Aku Hanya Babysitter

Aku Hanya Babysitter
Bab. 92


__ADS_3

Khanza melambatkan langkah kakinya, berharap tidak berbarengan dengan Lintang cs minus Lintang sendiri. Tapi nampaknya keuntungan tidak berpihak padanya. Tak lama ada yang memanggil namanya.


"Za,,,"panggil seseorang didepannya Khanza.


Karena tidak mendapat respon dari Khanza,orang tersebut kembali memanggil namanya.


"Za,,,!" Teriak orang itu kali ini sengaja mengeraskan suaranya agar Khanza mendengar panggilan nya.


Mau tak mau Khanza mengangkat kepalanya,melihat kearah orang yang memanggil namanya walaupun dia sudah tahu siapa yang orang itu.


"Cari apa sih,jalan nunduk aja?"canda Boy. Yak orang memanggil Khanza adalah Boy,salah satu cs Lintang.


Khanza tersenyum kikuk menanggapi candaan Boy. "Hey Boy,,,"sapa baliknya."


"Baru dateng Za?"tanya Boy menghentikan langkahnya agar Khanza bisa jalan bersamanya.


"Iya,"jawab Khanza.


"Ehm,,,"dehem Toni mengkode Boy.


Boy pura-pura cuek dengan kodean Toni. Dia tetap menghentikan langkahnya sejenak agar bisa menyamai langkah Khanza.


Akhirnya Khanza menghampiri Boy,lalu merekapun jalan bersisian menuju lorong kelas.


Dalam hati Boy bersorak senang bisa jalan bersama Khanza. Momen yang langka menurutnya.


Toni melirik Boy dibelakangnya,tapi Boy tetap cuek. Lalu dia memplotkan matanya bermaksud menyuruh Toni agar tidak usah mencampuri urusannya.


"Tadi gw lihat Lo didepan dianterin yak Za?" Boy akhirnya bertanya pada Khanza,tak tahan karena sedari tadi hal itu yang menggangu pikirannya.


"Oh iya,,,"jawab Khanza namun tidak memberitahu siapa orang yang mengantarkannya itu. Karena menurutnya bukan sesuatu yang harus diberitahukannya.


"Kakak lo?"tebak Boy karena masih penasaran, belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Iya,,," Lagi-lagi Khanza menjawab singkat pertanyaan Boy.

__ADS_1


"Busy*t dah dari tadi gw pancing-pancing tetep aja jawabannya singkat banget,"batin Boy. Dirinya gemas dengan Khanza yang irit sekali dalam menjawab.


"Kakak lo dah gawe?"kepo Boy lagi. Dirinya seakan tidak rela tidak mengajak Khanza mengobrol.


"Biar gw tebak jawaban lo. Pasti jawabannya 'iya' kan?" Boy menjawab sendiri pertanyaan nya pada Khanza sebelum Khanza membuka mulut.


"Haha,,,"tawa kecil Khanza akhirnya keluar namun ditutupi oleh telapak tangannya sehingga gigi ginsulnya tertutupi.


"Jangan ditutupin dong Za tawanya. Sayang tau,,,."


Khanza mengerutkan keningnya mendengar ucapan Boy yang dia tidak mengerti.


"Biar gw bisa lihat gigi gingsul lo,"samber Boy. Manis banget soalnya,"ucapnya dalam hati.


Lagi-lagi Khanza memberikan senyumnya sedikit karena ucapan Boy yang menurutnya lucu itu.


"Khanza,,,"panggil Salsa dari jauh.


Sialan ada nenek-nenek gambreng dateng. Ganggu aja.


"Hai Za,,,." Nafas satu-satu Salsa karena dia berlari mengejar Khanza yang berada jauh didepannya.


"Tumben Sa baru dateng? Telat?"tanya Khanza.


Tangan Salsa merangkul pundak Khanza yang otomatis menggeser posisi Boy yang sedang berjalan berdampingan dengan Khanza.


"Awas lo,"ucap Salsa sinis pada Boy lalu menyeret Khanza agar meninggalkan Boy.


"Wii Za,,,tunggu dong!" Sialan tuh cewek,"umpat Boy.


"Dih ngapain sih lo jalan deket-deket Khanza? Mau modus Lo?"


"Apaan sih Sa,,,." Khanza menegur Salsa karena tidak terima dengan ucapannya itu. Menurutnya tidak ada yang salah jika dia berjalan bersama dengan Boy. Bukan hal yang disengaja juga pikirnya. Itu yang ada dipikiran Khanza saat itu.


"Hati-hati Za sama Si Boy. Dia playboy kelas kakap tau,,,"ucap Salsa memperingati sahabat nya, Khanza.

__ADS_1


Sialan tuh cewek. "Jangan sok tahu Lo? Kalo ngomong jangan asal jeplak yak! Kata siapa gw playboy?" Boy tidak terima dengan omongan Salsa, padahal yang diomongin Salsa benar adanya.


"Dah jadi rahasia umum disekolah ini kali,"jawab Salsa cuek.


Khanza meringis mendengar perdebatan antara Salsa dan Boy. Namun begitu dia tidak perduli dengan hal yang menyangkut tentang Boy.


"Jangan percaya Za sama omongan temen lo ini." Boy mencoba meyakinkan Khanza agar tidak mempercayai ucapan temannya itu. Namun lagi-lagi Khanza menanggapinya dengan senyuman kecil yang membuat Boy ketar-ketir.


"Dah yuk Za,kita cepetan ke kelas,"ajak Salsa kemudian menggandeng Khanza cepat meninggalkan Boy akhirnya.


Karena tak enak pada Boy,Khanza berpamitan padanya. "Duluan yak Boy." Lalu Khanza mengikuti langkah Salsa yang menyeretnya dengan rangkulan di lengannya kencang seakan-akan takut Khanza lepas.


Boy hanya memberikan senyum terpaksa menanggapi Khanza yang pamitan padanya.


Setelah mereka berdua jauh dari Boy,Salsa melepaskan rangkulannya.


"Lo ngapain sih Za jalan bareng si Boy?"


"Gak jalan bareng Sa. Cuma kebetulan aja,"terang Khanza.


"Masa sih?" Salsa tidak percaya ucapan Khanza.


"Iya. Tadi cuma kebetulan aja. Mereka Sampai didepan gerbang,gak lama terus gw juga sampai."


"Oh,"jawab singkat Salsa tapi sepertinya ragu dengan jawaban Khanza. Kalo memang tidak sengaja tapi kenapa tadi Khanza mengatakan 'mereka'. Berarti ada orang lain,selain Boy tadi. Tapi kenapa cuma tinggal Boy saja sendiri bersama Khanza saat itu.


"Dah yuk ah masuk,"ajak Khanza begitu mereka sampai didepan kelasnya.


Tak lama Boy pun melintas diantara mereka yang hendak masuk ke dalam kelas. "Yuk Za,"ucap Boy hanya menyapa Khanza padahal ada Salsa disamping Khanza saat itu.


Khanza menganggukkan kepalanya disertai senyuman kecil membalas sapaan Boy.


"Sialan tuh si Boy,"umpat Salsa didepan Khanza,kesal karena hanya Khanza yang disapa oleh Boy.


"Hush,,,"tegur Khanza.

__ADS_1


Salsa memutar matanya malas menanggapi teguran Khanza.


__ADS_2