"Yak sudah,udah dong pelukannya."


Khanza mengurai pelukannya dan kemudian menengadah menatap wajah nan teduh sang ibu,dan lalu dia tersenyum.

__ADS_1


"Ayuk nanti keburu siang,"ucap Ibu lalu kali ini menjauhkan tubuhnya dari sang anak. Khanzapun bangun dari duduknya dan mengikuti Ibunya keluar dari kamar.


Ketika Ibu Ratna keluar dari kamar Khanza terlihat sang suami sedangkan air kedalam gelas.


"Ayah sudah selesai cucinya?"tanya Ibu kemudian duduk disamping suaminya.


"Sudah,Ayah hanya mengawasi Byan saja tadi bu disamping. Bersih gak cucinya dan hasil nya lumayan tuh anak.


"Sekarang Ayah habis ini mau ngapain lagi?"tanya Ratna.


"Mau semir sepatu kerja Ayah disamping sekalian nemenin Abiyan nyuci. Khanza mau ngapain kamu nak?"tanya nya pada Khanza yang meninggalkan kedua orangtuanya di meja makan.


"Ini kangkung mau situmis buk?"tanya Khanza yang sudah biasa didapur karena sering membantu ibu memasak sehingga sebagian telah hafal bumbu-bumbu dapur serta bisa memasak menu-menu yang simple.


"Yak nak,"jawab Ibu yang tidak perlu berteriak karena jarak dapur dan meja makan berdekatan.


Sementara Khanza memotong-motong kangkung serta mengupas bawang-bawangan,Ibu dan Ayah duduk dimeja makan,meneruskan obrolan yang sepertinya penting tapi tidak bersifat rahasia.


"Gimana bu sudah ngobrol sama Andre?"tanya Ayah.

__ADS_1


"Sudah Ayah."


"Lalu gimana pendapat dia?


"Mau Ayah. Dia tidak keberatan sama sekali jika terus mengantarkannya setiap hari."


"Syukurlah kalo dia tidak keberatan. Jadi Ayah fokus mengantarkan Abyan saja."


"Iya Ayah. Malah dia menawarkan mengantar jemputkan nya. Tapi Ibu bilang gak usah.


"Iyalah bu. Memang pulang kerja jam berapa bisa jemputnya. Tuh anak saking seriusnya mau anter sampai mau jemput jg.


Bu Ratna dan suaminya tidak menyebutkan nama orang yang akan mengantarkan siapa,itulah yang ada dalam pikiran Khanza yang dapat mendengar pembicaraan kedua orangtuanya,hingga Khanza menghentikannya kegiatan mengiris bawang tapi dia tetap tidak bisa kemana arah pembicaraan keduanya.


"Apa yang sedang mereka bicarakannya yak?"gumam Khanza yang saat itu tangan nya kembali mengiris bawang merah tapi tidak sengaja pisau justru mengiris jarinya.


"Aw,,,!


"Khanza,,,

__ADS_1


__ADS_2